Yayasan Damandiri dan Warga DCML Samiran Boyolali Berdialog Membahas Solusi Pemenuhan Air Bersih

Editor: Maha Deva

BOYOLALI  Jajaran pengurus pusat Yayasan Damandiri, menggelar acara ramah tamah dan dialog dengan sejumlah elemen masyarakat di Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) Samiran, Selo, Boyolali Jawa Tengah, Sabtu (12/06/2021) siang. 

Selain dihadiri pengurus Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Samiran, acara dialog tersebut juga diikuti sejumlah warga penerima manfaat unit usaha simpan pinjam Modal Kita, pengelola homestay kampung Damandiri, hingga pemangku kepentingan setempat, baik itu kepala desa Samiran maupun Camat Selo.

Dialog membahas berbagai program pemberdayaan, yang telah dijalankan Yayasan Damandiri sejak 2017. Pada acara yang dipimpin langsung Ketua Yayasan Damandiri, Letjen (Purn) Soegiono, dibahas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat DCML Samiran, maupun warga Selo pada umumnya.

Sekretaris umum Yayasan Damandiri yang juga Cucu Presiden Soeharto, Retnosari Widowati Harjojudanto atau yang lebih dikenal sebagai Eno Sigit menyerahkan bantuan sembako pada warga masyarakat di Desa Samiran Selo Boyolali Jawa Tengah Sabtu (12/06/2021) – foto Jatmika H Kusmargana

Manager Umum Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Samiran, Bayu Pramana menyebut, hingga saat ini salah satu persoalan utama DCML Samiran di sektor pengembangan pariwisata adalah ketersediaan air bersih. Minimnya sumber air bersih, membuat sebagian masyarakat di kawasan Selo harus mengeluarkan biaya lebih untuk membeli air. Hal itu akan dialami khususnya setiap musim kemarau.

“Minimnya ketersediaan air bersih setiap musim kemarau membuat masyarakat disini cukup kesulitan. Hal ini dirasakan hampir oleh semua lapisan masyarakat. Baik itu petani, pedagang maupun pelaku wisata. Mau tidak mau, ya harus membeli. Sehingga kita berharap mendapatkan solusi terbaik dari semua pihak,” katanya.

Camat Selo, Joko Prihanto, tak menampik adanya persoalan ketersediaan air bersih tersebut. Ia menyebut, persoalan ketersediaan air bersih di setiap kemarau, sudah lama terjadi. Penyebabnya tak lain karena tidak adanya sumber mata air yang mencukupi, untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga di kecamatan Selo.

Pengurus Yayasan Damandiri dan elemen warga di DCML Samiran, Selo Boyolali sebelum mengikuti acara dialog di Selo, Boyolali Jawa Tengah, Sabtu (12/06/2021) siang – foto Jatmika H Kusmargana

“Wilayah kecamatan Selo ini cukup unik. Karena meski terletak di kawasan lereng pegunungan, namun selalu kesulitan air bersih di setiap musim kemarau. Terus terang, kita pemerintah tingkat desa maupun kecamatan belum menemukan solusi untuk mengatasi persoalan ini. Sebab membutuhkan biaya sangat besar. Hanya pemerintah di tingkat kabupaten, provinsi maupun pusat saja yang mampu menyelesaikannya,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, melalui berbagai usulan yang telah disampaikan, pemerintah tingkat kabupaten disebutnya, telah berupaya mengatasi persoalan ketersediaan tersebut dengan membangun Embung Manajar, yang terletak di Dusun Manajar.

Namun upaya ini dinilai belum cukup mengatasi persoalan ketersediaan air bersih di seluruh wilayah Selo.  “Embung Manajar ini hanya mampu menampung air untuk keperluan pengairan di sektor pertanian saja. Itupun hanya sebatas di wilayah Manajar dan sekitarnya. Sementara untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi seluruh warga, tentu belum bisa dilakukan,” tandasnya.

Menanggapi hal ini, pengawas Yayasan Damandiri, Fuad Bawazier, melontarkan ide pemanfaatan teknologi terbaru, berupa pompa tanpa listrik untuk mengalirkan sumber air di daerah yang posisinya rendah ke daerah yang lebih tinggi. Upaya ini dinilai dapat menjadi salah satu alternatif solusi untuk mengatasi persoalan ketersediaan air bersih di wilayah Selo dan sekitarnya.  “Jika memang memungkinkan, teknologi ini mungkin bisa diujicobakan disini. Kita akan upayakan membantu. Karena terakhir, teknologi ini juga sedang diujicobakan di wilayah NTT dan Bali,” pungkasnya.

Lihat juga...