Air Kelapa Hijau, Meredakan Sakit Kepala dan Mual Penderita COVID-19

Editor: Maha Deva

Dosen Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Tri Wuryaningsih, yang saat ini sudah sembuh dari COVID-19, setelah menjalani isolasi mandiri selama 12 hari, Sabtu (17/7/2021). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

PURWOKERTO – Di tengah tingginya angka penambahan jumlah konfirmasi positif COVID-19, isolasi mandiri menjadi pilihan terbaik bagi penderita yang tidak disertai kormobid. Banyak cerita menarik yang mendukung kesembuhan mereka pelaku isolasi mandiri, di luar obat medis, salah satunya adalah air kelapa hijau.

Dosen Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Tri Wuryaningsih menjadi salah satu saksi yang menyebut, air kelapa hijau yang dicambur dengan garam himalaya, mampu meredakan sakit kepala serta mual-mual yang dialaminya. Tri Wuryaningsih menjalani isolasi mandiri, setelah terkonfirmasi positif terinfeksi COVID-19 baru-baru ini.

“Saya tidak mempunyai penyakit pemberat, tetapi saat positif COVID-19 kemarin, kepala rasanya sakit sekali dan ini baru pernah saya alami. Ditambah dengan rasa mual, yang sampai muntah-muntah. Ada teman yang menyarankan untuk meminum air kelapa hijau dicampur dengan garam himalaya dua sendok teh dan ternyata sakit kepala saya langsung mereda, begitupun dengan rasa mual-mualnya. Itu saya alami pada hari ke tiga isolasi di rumah, obat sakit kepala saja tidak bisa meredakan sakit,” tutur Triwur, sapaan Tri Wuryaningsih, Sabtu (17/7/2021).

Cerita awal terpapar COVID-19, Triwur sama sekali tidak tahu, dari mana bisa tertular. Sebagai akademisi, yang banyak mengetahui informasi, Triwur selalu bersikap sangat hati-hati, selalu menggunakan masker dobel, mencuci tangan dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan.

Namun, aktivitasnya sebagai dosen sekaligus tokoh masyarakat di Kabupaten Banyumas, seringkali mengharuskannya untuk menghadiri acara non virtual. Saat ia menjadi narasumber, meskipun dengan jumlah kehadiran massa yang sangat dibatasi. Namun, makan atau minimal minum di lokasi terkadang tidak bisa dihindari.

Setelah divonis positif COVID-19, Triwur menjalani isolasi mandiri selama 12 hari. Ia melapor ke pengurus Rukun Tetangga (RT) dan kemudian petugas dari Puskesmas datang, untuk melakukan pemeriksaan. “Saat dinyatakan positif COVID-19, saya langsung memberitahukan teman-teman, saya umumkan juga di beberapa grup whatshaap, supaya orang-orang yang kemarin sempat berinteraksi dengan saya, segera memeriksakan diri, untuk mencegah penyebaran virus intinya,” kata ibu dua anak tersebut.

Dukungan dari teman, saudara serta tetangga sangat dirasakan Triwur saat ia melakukan isolasi di rumah. Banyak yang mengirim makanan, hingga vitamin dan obat-obatan. Teman-temannya dari kalangan dokter, mengirimkan beberapa jenis vitamin serta obat, ada juga yang memberikan madu, susu, serta berbagai macam makanan dan buah-buahan.

“Hari ketiga itu yang saya rasakan sangat berat, sakit kepala luar biasa, sampai saya hanya bisa berjalan merangkak, padahal saya tidak mempunyai riwayat sakit kepala, tidak juga mengalami batuk dan flu dan indra penciuman juga tidak hilang,” katanya.

Saat ini, kondisi Triwur sudah dinyatakan sembuh, dan sudah bisa beraktivitas normal kembali. Sementara itu, salah satu teman Triwur yang selalu memberikan suport, Aan Rohaeni menyatakan, dukungan bagi teman yang terpapar COVID-19 sangat diperlukan.

Bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan makan saja, tetapi juga dukungan untuk menguatkan mental dan hati. “Bu Triwur itu orang yang sangat tertib dan disiplin, saya juga heran, ternyata bisa terpapar COVID-19, ini menunjukan kalau COVID-19 bisa menyerang siapa saja, jadi lebih baik bersikap lebih berhati-hati dan selalu patuhi protokol kesehatan,” pungkasnya.

Lihat juga...