Unnes Olah Sampah Daun Jadi Kompos

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Sampah daun yang dihasilkan dari lingkungan kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) mencapai 10,8 ton per hari. Angka tersebut didapatkan dari ribuan pohon yang tumbuh di kampus Unnes Sekaran Gunungpati, di lahan seluas lebih dari 60 hektare.

“Produksi sampah daun di Unnes kurang lebih 90 persen dari total sampah per hari, yang mencapai 12 ton. Sampah-sampah daun ini, berasal dari daun yang berguguran, daun kering, dari ribuan pohon yang ada di lingkungan kampus,” papar Kepala UPT Pengembangan Konservasi Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Dr Ir Amin Retnoningsih MSi, saat ditemui di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Unnes, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Rabu (9/6/2021).

Dipaparkan, sampah daun tersebut kemudian dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk kompos, di TPST Unnes Sekaran.

Kepala UPT Pengembangan Konservasi Unnes, Prof Amin Retnoningsih, didampingi Manajer TPST Hananiel, menunjukkan hasil olahan kompos dari daun , saat ditemui di TPST Sekaran, Gunungpati, Semarang, Rabu (9/6/2021). -Foto Arixc Ardana

“Sampah ini potensi untuk dikembangkan, diolah menjadi pupuk kompos. Seluruh prosesnya dilakukan di TPST Unnes. Hasilnya pun sudah kita rasakan. Pupuk kompos tersebut, selain digunakan di internal kampus,sebagai pupuk beragam tanaman yang ada di lingkungan Unnes, juga kita jual di berbagai wilayah di Jateng. Hasil pupuk kompos mencapai 1-3 ton per bulan,” terangnya.

Sementara, Manager TPST Unnes, Hananiel, menuturkan dalam proses pembuatan pupuk kompos, sampah daun kering yang sudah dikumpulkan, dirajang terlebih dulu dengan mesin pencacah.

“Selanjutnya daun yang sudah dicacah dimasukkan dalam bak kompos. Di dalam bak tersebut, daun kering dicampur dengan starter berupa EM4, yakni mikroorganisme hasil fermentasi dari bahan-bahan organik, yang fungsinya untuk merubah sampah daun tersebut menjadi kompos,” tandasnya.

Setelah proses fermentasi selesai, kompos tersebut kemudian diayak untuk didapatkan hasil yang lebih halus. “Selanjutnya dikemas dengan ukuran per 5 kilogram. Kemudian kita distribusikan kepada para pembeli. Selain dari internal kampus, juga kita jual ke pedagang tanaman di wilayah Semarang dan sekitarnya,” tandas Hananiel.

Lihat juga...