Aroma Rempah di Leiden

CERPEN NORMA ANNISA LUTHFIANI

DUA bulan berlalu ketika aku memutuskan untuk berangkat melanjutkan studiku ke Belanda. Lebih tepatnya di Universitas Leiden.

Pertama kali sampai di sini, perasaanku begitu bahagia sekaligus gelisah. Kebahagiaan tentu menyelimuti karena tak lepas dari terpenuhinya keinginanku untuk kuliah di salah satu tempat yang menyimpan banyak rahasia sejarah negaraku, Indonesia.

Banyak hal yang tak tercatat dan diketahui oleh orang-orang di negara kami sendiri mengenai sejarah dan juga peristiwa di masa lalu. Hal ini yang membuatku begitu bahagia.

Namun di sisi lain, kegelisahan juga menyergapku. Gelisah itu bermula ketika aku tak memiliki teman di sini. Tapi ternyata hal itu tak berselang lama. Satu kegelisahan memudar ketika aku berkenalan dengan Ellen Maharani.

Pertemuanku dengan Ellen terjadi secara tak sengaja di taman pinggir kanal Nieuwe Rijn yang berada tak jauh dari kampus. Saat itu aku baru saja usai menyelesaikan kuliahku dan aku berencana untuk kembali ke apartemen di dekat Restaurant Surakarta yang terletak di jalan Noordeinde.

Tapi saat itu aku putuskan untuk mampir ke taman kanal yang juga searah, tak ada salahnya sesekali mampir, pikirku.

Ketika sampai di sana, aku baru menyadari bahwa ada seseorang yang mengikuti dengan menggunakan sepeda. Aku memang selalu menggunakan sepeda untuk ke kampus dan seolah dia mengikutiku kali ini.

Kami pun berkenalan, ternyata rumah Ellen tak jauh dari apartemenku bahkan searah. Ia menyadari bahwa aku juga kuliah di Universitas Leiden dan dia sering melihatku ketika berangkat dan pulang.

Ia pun lantas menjelaskan padaku dan akhirnya kami menjadi begitu dekat. Dari kedekatan kami, aku menyampaikan padanya bahwa aku berasal dari Indonesia. Dia kaget bukan kepalang.

Lantas dia menyebut ‘Maluku’, ‘Surabaya”, dan ‘rempah-rempah’ dengan logat Belandanya. Ia menanyaiku apakah aku tahu tentang Maluku dan rempah dengan rasa penasaran menghinggapi. Wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang begitu dalam.

“Sungguh kau dari Indonesia? Jadi kau tahu Maluku, Surabaya, dan rempah-rempah?” tanyanya dengan raut wajah penuh selidik.

“Ya, aku dari Indonesia. Aku tahu Maluku dan rempah-rempah. Bahkan aku berasal dari kota Surabaya. Memang bagaimana?” aku menanggapi dengan rasa penasaran. Bagaimana mungkin dia tahu tentang Maluku dan rempah-rempah, batinku.

“Sungguh? Kakekku sering menceritakan hal itu padaku. Bahkan sejak aku kecil. Aku juga telah lama merencanakan untuk kuliah di Universitas Leiden. Selain karena dekat dari rumah, aku juga ingin mencari lebih lanjut tentang dunia jauh yang mengganggu pikiranku. Khususnya tentang rempah-rempah dari dunia yang jauh bernama Maluku dan Indonesia,” kata Ellen dengan begitu menggebu dengan mata berkunang-kunang.

“Kakekku pernah ke sana, diajak kakeknya waktu itu, jadi bisa dibilang oleh buyutku. Kalau kamu ada waktu, main saja ke rumahku. Aku ingin bertanya banyak tentang Maluku dan rempah-rempah. Aku juga ingin memberitahumu tentang koleksi kakekku tentang negaramu di rumahku,” lanjutnya.

“Tentu saja aku mau. Aku akan ke sana segera mungkin.” Aku sangat antusias dengan tawaran yang ia ajukan.

Beberapa hari berikutnya, aku benar-benar datang ke rumahnya. Hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai ke sana. Ketika Ellen mempersilakan masuk, rasa aneh menyelimutiku.

Aku tahu benar konsep rumah dan segala piranti ini. Ini rumah model Jawa dengan beragam ukiran dan juga ada tiang pancangnya. Piranti-piranti di rumah Ellen juga sangat khas dengan perabot di Jawa.

Berbeda dengan perabot yang ada rumahku di Surabaya yang sudah cukup modern, ini jauh lebih klasik dan khas. Lebih dari itu, aroma di rumah ini aku tahu benar. Aroma cengkih yang dikeringkan.

