Vaksinasi COVID-19, Dinilai Masih Mampu Menghadapi Varian Delta

Petugas medis memberikan suntikan vaksinasi kepada warga Pancoran yang diadakan oleh Polsek Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (9/6/2021) - foto Ant

YOGYAKARTA Vaksinasi COVID19, yang saat ini masih berlangsung di Indonesia, masih mampu memproteksi manusia dari paparan virus corona B.1.617.2 atau varian Delta.

“Dibandingkan yang tidak divaksinasi dengan yang sudah divaksinasi dosis pertama maupun dosis kedua, ternyata tetap ada efek protektifnya (terhadap varian Delta) secara umum,” kata Ketua Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Gunadi, dalam webinar, Varian Virus Corona Delta di Kudus: Kenali dan Tingkatkan Kesiapan Diri, Komunitas dan Sistem Pelayanan Kesehatan, Rabu (16/6/2021).

Menurutnya, merujuk penelitian di Inggris terhadap para penerima vaksin Pfizer maupun AstraZeneca, vaksinasi masih efektif menangkal varian Delta. Dosis kedua lebih efektif dalam upaya memberikan proteksi terhadap paparan varian Delta dibandingkan dosis pertama. “Tetapi dosis pertama, jauh lebih baik dibandingkan tanpa divaksinasi,” tandasnya.

Meski demikian, di sisi lain ia juga menyebut, varian Delta memiliki potensi menurunkan respons imun, kendati pasien telah divaksinasi COVID-19 baik pertama maupun kedua. “Setelah tiga bulan, vaksinasi kedua, beberapa pasien antibodinya betul-betul turun di bawah 40 konsentrasinya, sehingga ini dianggap implikasinya, apakah perlu diberikan booster di kemudian hari,” tandasnya.

Varian Delta, memiliki potensi menurunkan respons imun lebih tinggi dibandingkan SARS-CoV-2 varian alpha (B.1.1.7) yang pertama kali terdeteksi di Inggris. Meski menyerupai varian beta atau B1351, untuk kemampuannya menurunkan respons imun.

Berdasarkan faktor usia, semakin tua usia penderita, maka penurunan respon imun semakin besar. Diperlukan peningkatan kewaspadaan terhadap varian virus corona yang telah ditetapkan WHO menjadi Variant of Concern (VoC) pada 31 Mei 2021. Apalagi, varian ini terbukti memicu peningkatan kasus COVID-19 di Kudus, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

“Berdasarkan kalkulasi matematika para ahli menyimpulkan, transmisi varian Delta 41 sampai 60 persen lebih menular dibandingkan varian Alpha. Padahal varian Alpha dulu disebutkan 70 persen lebih transmisiable dibandingkan yang ada di Wuhan,” tandasnya.

Pakar Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad mengatakan, agar benar-benar aman dari transmisi COVID-19, diperlukan restriksi atau pembatasan mobilitas, setidaknya dua kali waktu periode infeksius atau sekitar tiga minggu.

Namun demikian, ketika kasus penularan sudah terjadi di banyak tempat, penghentian mobilitas skala mikro tidak akan mampu menurunkan penularan, karena penularan sudah terjadi di tempat-tempat lain. “Kalau penularan sudah meluas kita perlu menghentikan mobilitas di satuan wilayah epidemiologi di mana populasi berada,” ujar Riris. (Ant)

Lihat juga...