Corona dan Virus ASF Picu Naiknya Harga Sapi dan Kambing di Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Harga ternak seperti kambing dan sapi yang biasa dijadikan hewan kurban di kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengalami kenaikan sejak awal 2020.

“Sejak dua tahun ini harga hewan ternak memang mengalami kenaikan akibat serangan virus ASF, yang diperparah dengan pandemi Corona,” kata Tadeus Pega, salah satu peternak di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka,  saat ditemui Selasa (20/7/2021).

Menurut Tadeus, matinya babi akibat serangan virus ASF atau Demam Babi Afrika menyebabkan permintaan akan hewan ternak kambing, ayam kampung dan sapi mengalami kenaikan siginifikan.

Dia menyebutkan, kambing yang biasanya dijual Rp700 ribu hingga Rp1 juta rupiah, meningkat menjadi Rp900 ribu hingga Rp1,3 juta per ekor.

Tadeus Pega, peternak, warga Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikk, NTT, saat ditemui di rumahnya, Selasa (20/7/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Hal serupa juga terjadi pada sapi yang harganya berkisar antara Rp7 juta hingga Rp10 juta, naik menjadi Rp9 juta hingga Rp12 juta per ekor.

Sedangkan harga ayam kampung yang semula Rp50 ribu-Rp100 ribu, sekarang dijual Rp70 ribu hingga Rp150 ribu per ekor.

“Kenaikan ini dipicu dari matinya babi, sehingga ternak kambing dan sapi mengalami peningkatan permintaan akibat banyaknya kebutuhan masyarakat akan hewan ternak,” ungkapnya.

Tadeus mengatakan, setiap ada peristiwa kematian pasti dibutuhkan hewan ternak dan biasanya babi yang selalu disembelih.

“Setiap ada kematian, warga lebih memilih membeli daging kambing atau sapi di pedagang yang dijual per kilogram. Warga juga memilih membeli ayam potong yang harganya Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per ekornya,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Damianus Riky, pedagang hewan ternak yang mengaku harus mencari ternak kambing dan sapi hingga ke pelosok desa, meskipun harganya mengalami kenaikan.

Riky pun mengaku menaikkan harga hewan kurban seperti kambing yang biasanya Rp800 ribu menjadi Rp1 juta, dan sapi yang biasanya Rp10 juta dijual hingga Rp13 juta per ekor.

“Harga di tingkat masyarakat menjadi lebih mahal karena biasanya warga memelihara kambing dan sapi hanya sebagai sambilan saja, dan lebih fokus memelihara babi,” ungkapnya.

Riky mengatakan, banyaknya babi yang mati di wilayah Provinsi NTT otomatis membuat kebutuhan akan hewan ternak kambing dan sapi meningkat, sehingga harga jualnya mengalami kenaikan.

Lihat juga...