Waste4Change Ajak Warga Bekasi Manfaatkan Minyak Jelantah di Masa Sulit

Editor: Koko Triarko

Founder & Managing Director Waste4Change, Mohamad Bijaksana Junerosano, kembali mengingatkan jelantah bisa menjadi penggerak ekonomi rakyat, Selasa (29/6/2021). –Foto: M Amin

BEKASI – Dalam kondisi sulit di tengah pandemi Covid-19 saat ini, Founder & Managing Director Waste4Change, Mohamad Bijaksana Junerosano, mengajak semua elemen, terutama ibu rumah tangga di Kota Bekasi, Jawa Barat, untuk memanfaatkan minyak jelantah yang bisa menjadi bernilai ekonomis. 

Ia mengatakan, pemanfaatan minyak jelantah untuk bahan biodiesel telah banyak diimplementasikan di berbagai tempat. Upaya ini dilakukan oleh berbagai pihak dan untuk di Kota Bekasi, salah satunya adalah Waste4Change concern, mengajak warga bahkan dengan cara menggandeng pemerintah setempat.

“Jelantah ini bisa menjadi penggerak ekonomi rakyat. Karena dari setiap jelantah yang dikumpulkan bernilai ekonomi, dan ini sekaligus mengatasi permasalahan lingkungan. Kami sudah buktikan pada  Februari-Maret 2021, telah terkumpul sekitar 8 ton minyak jelantah dari Kota Bekasi,” ungkap Junerosano, Selasa (29/6/2021).

Dikatakan, minyak jelantah yang terkumpul tersebut diekspor ke Eropa, selanjutnya diolah menjadi biodiesel. Namun, mengingat hal ini dianggap sepele, maka harus rutin melakukan sosialisasi, terutama kepada ibu rumah tangga yang banyak mengurusi persoalan dapur.

Menurutnya, dengan adanya edukasi secara berkelanjutan melalui program khusus ‘Bijak Kelola Jelantah’ di tengah masyarakat, ia optimis Kota Bekasi bisa menjadi contoh bagi kota-kota lainnya.

“Kami secara berkala melakukan edukasi bersama Forkopimda Kota Bekasi, edukasi lebih lanjut mengenai program Bijak Kelola Jelantah Kota Bekasi juga akan melibatkan Bank Sampah Induk Patriot. Detail program pengumpulan sampah jelantah Pemkot Bekasi dan Waste4Change,” tandasnya.

Ujung tombak dalam pemanfaatan minyak jelantah menjadi nilai ekonomi ada di tingkat RT/RW, bagaimana mereka sukses mengajak warganya melalui penjelasan dengan menawarkan nilai ekonomis bagi setiap kilogram jelantah yang dikumpulkan dan dititipkan.

“Detail lebih lanjutnya bisa ditanyakan kepada petugas RW tempat berdomisili. Sebagai catatan tambahan, harga jelantah dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar,” jelasnya.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, ikut menggerakkan warga mengikuti program pengumpulan minyak jelantah dari rumah tangga. Ia menilai, pengelolaan minyak jelantah belum maksimal dan banyak yang masih belum teredukasi.

“Harus diakui pengelolaan jelantah belum maksimal, masih banyak yang belum teredukasi. Tapi di balik itu, ada potensi yang bisa dihasilkan, karena minyak ini bisa diolah jadi biodisel kalau sudah paham caranya,” papar Adhianto.

Pemkot Bekasi, jelasnya, telah  melihat potensi jelantah memberi nilai ekonomi sejak awal tahun lalu, bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 21 Februari 2021, dengan mengumumkan program pengumpulan minyak jelantah oleh masyarakat bersama was4change.

Selain nilai ekonomi, program itu juga bagian dari upaya untuk meminimalisir limbah minyak jelantah yangdibuang ke lingkungan.

“Makanya kita ajak temen-temen dari waste4change yang sudah paham persoalan ini. Sehingga ini jadi langkah konkrit pemerintah Kota Bekasi untuk makin menjaga kelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ucapnya.

Melalui program itu juga, dalam proses pengumpulan minyak jelantah ini setiap RW akan mendapatkan fasilitas penampungan berupa jerigen yang diberikan oleh Waste4change. Selanjutnya, setiap jerigen yang telah terkumpul penuh minyak jelantah akan mendapatkan insentif dari pihak Waste4Change.

“Saya imbau bukan hanya pada camat, lurah, aparat pemerintah, dan bank sampah, tapi seluruh bagian masyarakat Kota Bekasi dapat mendukung kesuksesan program pengumpulan sampah minyak jelantah ini,” tegas Mas Tri, berharap program itu menjadi awal bijak dalam mengelola sampah.

Lihat juga...