24 Ekor Sapi Kurban Keluarga Cendana Terjamin Aman dan Halal

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Sebanyak 24 ekor sapi kurban dari Keluarga Cendana telah melewati pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta.  Sehingga, daging hewan kurban tersebut terjamin keamanan dan kehalalannya untuk dikonsumsi masyarakat.

“Hewan kurban dari Keluarga Pak Harto (Presiden Soeharto -red) atau Keluarga Cendana, sudah ada surat kesehatan dari Dinas KPKP DKI Jakarta, serta juga dari Tapos dan Humpuss. Jadi, ke 24 ekor sapi ini sudah dinyatakan sehat, sehingga dagingnya tidak khawatir untuk dibagikan kepada masyarakat,” ujar Ketua Panitia Kurban Masjid Agung At-Tin, Ustad Zaini, kepada Cendana News, saat ditemui di lokasi pemotongan hewan kurban di Masjid Agung At-Tin, Jakarta Timur, Selasa (20/7/2021).

Sementara itu paramedis veteriner Dinas KPKP DKI Jakarta, Yayat Sukayat, mengatakan ada dua pemeriksaan yang dilakukan, yaitu antemortem, meliputi pemeriksaan perilaku dan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan antemortem ini dilakukan sebelum hewan kurban tersebut dipotong. Terkait 24 ekor sapi dari keluarga Cendana, pihaknya telah melakukan pemeriksaan antemortem pada Senin (19/7/2021) di area pemotongan Masjid Agung At-Tin.

“Hasil pemeriksaan antemortem, alhamdulillah tidak ada hal-hal yang dikhawatirkan dari 24 ekor sapi kurban dari Keluarga Cendana ini,  terutama yang menyangkut penyakit zoonosis,” ujar Yayat kepada Cendana News, di area pemotongan.

Dikatakan dia, penyakit zoonosis adalah penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya, seperti antraks yang selama ini sangat dikhawatirkan.

“Jadi, setelah melalui proses pemeriksaan antemortem dinyatakan sehat, hewan kurban itu boleh dipotong,” ujarnya.

Setelah hewan dipotong, kemudian dilakukan pemeriksaan postmortem dengan teliti bagian rongga dada, seperti hati, paru, jantung, dan limpa.

“Nah, dari hasil pemeriksaan masih hidup bisa dimungkinkan hewan itu tidak ada gejala, tapi kita bisa lihat dari hasil pemeriksaan postmortem setelah hewan dipotong. Contoh seperti penyakit cacing hati atau chlonorchiasis. Biasanya hidupnya itu tidak kelihatan, tapi ternyata setelah hatinya dibuka,ada cacing hatinya, pipih bentuknya,” jelas Yayat.

Menurut dia, sebenarnya penyakit ini tidak menular, tapi tidak layak untuk dikonsumsi hati hewan kurban tersebut. Namun dagingnya masih layak dikonsumsi, sepanjang tidak ada bekas luka.

Pemeriksaan postmortem selanjutnya adalah pada paru-paru yang kerap kali terdapat penyakit pneumonia. Penyakit ini ditandai ada pengerasan di paru-paru hewan. Selanjutnya limpa, yang menentukan sapi itu kena penyakit antraks atau tidak.

“Nah, kalau ada pembengkakan terhadap limpa itu patut dicurigai,  dan dagingnya serta semua isinya jangan diapa-apain. Karena secara kasat mata, bahwa ini terduga antraks karena limpanya bengkak,” tukasnya.

Sehingga, menurutnya perlu pemeriksaan lebih lanjut melalui laboratorium pelayanan kesehatan hewan. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah hewan kurban tersebut kena penyakit antraks atau tidak.

“Tapi, rata-rata kalau sudah  limpa bengkak bernanah, itu pasti hewannya kena penyakit antraks. Maka, tahan dulu dagingnya langsung dipisahkan, karena harus dimusnahkan dibakar dan dikubur,” ujar Yayat.

Sedangkan pemeriksaan jantung pada daging hewan kurban, menurutnya hanya terkait pembekuan darah.

Dengan dua proses pemeriksaan sebelum hewan kurban dipotong dan setelah dipotong, kata Yayat, bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat khususnya yang mengkonsumsi daging kurban. Agar mereka tidak terjangkit penyakit zoonosis atau penyakit antraks.

“Alhamdulillah, hewan kurban di Masjid Agung At-Tin ini dalam keadaan sehat semua, dan dagingnya layak dibagikan untuk dikonsumsi masyarakat,” ucap Yayat.

Sehingga, jelasnya lagi, pada saat pemotongan dipastikan sapi-sapi tersebut tidak stres, karena dalam keadaan sehat. Bahkan, hasil pemeriksaan jeroannya, utamanya di jantung  tidak terdapat penimbunan darah. Jadi, jantungnya itu bersih dari darah, begitu juga paru-paru dan limpa.

Kembali Yayat menegaskan, untuk menjamin keamanan pangan yang aman, sehat  utuh dan halal, pihaknya melaksanakan  pemeriksaan secara seksama, yaitu antemortem dan postmortem untuk pemotongan hewan kurban.

Dia juga menilai, pemotongan hewan kurban di Masjid At-Tin ini, telah menggunakan alat atau mesin pada saat memotong tulang dan dagingnya. Dan, semua dipisahkan dengan tertata rapi, sehingga memudahkan untuk dimasukkan ke dalam plastik berjenis food grade yang disarankan oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup.

Dalam pembuangan limbah kotoran hewan kurban, juga prosesnya sudah bagus. Yakni, limbah disiram langsung dengan air dan masuk langsung ke saluran air.

“Untuk proses pemotongan hewan kurban ini juga telah mematuhi protokol kesehatan (Prokes). Semua petugasnya memakai masker, menjaga jarak, dan di lokasi ini juga tersedia tempat cuci tangan serta hand sanitizer,” pungkasnya.

Lihat juga...