Anjing Hitam Mak Wo

CERPEN INUNG SETYAMI

MAK Wo gelisah mencari anjing hitam kesayangannya. Sudah tiga hari, wanita itu tak menjumpai anjing kesayangannya.

Ia terus mencari, tak juga ia temukan Sureng, anjing hitamnya. Wanita itu menamainya Sureng alias Asu Ireng lantaran seluruh tubuhnya hitam legam, mirip kucing condromowo atau ayam cemani.

Mak Wo terasa sepi tanpa Sureng. Ketiadaan Sureng mampu begitu mudahnya merenggut hari-hari gembiraanya yang sederhana.

Biasanya Sureng akan mengantar dan menungguinya mencari daun-daunan dan rotan di hutan. Menemaninya juga ketika ia bercocok tanam. Sureng tak pernah alpa membersamainya setiap waktu.

Mak Wo yakin, anjing itu tidak mati, selama ini Sureng sehat-sehat saja. Tidak ada binatang yang berani mengganggunya bahkan termasuk buaya.

Jika Sureng sakit, anjing itu akan memilih meringkuk di tempat tidurnya. Baginya, Sureng anjing yang cukup pintar. Mak Wo sangat menyayanginya. Membesarkannya seperti membesarkan bayi, menjaganya dengan hati-hati.

Makanan enak selalu diberikan untuk anjingnya. Semisal ia punya sepotong ayam hutan yang ia panggang, ia akan memakan sebagian saja, sebagian lagi diberikan kepada Sureng.

Anjing itu, dua tahun lalu ia temukan di semak-semak, dengan kaki terluka parah, berdarah, patah. Anjing itu meringkuk, sepertinya tak bisa lagi membawa tubuhnya dengan kaki terluka.

Ada bekas gigitan yang menganga di kakinya. Bisa jadi karena gigitan buaya muara, saat anjing kecil itu turun ke sungai karena kehausan. Kelincahan dan kesigapannya, membuat anjing kecil itu selamat, meski kemudian ia terkapar tak berdaya.

Menyisakan napasnya tinggal sepenggal-sepenggal. Mak Wo memungutnya, anjing kecil itu menggeliat. Sorot matanya kuyu. Ia menggonggong tersengal-sengal. Serupa tak ada lagi keinginan hidup.

Mak Wo membawa pulang anjing kecil itu. Membersihkan bulu-bulu halusnya yang telah bercampur tanah liat.

Mengobati luka-luka di kakinya dengan tumbukan daun-daunan di hutan. Obat tradisional warisan turun-temurun yang ia kuasai, membuatnya dikenal sebagai pengobat oleh para tetangganya.

Kali ini ia ingin berhenti melakukan aktivitasnya di hutan, mencari dedaunan untuk obat atau pun kayu bakar dan rotan untuk anyaman. Ia akan mencari keberadaan Sureng.

Ia berjalan menyusuri hutan, kesedihannya kian membasah, serupa air matanya yang berlinangan. Memang, orang akan menganggapnya sebagai hal yang berlebihan, jika kehilangan anjing harus ditangisi, namun tidak bagi Mak Wo.

Ini rasanya jauh lebih menyakitkan saat kehilangan seseorang yang ia harapkan selalu berada di sisinya. Dalam kesendiriannya melakukan perjalanan itu, wajah mantan suaminya melintas tiba-tiba, datang dan pergi, seperti slide dalam drama pertunjukan.

Memang ia memilih tak ingin mengingat lagi, namun kenyataannya ingatan dan kenangan selalu tak mau berkompromi untuk tak muncul kembali dalam pikirannya.

Dulu sekali, ia pernah sakit hati saat suaminya memilih meninggalkannya demi memilih wanita lain yang baru saja dikenalnya. Ma Wo dan suaminya kemudian berpisah. Belum lama rasa duka cita itu, Mak kehilangan anak semata wayangnya. Anak itu hilang begitu saja saat bermain air di sungai.

Bertumpuk-tumpuk kesedihan yang ia rasakan saat itu, perlahan terobati oleh pertemuannya dengan Sureng yang tak terduga.

Tapi kali ini terasa lain, ia kehilangan Sureng, ia yakin, bukan karena Sureng ingin meninggalkan, tentu ini karena lain hal. Mak Wo yakin, Sureng anjing yang baik, akan selalu setia membersamainya.
Ia harus mencari, ia tahu ke mana kakinya harus melangkah untuk menemukan Sureng.

Beberapa rumah kayu, sepanjang jalan itu telah ia ketuk pintunya, lalu Mak Wo bertanya, adakah penghuninya melihat Sureng, si anjing hitam. Semuanya tak melihat.

Jawaban orang-orang itu membuat dadanya terasa lebih sesak dan matanya menjadi lebih sembab. Seharian ia berjalan jauh hingga tubuhnya terhuyung. Ia bersandar di batang pohon ulin yang besar nan kokoh.

