Agustus hingga September, Karhutla di Kapuas Hulu Diprakirakan Mencapai Puncak 

Ilustrasi.Pangdam XII/Tanjungpura, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad (depan) bersama Kapolda Kalbar, Irjen Pol R Sigid Tri Hardjanto (tengah) mengendarai sepeda motor meninjau langsung sejumlah lokasi kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (28/2/2021) - Foto Ant
PUTUSSIBAU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kapuas Hulu mencatat, saat ini ada 51 desa yang tersebar di 19 kecamatan, di wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar), rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kebakaran tersebut diperkirakan akan memuncak pada Agustus hingga September 2021 mendatang.

“Saat ini di Kapuas Hulu sudah memasuki musim kemarau, bahkan sudah terjadi Karhutla yang terjadi pada sejumlah lahan masyarakat,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kapuas Hulu, Lugit, Sabtu (31/7/2021).
Karhutla, biasa memuncak pada Agustus hingga September, yang menjadi musim pembakaran lahan pertanian secara tradisional (Ladang). Sementara, di sejumlah desa wilayah Kapuas Hulu, saat ini Karhutla sudah terjadi.
Dalam penanggulangan Karhutla, saat ini sudah ada posko siaga di BPBD Kapuas Hulu. Dan juga dilakukan patroli, yang melibatkan sejumlah pihak termasuk relawan bencana seperti TRC Pramuka, Tagana Kapuas Hulu dan tim gabungan lainnya seperti TNI, Polri dan Sat Pol PP. Termasuk pihak Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum Kapuas Hulu. “Dalam sebulan ini, sudah beberapa kali terjadi Karhutla, tetapi bisa dipadamkan, terutama di daerah lahan gambut di Kecamatan Kalis,” jelas Lugit
Ia berharap, semua pihak dapat turut serta dan bersinergi dalam mencegah, mengantisipasi serta menanggulangi Karhutla. “Sosialisasi, imbauan bahkan pelatihan dalam rangka pencegahan dan penanggulangan Karhutla sudah kami lakukan, bahkan ke tingkat desa, kami mengajak pihak desa dan kecamatan gencar melakukan sosialisasi terkait Karhutla,” pinta Lugit
Agar tidak terjadi Karhutla, saat pembakaran lahan pertanian (Ladang) masyarakat wajib melaporkan kepada aparatur desa, yang kemudian nantinya akan melibatkan tim gabungan bersama-sama menjaga ,selama terjadi pembakaran lahan sesuai luas yang ditentukan dalam Pergub dan Perbup. “Untuk ladang itu sudah ada aturannya, kami berharap para Kades dan camat untuk selalu bersama-sama sosialisasi ke masyarakat, kami juga minta kesadaran masyarakat untuk sama-sama mengantisipasi agar tidak terjadi Karhutla,” pungkas Lugit. (Ant)
Lihat juga...