Bambu Masih Jadi Andalan untuk Konservasi di Bandar Lampung dan Bernilai Ekonomi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Tanaman bambu masih menjadi pilihan masyarakat di Bandar Lampung untuk mendukung konservasi sekaligus memberikan nilai ekonomi. Selain untuk mempertahankan daerah aliran sungai, juga dimanfaatkan oleh nelayan penangkap ikan untuk membuat bagan apung atau pagang.

Potensi bambu jenis ori, petung, apus dan bambu tali dimanfaatkan salah satu warga Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Kemiling, Asnan.  Dikatakan, peluang budidaya bisa memberikan hasil berkelanjutan. Sejumlah bambu hijau penghasil rebung bisa dimanfaatkan sebagai bahan kuliner. Setelah tua bisa dijual dalam bentuk produk kerajinan perabot rumah tangga.

“Permintaan bambu utuh bisa saya penuhi sesuai permintaan namun sebagian berukuran seragam 4-6 meter, kebutuhan yang lebih panjang tanpa dipotong bisa menyesuaikan karena bambu bisa dipanen setiap saat di kebun yang ada di dekat aliran sungai,” terang Asnan saat ditemui Cendana News, Rabu sore (7/7/2021).

Asnan bilang bambu jadi salah satu produk hasil kebun penopang sistem tangkap ikan nelayan selain batang pinang, kayu mahoni, laban dan jati.

Muliadi, nelayan di Kelurahan Kota Karang, Teluk Betung Barat menyebutkan, ia mempergunakan bambu untuk berbagai keperluan. Manfaat utama bambu digunakan untuk memperkuat konstruksi bagan apung.

“Fungsi bagan utama untuk menangkap ikan diberi jaring, lampu penerangan dan rumah berteduh dengan bahan utama bambu, batang pinang,” ulasnya.

Hasil tangkapan ikan memakai jaring dengan bagan selanjutnya dikeringkan. Kebutuhan akan bambu sebut Muliadi bermanfaat untuk produksi ikan asin, teri kering. Wadah perebus ikan, teri dikenal dengan cekeng atau keranjang dan tenggok.

Mempertahankan pohon dan rumpun bambu dilakukan Asnan, warga Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung sebagai bahan baku peralatan rumah tangga, Selasa (6/7/2021) (Dok. Henk Widi)

Penggunaan bambu dalam konstruksi perahu kasko juga sangat penting. Hasanudin, nelayan pemilik perahu di Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Barat itu membuat perahu ukuran 8 meter. Proses pembuatan perahu membutuhkan bambu, batang kayu jati, mahoni dan batang pinang. Pemanfaatan bambu menjadi penyangga untuk sejumlah dinding yang dirangkai.

“Bambu juga menjadi peneduh untuk para pekerja konstruksi perahu hingga bisa diselesaikan selama enam bulan,” ulasnya.

Pemanfaatan bambu bagi nelayan di pesisir Kota Karang sebutnya sangat variatif. Sebagai jembatan penghubung antar rumah, bambu juga dimanfaatkan sebagai anco, rangkaian bambu dikombinasikan bersama jaring. Diberi pemberat dan tuas pengangkat, anco jadi penangkap ikan pelagis bahan ikan asin.

Lihat juga...