Biaya Operasional Usaha di Lampung Terhantam Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sejumlah pelaku usaha kecil di Bandar Lampung harus putar otak imbas biaya operasional tidak tertutupi hasil penjualan. Sejumlah pelaku usaha kecil harus mengubah strategi agar tetap mendapatkan keuntungan.

Viviani, pedagang parfum atau minyak wangi isi ulang di pusat perbelanjaan Simpur, Jalan Kartini, Tanjung Karang, Bandar Lampung menyebut tren belanja langsung ke online jadi faktor penurunan omzet.

Biaya operasional outlet di pusat perbelanjaan sebutnya cukup tinggi. Mulai dari sewa outlet, listrik dan operasional lain biasanya dapat ditanggulangi dari omzet penjualan. Semenjak pandemi dan pemberlakuan PPKM Darurat menyebabkan berkurangnya pelanggan yang datang.

“Sebagai alternatif lain pedagang parfum isi ulang menawarkan produk dengan sistem online, kombinasi kedua melalui pembukaan toko di rumah agar bisa melayani pelanggan yang terkendala pusat perbelanjaan tutup lebih cepat, jadi ada alternatif tetap melayani penjualan,” terang Viviani saat ditemui Cendana News, Selasa (13/7/2021)

Viviani bilang memilih menjual parfum isi ulang pada pusat perbelanjaan. Sebab saat kondisi normal pusat perbelanjaan buka sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Namun semenjak pandemi operasional dibatasi hingga pukul 20.00 WIB bahkan selama PPKM Darurat hanya hingga pukul 17.00 WIB.

Strategi lain dengan memperluas jaringan pemasaran memakai media sosial. Ia mengaku biaya lain lain berupa kuota untuk media sosial, promosi dan aplikasi antar pesan diperoleh dari tabungan

“Outlet cadangan bisa jadi solusi agar biaya operasional outlet di pusat perbelanjaan bisa ditutupi,” bebernya.

Hindari kerugian, sejumlah pemilik toko bahkan memilih menutup outlet sementara waktu. Beberapa pelaku usaha bahkan memilih mengandalkan mobil toko (moko) untuk bisa tetap memperluas jangkauan pasar.

Pedagang pakaian, sepatu di pasar Bambu Kuning yang sementara waktu ditutup beralih berjualan ke lokasi lain. Penutupan sejumlah toko terjadi pada Selasa (13/7/2021). Ia memilih mengambil barang dagangan pakaian untuk dijual keliling.

“Jika selama dua pekan pedagang pakaian tidak bisa berjualan biaya operasional sewa dipastikan tidak tertutupi, belum listrik dan lain lain,” tegasnya.

Pedagang parfum, Viviani, di salah satu outlet pusat perbelanjaan Simpur di Jalan RA Kartini, Bandar Lampung, Selasa (13/7/2021). Foto: Henk Widi

Strategi sementara waktu berjualan di lokasi lain yang tidak menerapkan pembatasan jadi cara mendapat omzet. Sewa ruko sebutnya meski telah mendapat relaksasi pembayaran kredit namun ia harus tetap mendapat penghasilan. Ia memilih membawa pakaian untuk dijual memakai mobil di ruas jalan Tanjung Senang, perbatasan dengan Lampung Selatan.

Budiman, salah satu pedagang kue ape dengan gerobak mengaku tidak terlalu terpengaruh. Biaya operasional hanya dikeluarkan untuk bahan bakar dan uang salar. Ia masih bisa berpindah lokasi agar penjualan meningkat.

“Rajin keliling karena saya berjualan memakai gerobak, sejak pagi hingga sore bisa berpindah ke sejumlah lokasi,” cetusnya.

Warjiah dan pedagang buah menyebut operasional sewa lapak tidak perlu dibayar. Namun ia tetap mengeluarkan biaya untuk kebersihan, keamanan. Sebagian pedagang tetap memilih beroperasi dengan mengandalkan pembeli yang melintas.

Lihat juga...