Budidaya Tanaman Kapuk Randu dengan Teknik Generatif dan Vegetatif

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Komoditas tanaman kapuk randu jadi salah satu hasil perkebunan di sebagian Lampung Selatan. Tanaman randu bagi Rusdi, petani pekebun di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan memiliki multi manfaat.

Semula menanam kapuk randu merupakan sumber bahan untuk pembuatan kasur jauh sebelum muncul kasur busa. Tanaman kapuk randu jadi komoditas pertanian yang bernilai ekonomis.

Rusdi menyebut budidaya tanaman kapuk randu sangat mudah dengan teknik generatif dan vegetatif. Teknik generatif kerap terjadi secara alami oleh angin saat buah kering terjatuh. Penyebaran dari pohon indukan sebutnya bisa mencapai puluhan meter. Benih dari biji selanjutnya bisa dipencarkan sebagai tanaman baru penyulam tanaman tua.

Teknik vegetatif budidaya kapuk randu lanjut Rusdi umum dilakukan petani. Sebab memanfaatkan batang bagian indukan bisa distek. Teknik stek batang kerap dilakukan petani dengan pemanfaatan ganda. Berfungsi sebagai rajek atau ajir untuk tanaman lada, cabai jamu. Bibit yang diperbanyak dengan stek juga difungsikan sebagai pagar kombinasi dengan tanaman pinang.

“Petani pekebun jarang menanam kapuk randu secara sengaja pada bagian tengah kebun karena jadi pengayom atau pelindung tanaman lain sehingga berimbas lambatnya pertumbuhan tanaman produktif kakao, pisang tapi menanamnya pada batas kebun dan tepi kebun sehingga tidak mengganggu tanaman lain,” terang Rusdi saat ditemui Cendana News, Senin (5/7/2021).

Penanaman pohon randu kapuk jadi alternatif pakan hijauan ternak kambing bagi Rusdi di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (5/7/2021). -Foto Henk Widi

Memanfaatkan tanaman randu kapuk sebut Rusdi paling awal bisa digunakan bagian daun. Sebagai petani yang umumnya sekaligus peternak, daun muda tanaman kapuk randi jadi alternatif pakan hijauan. Pakan alternatif daun kapuk randu muda sebutnya kerap jadi pilihan ketika sulit mendapatkan pakan. Terlebih pada awal masa tanam jagung, rumput disemprot dengan herbisida membuat pakan kambing sulit diperoleh.

Pemanfaatan tanaman kapuk randu untuk pagar sebut Rusdi paling banyak dimanfaatkan. Sistem pagar dengan batang randu dikombinasikan dengan pohon pinang, bambu. Batang randu kapuk yang memiliki duri sebutnya jadi pagar alami. Bagi petani pekebun yang berbatasan dengan kawasan hutan, batang tanaman randu mencegah babi, hewan pengganggu tanaman.

“Dahulu menanam randu kapuk efektif mencegah hama trenggiling, babi dan ternak yang merusak tanaman produktif,” ulasnya.

Tanaman randu kapuk yang telah memiliki diameter lebih dari 50 cm sebut Rusdi bisa dipanen. Umumnya usia tanaman kapuk randu bisa mecapai belasan hingga puluhan tahun. Batang yang ditebang bisa dibelah menjadi papan untuk bahan cor. Penggunaan papan kayu kapuk randu menjadi salah satu kebutuhan pembuatan bangunan sistem dak. Perpohon bisa dijual ratusan ribu.

Pemanfaatan kapuk randu untuk pagar sekaligus tanaman utama di kebun dilakukan Johan. Warga Banjarmasin itu mengungkapkan selain sebagai sumber pakan ternak batang randu mempermudah panen pinang. Penanaman sejajar dengan batang pinang akan memudahkan pembuatan tangga. Tangga bambu akan diikat pada tanaman randu dan sebaliknya mempermudah panen buah pinang.

“Sistem tangga dari bambu yang diikat pada batang pinang memudahkan panen kapuk karena batangnya berduri,” ulasnya.

Nilai ekonomis tanaman kapuk randu dipertahankan Jumini, warga Desa Pasuruan. Sejak puluhan tahun silam tanaman randu sebutnya telah dimanfaatkan petani. Pemanfaatan sebagai bahan pengisi bantal, kasur dan kursi. Ia menyebut buah kapuk tua dan kering akan jatuh alami, dipanen dengan galah. Buah kapuk yang masih memiliki biji atau dikenal kelenteng akan dijual seharga Rp15.000, tanpa biji Rp30.000 per kilogram.

“Kulit kering buah kapuk randu kerap kami gunakan sebagai bahan bakar pengganti kayu,” sebutnya.

Tanaman kapuk randu yang kerap ditanam pada batas kebun sebut Jumini bisa jadi hasil sampingan. Buah yang bisa produktif setiap tahun akan menghasilkan puluhan kilogram. Jumini bisa mendapatkan hasil sampingan secara berlanjutan hingga ratusan ribu. Ia bahkan memilih menambah tanaman baru dibanding menebang tanaman kaya manfaat itu.

Lihat juga...