Memang, seharian ia tak sempat memikirkan perutnya. Ia lupakan rasa lapar. Ia tak memasukkan apa pun ke dalam mulut, bahkan air putih sekalipun.

Namun rupanya rasa lelah dan lapar tak berkompromi, membuat Mak Wo terlelap dalam sandaran batang pohon ulin. Entah mimpi apa yang akan bertandang dalam ketidaksadarannya, untuk menutupi kesedihannya.
***
LELAKI paruh baya itu penuh amarah dan dipenuhi kebencian terhadap istrinya, juga dendam kepada Labih. Dadanya membara, saat ia melihat istrinya berjalan berduaan di hutan bersama Labih.

Hatinya terasa tercubit ketika dilihatnya Labih mengulurkan tangannya, kemudian mereka bergandengan tangan, tampak akrab sekali.

Labih lelaki muda yang gagah yang selalu membantunya itu, telah ia anggap kurang ajar. Seharusnya ia menjaga ladang, mengapa ia bersama istrinya.

Lelaki itu berteriak kencang, ia tak tahan melihat kedekatan istrinya dan Labih. Ia mengangkat mandau-nya. Pemuda tanggung itu terperanjat. Demikian juga istri lelaki itu.

“Aku tahu, ada permainan serong kalian berdua. Sungguh tak berbalas budi kamu, Labih!”

“Ampun Bang, tak ada apa-apa. Janganlah berburuk sangka. Kakak Sullie meminta aku untuk menemaninya mencari lepiu. Ia ingin memakan lepiu, Bang.”

Lelaki itu tak lagi mau mendengar penjelasannya. Ia mendorong dan memukul Labih hingga tersungkur. Sementara istrinya menangis menjerit-jerit melihat adegan itu.

Ia takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Jeritan istinya hanya membumbung memantul dalam kerimbunan hutan, tak ada siapa pun selain mereka bertiga dan burung-burung yang membangun sarang.

“Ampun Bang, sungguh rendah apa yang Abang tuduhkan padaku itu.” Isaknya

“Kamu! Bagaimana aku mempercayaimu lagi, Sullie.” Lelaki itu menunjuk-nunjuk istrinya dengan raut muka memerah penuh amarah.

“Uangku hilang. Kurasa kamu yang mencurinya, Labih. Kamu ambil istriku, kamu curi juga uangku.”

Lelaki itu meluapkan seluruh amarahnya kepada Labih, pemuda tanggung yang dipungutnya. Ia tak punya siapa-siapa, lalu dibawanya pulang ke rumah, diajarinya berladang dan menganyam rotan.

Sungguh, kali ini dadanya terasa disayat-sayat oleh mandau  dalam genggaman tangannya sendiri. Beruntung dia mampu menahan sabar, jika tidak, mungkin kepala Labih akan terpenggal lalu terpental dan menggelinding saat itu juga.

“Aku tidak terima Abang menuduhku mencuri uang dan berserong dengan Kakak Sullie.” Pemuda itu, kali ini mengeraskan suaranya, membela diri.

“Sumpah darah anjing. Aku tunggu kamu besok di balai-balai.” Kata lelaki itu, lalu berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Sullie, istrinya, dan Labih.

Istrinya semakin tersedu. Buah lapiu yang ia punguti, ia buang dan berhamburan di tanah. Sullie tak tertarik lagi dengan buah lapiu yang sedari tadi ia punguti satu-satu.

Beberapa hari sejak peristiwa itu, tantangan sumpah darah anjing diterima oleh Labih. Mereka berjumpa pada waktu yang telah ditentukan dan disepakati, di balai-balai.

Pemimpin ritual sudah siap. Anjing hitam dalam kurungan meronta-ronta, moncongnya bertali kencang membuatnya berhenti menggonggong.

Lelaki itu duduk berhadap-hadapan dengan Labih. Saling diam namun saling menyerang. Peperangan dingin akan segera dimulai.

Sumpah darah anjing digelar. Anjing hitam itu dilepaskan. Telinganya dipotong, darah segar mengucur di wadah tampulung piasau.

Anjing itu meronta kesakitan di dalam kandang, ia tak menggonggong tapi mulutnya mengerang, kakinya menerjang-nerjang. Darah segar menetes di rerumputan, keluar dari lukanya yang masih segar menganga.

Kedua lelaki yang berseteru itu saling menenggak darah anjing dari wadah. Maka tinggal menunggu hari, siapa yang benar dan salah akan segera terbukti. Terbukti dengan kematian salah seorang di antara keduanya.
***

MAK Wo menggeliat terperanjat, seekor semut masuk ke dalam lubang telinganya. Ia beramjak, melanjutkan perjalanan mencari Sureng.