Aroma semerbak yang menyebar ke seluruh ruangan. Mengapa aroma ini yang dipilih. Bahkan di tempat asalku, aroma ini sudah jarang kutemui.

Ellen lantas menarikku menuju sebuah rak buku. Dari deretan buku-buku itu, ia menarik satu buku yang cukup kuno tapi ketika ia membukanya, lagi-lagi aroma cengkih menguar dari buku itu.

Buku yang disampulnya tertulis Surga dari Timur dalam bahasa Belanda yang ditulis oleh Herman Nicolas. Ellen pun membuka buku itu, ia mengatakan padaku bahwa itu adalah tulisan kakek buyutnya, tulisan tangan cukup rapi di dalamnya.

Ia pun menyerahkannya padaku dan aku pun membaca dengan kemampuan bahasa Belandaku yang dapat dikatakan lumayan.

Beginilah isi yang dapat kupahami dari buku tulisan kakek buyut Ellen: “Kini aku harus mengikuti ketua ekspedisi kami ke Surabaya. Maluku sudah penuh dengan lawan dari ekspedisi lain. Sehingga ketua memutuskan untuk menampung saja apa yang diperoleh oleh mereka dari sana.

Lantas kami akan membawanya pulang ke Belanda. Dapat dikatakan bahwa kelompok kami adalah kelompok pengepul. Menampung sebanyak mungkin pasokan rempah dari Maluku. Tak perlu sampai sana untuk mendapat rempah, di sini kami hanya membuka tangan selebar-lebarnya, lantas tangan kami akan penuh dengan apa yang mereka bawa.

Cengkih, lada, dan pala sedang jadi primadona di Eropa. Maka kami memilih untuk mengumpulkan rempah itu saja. Karena dengan ketiganya, kami sudah bisa jadi kaya raya.

Aku ditugasi oleh ketua untuk berkeliling dengan kapal mengambil rempah-rempah dari orang-orang dan tim ekspedisi lain. Aku berkeliling menyusuri laut dan sungai menuju pelabuhan-pelabuhan terdekat tempat di mana para pembawa rempah akan berlabuh.

Semua tempat di pesisir pernah aku datangi tak lain untuk mengambil rempah dan membawanya ke Surabaya. Semula di Tuban, di sana aku mendapat banyak rempah seperti yang diharapkan ketua. Mereka dapat dengan mudah diajak bekerja sama.

Kami juga memasang harga yang lain dari pengepul lainnya. Lantas aku menuju Lamongan namun sayangnya harus bersaing dengan mereka yang berasal dari Cina. Mereka menggunakan rempah untuk pengobatan. Tapi tentu kami yang mendapat lebih banyak.

Berselang hari, aku menuju ke Gresik. Di Gresik, aku agak kesulitan karena harus bersaing dengan penguasa setempat. Seorang ratu yang begitu kuat pengaruhnya. Sehingga hasil dari sana tidak maksimal. Lantas kutinggalkan begitu saja. Aku lebih memilih berlayar ke Sidoarjo dan lagi-lagi harus mendapat banyak saingan yakni mereka yang dari Cina, Arab, dan Gujarat.

Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk menyusuri sungai sampai ke Kediri, Mojokerto hingga Majapahit yang namanya begitu besar di telinga kami.

Di tempat yang cukup jauh dari laut, di pedalaman itu, aku memilih untuk bekerja sama dengan penguasa di sana. Karena jika bersaing, maka tentu kami akan kalah. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membawa rempah dari sana dan hasilnya kami bagi dua.

Pembagian yang cukup adil mengingat hasil penjualan di Eropa berkali-kali lipat harganya daripada di sini. Aku pun mengangkut seluruh rempah menuju Surabaya. Ketua begitu gembira dengan hasil bawaan kami.

Ia pun memutuskan akan sering kembali ke sini, dan tak lupa mengajakku serta para kru lainnya. Di Surabaya, kami hidup bertahun-tahun lamanya. Hingga akhirnya, aku harus pulang karena persaingan semakin besar dan kami kalah dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah kami sendiri dengan keuntungan untuk negara melalui wadah bernama VOC.

Mereka melakukan monopoli, tapi kami sudah cukup dengan apa yang kami dapatkan selama ini. Aku juga telah menyimpan banyak rempah di rumah, kelak untuk cucuku, agar mereka tahu ada dunia yang mirip surga.”

Ketika usai membacanya, kuhirup dalam-dalam aroma rempah yang pernah singgah di tanah kelahiranku. Lantas kudekati Ellen dan memeluknya. Aku berjanji padanya bahwa kelak aku akan mengajaknya ke Indonesia. ***

Norma Annisa Luthfiani, penulis kelahiran Ngawi, Jawa Timur. Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...