BMPS Bekasi Catat 8.731 Siswa Mendaftar di Sekolah Swasta 

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS)  Kota Bekasi, mencatat hanya 8.731 siswa yang mendaftar di sekolah swasta tingkat menengah pertama (SMP) di wilayah setempat pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun 2021.

Data tersebut dicatat dari 224 sekolah swasta tingkat SMP di bawah BMPS Kota Bekasi. Bahkan dari data tersebut diketahui terdapat puluhan sekolah tidak mendapatkan siswa baru sama sekali dalam PPDB tahun ini.

Padahal tingkat kelulusan Sekolah Dasar (SD) tahun 2021 di Kota Bekasi, diketahui berdasarkan data resmi dari Dinas Pendidikan Kota Bekasi, jumlahnya mencapai 45.431 siswa. Sedangkan daya tampung SMP Negeri hanya 13.427 atau 20 persennya saja dari kelulusan tersebut, sisanya masih ada 31.959 siswa.

“Pertanyaannya ke mana  20 ribuan lebih siswa lulus SD di Kota Bekasi bersekolah, karena dari data yang dikumpulkan BMPS total siswa yang lulus SD tahun ini bersekolah di swasta hanya setelah PPDB berakhir, hanya 8.731 Siswa,” kata Misan Heryanto, Ketua Bidang Hukum BMPS Kota Bekasi, kepada Cendana News, Kamis (29/7/2021).

Diutarakan bahwa pendataan yang dilakukan BMPS Kota Bekasi tiga hari ini karena memenuhi permintaan wakil wali kota yang meminta ketika pengurus BMPS melapor diminta harus dengan data. Hingga melakukan pendataan menyeluruh ke sekolah swasta tingkat SMP terkait jumlah penerimaan siswa baru tahun 2021.

Menurutnya data tersebut hari ini akan diserahkan langsung kepada wakil wali kota agar bisa menjadi acuan. Karena jelas Misan, saat bertemu dengan Wakil Wali Kota Tri Adhianto, lanjutnya beliau mengakui sesuai laporan Disdik bahwa jumlah siswa yang masuk ke SMP Negeri 37 persen dari total kelulusan.

“Kami ingin memberitahu, bahwa jumlah kelulusan SD yang ditampung ke SMP negeri tidak 37 persen. Tapi bisa mencapai lebih dari 75 persen, dengan melihat data jumlah siswa di sekolah swasta tingkat SMP,” jelas Misan.

Dengan data tersebut, Misan mempertanyakan keberpihakan Pemerintah Kota Bekasi, ke sekolah swasta di wilayahnya. Karena jelasnya mengacu pada jumlah kelulusan tidak mungkin sisa 20 riban itu dari daya tampung di sekolah negeri dan yang telah mendaftar di sekolah swasta semuanya sekolah ke luar daerah.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Krisman di konfirmasi soal minimnya sekolah swasta menerima siswa pendaftaran baru tahun ini mengatakan bahwa tahun ini penetapan jumlah Rombongan Belajar (Rombel) setiap kelasnya dijenjang SMP mencapai 44 siswa.

“Suasana pandemi Covid-19 sekarang tentunya yang di PHK banyak, yang sakit banyak, banyak dari mereka tidak mampu sekolah ke swasta karena tidak mampu bayar. Apakah anak tidak sekolah?” tanya Krisman.

Menurutnya penerima siswa per Rombel sama dengan tahun lalu untuk tingkat SMP per Rombel tembus diangka 44 siswa. “Jadi bukan pertimbangan baru tetapi masih  mengacu pada tahun sebelumnya,” tegas Krisman, mengatakan sesuai data Disnaker banyak orangtua siswa saat ini di PHK dari tempat kerjanya.

Kondisi pandemi seperti sekarang ini banyak orangtua murid tidak mampu, untuk masuk ke sekolah swasta. Sehingga sebelumnya orang tua yang menyekolahkan anaknya di SD swasta setelah lulus memilih masuk ke sekolah negeri. Hal tersebut terjadi di Kota Bekasi.

Ia pun menyebut bahwa pemerintah tetap memikirkan sekolah swasta karena merupakan bagian dari dinas pendidikan. Tetapi jelasnya kondisi pandemi ini yang miskin pun banyak yang meninggal dan yatim sehingga mereka tidak mampu sekolah swasta.

“Ini juga sesuai kewenangan kepala daerah melalui Perda Nomor 47, jelas kewenangan ada di pemerintah daerah agar anak jangan sampai tidak sekolah. Kecuali sekolah swasta bersedia menggratiskan peserta didik baru,” jelas Krisman.

Lihat juga...