BPDAS WSS : Vegetasi Tanaman pada Kawasan Pantai Efektif Cegah Abrasi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS WSS), Lampung, Idi Bantara,S.Hut, M.Sc, menyebutkan, vegetasi tanaman pada kawasan pantai efektif cegah abrasi. Agar tetap lestari, perlu adanya pemahaman kepada masyarakat sekitar, salah satunya melalui literasi.

Pemahaman tersebut di antaranya literasi mengenai jenis vegetasi yang hidup di pantai yang selama ini dominan dikenal mangrove. Seperti bakau (Rhizopora), pulut pulut (Kandelia candel), api api (Avicennia), pidada (Sonneratia), sentigi (Pemphis acidula). Selain itu vegetasi pandan laut, palem laut, kemiri laut, cemara udang dan ketapang memperkaya vegetasi pantai.

“Masyarakat sekitar pantai tetap harus mempertahankan semua jenis vegetasi yang tumbuh alami di tepi pantai, bukan hanya jenis mangrove tapi semua jenis vegetasi. Karena itu perlu ada literasi bagi masyarakat dengan mengedukasi fungsi ekologis vegetasi di tepi pantai,” terang Idi Bantara, S.Hut., M.Sc, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (7/7/2021).

Penemu sistem media semai cetak (MSC) dalam pengembangan bibit tanaman, salah satunya bakau itu mengaku, penyadartahuan dilakukan ke warga masyarakat. Sebagian warga masyarakat yang telah melakukan perlindungan, pelestarian hingga rehabilitasi ada di pesisir Lampung.

Penanaman mangrove jenis bakau, api api, sentigi menjadi pintu bagi konservasi vegetasi lain. Selama ini jenis cemara udang, cemara laut, kemiri laut, waru laut dianggap kurang berfungsi. Imbasnya pemanfaatan pantai menjadi lahan tambak berimbas kerusakan.

“Pentingnya literasi jenis vegetasi yang miliki fungsi penahan abrasi akan meningkatkan kesadaran masyarakat menjaga terutama di dekat pantai,” ulasnya.

Sebagai tahap awal pelestarian vegetasi kawasan pesisir, sebanyak 500.000 bibit mangrove ditanam. Penanaman dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH). Melalui program penanaman mangrove pada Januari 2021 itu sebut Idi Bantara diiringi dengan penanaman vegetasi lain.

Hasran Hadi, sekretaris Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lamsel menyebutkan,  melalui penanaman jenis tanaman api api, bakau dan pandan laut bisa mencegah resiko bencana. Bagi fungsi ekologis menahan abrasi, angin kencang.

“Selama ini kerap dianggap penahan abrasi hanya mangrove sementara jenis mangrove juga banyak jenisnya, bakau hanya salah satunya,” ulasnya.

Idi Bantara,S.Hut.,M.Sc, (kiri) Kepala BPDAS Way Seputih Way Sekampung Lampung di kawasan mangrove Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Minggu 21 Januari 2021 (Dok : Henk Widi)

Sejumlah tanaman efektif penahan abrasi sebutnya ada di kawasan pantai Onaria. Pantai di Desa Tridharmayoga, Kecamatan Ketapang itu oleh warga ditanami kemiri laut, cemara udang serta waru laut. Kontur pantai berbatu dan berpasir membuat vegetasi jenis tanaman tertentu lebih cocok. Namun secara ekologis, fungsinya menjadi sabuk hijau (green belt) pencegah abrasi.

Memahami fungsi ekologis varian tanaman pantai diakui Rusli, warga pantai Pedada, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang. Sesuai kearifan lokal pantai pedada berasal dari mangrove jenis pedada atau sonneratia. Meski demikian warga juga menanam ketapang, waru laur, kelapa, cemara dan kemiri laut. Semua jenis tanaman sebutnya sangat penting dan dipahami oleh warga terutama nelayan.

Sejumlah warga sebut Rusli mempertahankan vegetasi tanaman pantai untuk penunjang kerja. Sebagian tanaman jadi batang pengikat tali perahu saat sandar. Sejumlah tanaman jadi benteng dalam menjaga terjangan angin timuran. Penanaman dengan biji menjadi cara perbanyakan vegetasi tanaman pantai yang mendukung fungsi ekologis berkelanjutan.

Lihat juga...