Warga Pesisir Lamsel Lakukan Berbagai Langkah dalam Hadapi Musim Timuran

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Musim timuran atau angin timur di pesisir Lampung Selatan jadi potensi penyebab abrasi. Gerusan akibat gelombang laut Jawa dan Selat Sunda secara terus menerus berimbas pergeseran dan merusak sebagian batu talud.

Rusli, warga Desa Sumur, Kecamatan Ketapang menyebutkan, penahan abrasi berupa talud dengan konstruksi batu telah ada namun, sebagian rusak. Masyarakat setempat mencoba memperbaiki dengan berbagai cara, termasuk pemasangan ban mobil bekas yang disusun pada bagian bibir pantai.

Penguatan konstruksi penahan abrasi juga ditambah dengan tanaman pantai, seperti kelapa, waru laut, ketapang, kemiri laut dan pidada, salah satu jenis mangrove. Pada bagian pantai yang berpasir, penanaman kangkung laut meredam tergerusnya pasir oleh gelombang.

“Keberadaan kangkung laut dan juga melati pantai jadi pelindung bibit tanaman agar perakaran kuat hingga tumbuh besar, cara tersebut cukup sederhana namun terbukti bisa menahan laju abrasi oleh air laut saat pasang dan berbagai tanaman tepi pantai menahan angin musim timuran,” terang Rusli saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (23/6/2021).

Potensi musim angin timuran pada kerusakan pantai sebut Rusli jadi fase yang dipahami nelayan. Saat fase musim angin timuran ombak dan gelombang bersifat merusak atau destruktif. Ciri utamanya gelombang menggerus pasir ditandai akar tanaman pohon yang rusak bahkan sebagian tumbang.

Sebagian rumah warga di dekat pantai Pedada, Desa Sumur sebut Rusli terkena abrasi. Perbaikan pada bagian pondasi dilakukan saat angin selatan untuk memudahkan pemasangan talud.

“Penanaman bibit kayu dilakukan saat kemarau agar bisa tumbuh hingga perakaran kuat menahan gerusan kala banjir,” ulasnya.

Upaya pencegahan abrasi juga dilakukan Tanit, warga di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang. Pemanfaatan ban bekas jadi solusi darurat meski harus diiringi dengan penanaman bibit tanaman kayu.

Ban mobil bekas dipasang oleh sebagian warga dengan cara ditahan memakai tonggak kayu. Tahap selanjutnya diisi pasir dan kerikil. Warga memakai jenis kayu waru laut yang bisa berakar dan tumbuh memperkuat konstruksi ban bekas.

Pemasangan ban mobil bekas dilakukan Tanit, warga Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan untuk menanan abrasi, Rabu (23/6/2021). Foto: Henk Widi

Pembuatan talud, bronjong pada tepi pantai Legundi diperkuat dengan kawat. Meski memakai penahan ombak dari ban bekas, Tanit mengaku penanaman bibit pohon yang cocok tumbuh di kawasan berpasir mutlak dilakukan.

“Tanaman yang belum memiliki perakaran kuat harus ditimbun memakai batu dan kerikil agar tidak tergerus ombak,” tegas Tanit.

Mengurangi resiko abrasi hingga angin kencang musim Timuran juga dilakukan Amran Hadi dan Basroni. Amran Hadi menyebut keberadaan pantai Legundi yang menghadap laut Jawa dan Selat Sunda berpotensi abrasi. Redam gelombang yang menerjang pantai, pemasangan tiang pancang di pesisir pantai jadi alternatif. Fungsi tiang pancang sekaligus jadi media budidaya kerang hijau.

Solusi lain yang terus digencarkan bagi warga pesisir sebut Hasran Hadi dengan tanaman pohon kayu keras. Pada wilayah tersebut jenis tanaman jambu bol, mangga, jambu air dan pinang. Berbagai jenis pohon itu menjadi penahan angin kencang saat musim angin timuran.

Lihat juga...