Dalam perjalanannya, ia berhenti saat dilihatnya ada keramaian di balai-balai. Mak Wo semakin yakin, Sureng pasti di sana, ditangkap orang-orang. Ritual ini memang membutuhkan anjing hitam seperti Sureng sebagai sarana.

Benar saja. Ia menemukan Sureng tanpa telinga. Mata Mak Wo terbelalak. Ia gembira telah bertemu Sureng, namun ia juga sedih sebab Sureng telah menjadi korban.

Kedua telinganya telah hilang, menyisakan daging yang menyembul dengan darah mengental di sana.

“Ini anjingku! Siapa yang membawa ke mari,” Mak Wo berteriak keras. Anjing itu semakin meronta ingin lepas dari kandang saat melihat pemiliknya datang.

“Siapa yang membawa anjingku ke mari?” Suara Mak Wo semakin keras. Tak ada yang menjawab. Mak Wo menatap satu per satu wajah di sana, hingga ia temukan wajah mantan suaminya dengan tampulung piasau berlumuran darah di hadapannya.

Mak Wo Lebih terperanjat lagi ketika menemukan wajah anak lelaki semata wayangnya yang telah lama hilang. Ia yakin itu anaknya, ada semacam tanda di pelipisnya.

Bukan tanda lahir, anak itu pernah tertusuk kayu bagian pelipisnya saat masih kecil hingga menyisakan bekas luka.

“Nak, apakah itu kamu anakku yang dulu kutimang-timang?” ucap Mak Wo. Labih pun langsung memeluk Mak Wo. Menangis dalam pelukan Mak Wo.

Meski bertahun-tahun lamanya mereka telah terpisah. Wajah Mak Wo tentu tak akan terhapus dalam ingatan Labih. Iya, anak itu hanyut di sungai ketika usianya 4 tahun.

Seseorang menemukannya pingsan di dermaga kayu, lalu merawatnya hingga usianya remaja. Saat remaja, kedua orang tua angkatnya meninggal dan ia hidup bersama lelaki yang sebenarnya adalah ayahnya sendiri. Mereka tak saling mengenali.

“Ada apa ini Labih? Perkara apa dengan ayahmu?” ucap Mak Wo.

“Oh rupanya kamu yang membawa Surengku ke mari. Sudah menyia-nyiakan aku, melupakan anakmu, lantas kau pun ingin membunuh anjingku?!”ucap Mak Wo pada mantan suaminya yang duduk di hadapannya.

“Jadi… Jadi, apakah dia anakku?” tanya lelaki itu pada Mak Wo. Mak Wo mengangguk.

Lelaki itu memiliki raut penyesalan yang dalam. Ini adalah sepenggal hidupnya yang tragis. Ia menantang sendiri darah dagingnya dalam sumpah darah anjing!

Lelaki itu membayangkan, risiko-risiko yang akan datang, 7 turunannya akan menanggung akibatnya. Ia tertunduk lesu di balai-balai. Kemudian tergugu lalu terbahak bahak. ***

Keterangan:
1. Buah lepiu merupakan buah asli Kalimantan Utara, buah musiman yang hanya berbuah satu kali dalam 5 tahun. Buah ini tergolong langka dan jarang ditemui di pasaran. Berbentuk bulat seperti jengkol dan berada di ranting pohon-pohon yang tinggi.

2. Sumpah darah anjing merupakan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Agabag di Kalimantan Utara. Ritual ini menggunakan objek anjing hitam sebagai sarana. Anjing ini akan dipotong bagian telinganya, lalu darahnya dimasukkan ke tempurung dan diminum oleh yang menuduh dan tertuduh.

3. Tampulung Piasau adalah wadah yang terbuat dari tempurung/batok kelapa yang dalam ritual sumpah darah anjing digunakan sebagai tempat darah yang mengalir dari telinga anjing.

4. Mandau: senjata tradisional serupa parang.

Inung Setyami, dosen Sastra Indonesia di Universitas Borneo, Tarakan. Tinggal di Tarakan, Kalimantan Utara. Menyukai menulis, membaca, dan jalan-jalan. Buku karyanya Kritik Sastra (Pustaka Abadi, 2018), Bunga Rampai Cerita Lisan Tidung Kalimantan Utara (Pustaka Abadi, 2018), Melankolia Bunga Bunga (Kumpulan Cerpen, Kobuku, 2020), Sastra dan Pendidikan (Kumpulan Esai, Jejak Pustaka, 2021), Kisah Si Rawit (Novel Anak, Inspo Creative, 2021), Distikon Rasa (Kumpulan Puisi, Nanopedia, 2021) dan Seekor Burung dan Mantan Tahanan dalam Bus Kota (Kumpulan Cerpen, Nanopedia, 2021).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...