Cegah DBD, Puskesmas Ketapang Aktifkan Kader Jumantik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Memasuki musim penghujan dengan potensi genangan jadi sarang nyamuk, Puskesmas Rawat Inap Ketapang aktifkan Jumantik.

Samsu Rizal, Kepala UPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang, Lampung Selatan menyebut penghujan berimbas genangan sumber sarang nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue (DBD). Kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) sebutnya aktif melakukan pemantauan ke rumah warga.

Samsu Rizal, Kepala UPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang, Lampung Selatan, dijumpai, Jumat (2/7/2021) – Foto: Henk Widi

Sebanyak 17 desa di Kecamatan Ketapang sebut Samsu Rizal lebih dari 10 di antaranya ada di kawasan pesisir pantai. Saat penghujan yang sudah berlangsung sejak dua pekan terakhir, genangan imbas banjir terjadi pada sejumlah titik.

Upaya pencegahan sebutnya penting dilakukan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Langkah penerapan hidup bersih dan sehat (PHBS) dilakukan agar jentik nyamuk tidak muncul.

Setiap kader Jumantik sebut Samsu Rizal memiliki tugas untuk meningkatkan angka bebas jentik (ABJ). Meski dalam masa pandemi Covid-19, ia menyebut solusi mendatangi rumah warga bisa diganti dengan jumantik mandiri.

Setiap rumah diimbau melakukan proses pengurasan bak mandi, membersihkan genangan air dan sampah plastik. Sistem laporan bisa dilakukan dengan pengiriman memakai foto.

“Kendala bagi para kader jumantik salah satunya pandemi Covid-19 bisa diantisipasi dengan menghubungi setiap rumah warga yang ada di dekat genangan air, tepi pantai, tepi sungai dan memaksimalkan jumantik mandiri serta bersinergi dengan unsur RT hingga RW,” terang Samsu Rizal saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (2/7/2021).

Samsu Rizal menyebut salah satu tugas kader Jumantik melakukan pemeriksaan jentik secara berkala. Pemeriksaan berkala dilakukan untuk mengendalikan populasi nyamuk yang dimulai dari jentik dalam bak mandi, genangan air di sekitar rumah warga.

Pemberantasan nyamuk dengan pengasapan (fogging) sebutnya belum akan dilakukan saat tidak ditemukan adanya suspect DBD.

Pelaksanaan 3 M sebutnya dilakukan dengan menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas, menutup rapat penampungan air. Pelaksanaan 3 M sebutnya bertujuan untuk mempersempit penyediaan sarang reproduksi bagi hewan penular penyakit DBD.

Selain keberadaan kader jumantik, Puskesmas Rawat Inap Ketapang sebut Samsu Rizal menyiapkan tim gerak cepat (TGC) saat ada kasus atau temuan dugaan (suspect) penyakit DBD.

“Kader Jumantik harus segera melaporkan adanya suspect agar petugas Puskesmas bisa melokalisir dan melakukan penanganan segera,” ulasnya.

Salah satu upaya menjaga kebersihan lingkungan sebut Samsu Rizal dilakukan dengan pembersihan sampah. Jenis sampah botol, plastik yang menampung air sebutnya bisa menjadi tempat nyamuk bertelur.

Langkah pembersihan lingkungan dilakukan dengan menguburkan sampah plastik. Terlebih saat penghujan sampah tersebut sebagian berasal dari wilayah lain.

“Kader Jumantik yang ada di wilayah Ketapang berjumlah sekitar 17 orang selalu siaga saat musim penghujan ini,” ulasnya.

Amran Hadi, salah satu warga di Dusun Sukabandar, Desa Legundi menyebut saat penghujan selalu muncul genangan. Lokasi dusun yang sejajar dengan pantai berimbas air kerap sulit terbuang.

Ia dan warga serta sejumlah kader jumantik menyebut membersihkan area genangan air agar tidak menjadi sarang nyamuk. Genangan air setelah hujan sebutnya kerap akan hilang hingga sepekan.

“Lokasi permukiman pada dataran rendah berimbas saat hujan air sulit dibuang, langkah kami dengan membuat parit agar air cepat surut,” ulasnya.

Eko Purwadi, salah satu perawat Puskesmas Rawat Inap Ketapang menyebut saat visitasi atau kunjungan, promosi kesehatan pencegahan DBD digencarkan. Tugas pencegahan DBD sebutnya menjadi tugas bersama antara masyarakat, kader jumantik dan petugas kesehatan.

Menekan angka bebas jentik nyamuk dilakukan dengan menerapkan PHBS dan PSN. Saat penghujan, penggunaan kelambu dan obat pengusir nyamuk dianjurkan pada warga di pesisir pantai.

Lihat juga...