Alam Akan Beri Hukuman pada Negara tak Jaga Iklim

Editor: Koko Triarko

Pengamat Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Dr. Mahawan Karuniasa, menegaskan menjaga alam artinya menjaga eksistensi manusia, dalam acara online, Rabu (21/7/2021). –Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Banyak pihak yang mempertanyakan terkait sanksi pada suatu negara, jika tidak mencapai target sesuai kesepakatan internasional dalam hal penjagaan iklim. Kenyataannya, tak perlu ada sanksi karena alam sendirilah yang akan memberikan hukuman.

Pengamat Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Dr. Mahawan Karuniasa, menyatakan komitmen menjaga iklim dunia merupakan upaya menjaga eksistensi manusia di Bumi.

“Ini bukan bicara tentang sanksi kalau tidak melakukan. Tapi, dampak yang secara otomatis terjadi saat ada peningkatan suhu Bumi. Tidak perlu sanksi tertulis, karena alam sudah memberikannya secara langsung jika manusia tidak mau berubah,” kata Mahawan, dalam acara online, Rabu (21/7/2021).

Ia menyebutkan, sebagai contoh adalah Indonesia yang sudah mengalami dampak perubahan iklim.

Pengamat Indonesia Research Institute for Decarbonization (IRID), Moekti Handajani Soejachmoen (Kuki Soejachmoen), menjelaskan target COP 26 Glasgow, dalam acara online, Rabu (21/7/2021). –Foto: Ranny Supusepa

“Indonesia sudah mengalami peningkatan bencana hidrometeorologis sebanyak 29 kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 2000. Bukan hanya bicara bencana atau longsor saja, tapi kita bicara tentang pola tanam yang berkaitan dengan ketahanan pangan,” ucapnya.

Memang, diakui olehnya mitigasi perubahan iklim harusnya memiliki dampak positif bagi masyarakat sekitar. “Faktanya memang dampak perubahan iklim ini tidak adil. Masyarakat miskin, negara yang belum berkembang atau negara berkembang kecil memang memiliki resiliensi yang lebih rendah dibandingkan negara maju yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi,” ucapnya.

Karena itu, dalam upaya mencapai perubahan iklim ini diterapkan evaluasi periodik dan transparansi. “Intinya, perubahan iklim ini kan merupakan indikasi, bahwa pembangunan yang kita lakukan ini tidak selaras dengan alam. Jadi, manfaatnya jika kita menjaga alam, alam akan menjaga kita. Less species, more disease, itu nyata,” tandasnya.

Pengamat Indonesia Research Institute for Decarbonization (IRID), Moekti Handajani Soejachmoen, menyatakan dalam COP 26 Glasgow yang akan dihelat pada November 2021, ada beberapa target yang ingin dicapai.

“Pertama, mengamankan angka emisi dan menjaga agar peningkatan suhu tak melebihi 1,5 derajat. Langkahnya dengan menetapkan target yang lebih ambisius untuk 2030 melalui percepatan phase out batu bara, mengatasi deforestasi, pemanfaatan kendaraan listrik dan mendorong investasi di energi terbarukan,” kata Kuki, demikian ia akrab dipanggil.

Ia menyebutkan, target ke dua adalah dilakukannya langkah adaptasi untuk melindungi komunitas dan habitat alami.

“Diperlukan proteksi dan restorasi ekosistem, pengembangan sistem pertahanan terhadap dampak perubahan iklim serta pengembangan warning system, pengembangan infrastruktur dan sistem pertanian yang berketahanan pada perubahan iklim,” ujarnya.

Target ke tiga adalah mobilisasi finansial untuk memastikan pemenuhan pendanaan iklim oleh negara maju hingga 100 miliar dolar, yang harusnya tercapai pada 2020 lalu, dan memastikan peran institusi keuangan internasional serta sumber pendanaan privat dan publik.

“Dan, target ke empat adalah sepakat untuk bekerja bersama untuk memastikan finalisasi Katowice Rulebook dan akselerasi aksi iklim nelalui kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat publik,” pungkasnya.

Lihat juga...