AJI Bandar Lampung Minta Pemerintah Hindari Jumpa Pers Tatap Muka

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Organisasi profesi jurnalis, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung meminta pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi Lampung, termasuk institusi penegak hukum, menghindari jumpa pers secara tatap muka. Langkah ini sebagai upaya memutus rantai penyebaran virus corona atau Covid-19 yang memperlihatkan tren lonjakan kasus di sejumlah daerah.

Ketua AJI Bandar Lampung, Hendry Sihaloho mengatakan, secara nasional, kasus Covid-19 meningkat dengan tajam. Di provinsi Lampung, sebanyak 306 orang terkonfirmasi positif Covid-19 pada Senin ( 5 Juli 2021).  Sebelumnya, tercatat 22.730 orang dinyatakan positif Covid-19. Dengan demikian, total pasien Covid-19 di Lampung mencapai 23.036 orang.

Sesuai data resmi dari instansi berwenang pada Senin, 18 orang meninggal. Bila dijumlahkan dengan sebelumnya, maka total 1.259 kasus kematian. Adapun tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate) sejumlah rumah sakit rujukan di Lampung mencapai 50 persen.

“Kondisi faktual itu seyogianya menjadi pertimbangan. Kami menerima laporan bahwa pemerintah setempat masih mengadakan konferensi pers secara tatap muka. Bahkan, wali kota relatif sering mengajak wartawan untuk meliput agenda-agenda yang bertatap muka, di mana sebaiknya dihindari,” kata Hendry Sihaloho dalam keterangan tertulis yang diterima Cendana News, Selasa (6/7/2021).

Menurutnya, jumpa pers atau press conference dengan model tatap muka bisa diganti dengan streaming atau virtual/daring. Jumpa pers tatap muka hanya dilakukan dalam kondisi mendesak. Pun demikian dengan wawancara secara doorstop yang kerap dilakukan oleh sejumlah pihak berwenang.

“Sebaiknya menghindari wawancara doorstop yang membuat jurnalis berdekatan dengan narasumber dan jurnalis lain. Bila pun mesti dilakukan, jurnalis harus mengetatkan protokol keamanan peliputan,” ujarnya.

Hendry Sihaloho juga mengingatkan perusahaan media memerhatikan keselamatan para jurnalis dalam tugas peliputan. Misal, menyediakan alat pelindung diri (APD) dan fasilitas tes rapid dan tes swab/PCR kepada jurnalisnya. Pada masa krisis kesehatan seperti pandemi Covid-19, jurnalis memainkan peran kunci dalam menyediakan informasi yang akurat bagi publik. Apalagi di tengah menyebarnya infodemik, kehadiran jurnalis dibutuhkan untuk menyediakan berita sesuai fakta dan berbasis sains.

Sayangnya, tidak seluruh jurnalis mendapatkan dukungan memadai dari tempatnya bekerja. Hasil riset AJI pada November 2020 yang menyasar 700-an jurnalis se-Indonesia, sebanyak 37,1 persen responden mengaku tidak mendapatkan alat pelindung diri. Selain itu, 63,8 persen responden tidak mendapatkan fasilitas layanan tes cepat dan tes swab/PCR.

Kondisi ini menyebabkan jurnalis menjadi salah satu pihak paling rentan terinfeksi Covid-19. Pendataan AJI sepanjang Maret 2020 hingga 5 Juli 2021, terdapat 388 jurnalis yang terinfeksi Covid-19. Dari jumlah tersebut, sebanyak sembilan jurnalis meninggal dunia.

“Sebagai pemberi kerja, perusahaan media bertanggung jawab atas keselamatan para jurnalisnya. Tanggung jawab itu mesti dijalankan dengan optimal,” kata Hendry.

Upaya menjaga keselamatan saat tugas jurnalistik dilakukan oleh sejumlah jurnalis. Jupri, salah satu jurnalis yang bertugas di Lampung Selatan untuk salah satu televisi nasional mengaku telah menerima vaksin Sinovac tahap pertama. Meski demikian edukasi telah diperolehnya dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia tetap menerapkan protokol kesehatan saat melakukan tugas liputan.

“Memakai masker, membawa hand sanitizer dan jika terpaksa maka setelah liputan wajib mandi dan berganti pakaian,”ulasnya.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, Hendry Sihaloho (kanan) saat dihubungi, Selasa (6/7/2021). Foto: Henk Widi

Mendapat tugas meliput di pelabuhan Bakauheni juga dialami oleh Tengku. Ia menyebut saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, kerentanan meliput di pelabuhan Bakauheni tinggi. Ia harus berdekatan dengan pejabat daerah yang memantau kondisi pelabuhan, calon penumpang dari Sumatera tujuan Jawa. Sebelum naik kapal pelaku perjalananan sebutnya wajib membawa surat negatif Covid-19.

Fasilitas dari perusahaan tempat bekerja sebutnya dengan upah diterima sebutnya bisa dipakai untuk alat pelindung diri. Alat pelindung diri berupa masker dilengkapi olehnya secara pribadi dengan membeli hand sanitizer. Upaya menjaga kesehatan sebutnya dilakukan dengan tetap mengonsumsi makanan sehat selama pandemi. Langkah itu dilakukan untuk meminimalisir kondisi badan kurang fit selama bertugas.

Lihat juga...