Usaha Tas Anyaman Plastik di Kota Batu Bertahan di Masa Pandemi

Editor: Koko Triarko

BATU – Kerajinan tas anyaman plastik menjadi salah satu usaha yang tetap mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19. Permintaan tas anyaman plastik dirasa masih cukup stabil walaupun ada sedikit penurunan. 

Kondisi tersebut dirasakan pasangan suami istri perajin tas anyaman plastik, Haryono dan Suparmi, di Dusun Rejoso, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Menurut mereka, pandemi Covid-19 tidak terlalu banyak mempengaruhi usaha yang sudah mereka tekuni sejak tiga tahun belakangan ini.

“Pandemi memang ada pengaruhnya, tapi tidak terlalu banyak. Pesanan juga masih lancar, meskipun ada sedikit penurunan,” akunya kepada Cendana News, Selasa (29/6/2021).

Haryono menunjukkan beberapa produk tas anyaman plastik buatannya di rumahnya, Selasa (29/6/2021). -Foto: Agus Nurchaliq

Diceritakan Suparmi, sebelum memiliki usaha sendiri, ia sebenarnya sempat lama menjadi buruh tas anyaman plastik di tempat lain. Namun seiring berjalannya waktu, ia bersama sang suami kemudian memiliki pemikiran untuk mulai membuka usaha tas anyaman plastik sendiri.

“Dulu, saya lama ikut orang sekitar 10 tahun. Kemudian iseng-iseng saya buat sendiri dan ternyata banyak orang yang cocok. Karena menurut mereka tas buatan saya kuat dan halus bikinannya,” ujar Suparmi.

Menurutnya, bagi yang sudah mahir, untuk menganyam tas anyaman ini hanya membutuhkan waktu 5-10 menit. Kemudian baru dilanjutkan dengan proses mengunci anyaman dan membuat tali pegangan.

Ditambahkan Haryono, di awal usahanya semua pesanan mereka berdua kerjakan sendiri, dibantu sang anak. Namun seiring makin bertambahnya jumlah pesanan, mereka mempekerjakan beberapa perajin sekitar untuk membantu membuat tas anyaman plastik.

“Karena permintaan makin banyak, jumlah pekerja saya tambah lagi. Total sekarang ada 10 orang pekerja yang berasal dari warga sekitar dan tetangga desa,” sebutnya.

Semua pengerjaannya dikerjakan di rumah perajin masing-masing. Mereka datang hanya ambil bahan-bahannya, kemudian dibawa pulang dan dikerjakan di rumah.

Disampaikan Haryono, setiap hari mereka bisa menghasilkan sekitar 50 tas anyaman plastik. Untuk pemasaran, ia merasa tidak mengalami kesulitan karena sudah ada pelanggannya yang langsung datang untuk mengambil tas anyaman buatannya.

“Kebanyakan orang beli tas anyaman plastik ini untuk tempat kue atau makanan saat ada acara hajatan. Atau bisa juga dijual lagi sebagai sovenir di tempat-tempat wisata,” ungkapnya.

Adapun harganya bervariasi, mulai dari Rp5-15 ribu tergantung ukuran. Kalau ingin yang ada motif gambar atau tulisannya, cukup tambah biaya Rp10 ribu.

“Omzetnya saat ini sekitar Rp10 juta per bulan. Pesanan sebenarnya banyak, tapi karena yang bikin kurang memadai, akhirnya terkadang pesanan terpaksa kami tolak,” pungkasnya.

Lihat juga...