DCML Cilongok Fokus Kembangkan Budi Daya Bebek Pedaging

Editor: Koko Triarko

BANYUMAS  Pengurus Koperasi Utama Sejahtera Mandiri, bertekad menjadikan Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) Cilongok, kecamatan Cilongok, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sebagai kawasan sentra penghasil bebek pedaging. 

Hal ini sejalan dengan harapan serta keinginan Yayasan Damandiri, yang melihat potensi luar biasa pengembangan usaha budi daya bebek pedaging di desa itu.

Manajer Umum Koperasi Utama Sejahtera Mandiri, selaku pelaksana program DCML Cilongok, Andi Rahmanto, mengakui unit usaha budi daya bebek pedaging saat ini memang menjadi salah satu fokus usaha koperasi di sektor peternakan. Hal itu karena dari dua kali uji coba yang dilakukan, usaha ini memberikan keuntungan cukup menjanjikan.

“Usaha budi daya bebek pedaging yang kita jalankan saat ini sudah memasuki siklus ke dua. Kita juga sudah mengujicobakan dua jenis bebek pedaging, baik itu jenis peking maupun lokal. Hasilnya sangat bagus. Respons pasar juga sangat baik. Karena itu kita ingin mengembangkan usaha ini dengan skala lebih besar,” katanya belum lama ini.

Manajer Usaha Koperasi Utama Sejahtera Mandiri Cilongok, Riyan Hidayat, -Foto: Jatmika H Kusmargana

Lebih lanjut Rahmanto mengatakan, pihaknya masih mempertimbangkan model pengembangan usaha budi daya bebek ini ke depan. Baik itu dengan sistem komunal di satu lokasi, maupun dengan sistem terpisah, yakni melalui kelompok-kelompok kecil peternak yang berlokasi di kampung-kampung milik warga.

Sementara itu, Manajer Usaha Koperasi Utama Sejahtera Mandiri Cilongok, Riyan Hidayat, menyebut dari uji coba yang dilakukan, bebek jenis lokal jantan dinilai lebih cocok dikembangkan dibandingkan jenis bebek peking. Pasalnya, bebek lokal dinilai memiliki pertumbuhan yang lebih cepat serta tingkat kematian yang minim.

“Saat awal kita uji coba bebek Peking, namun pertumbuhannya lambat karena ternyata kurang cocok dengan kondisi yang ada. Sementara pada uji coba ke dua, kita coba bebek lokal jantan. Dan, hasilnya luar biasa. Dari target kita 60 hari, ternyata kita bisa panen lebih cepat pada usia 47 hari. Dengan HPP Rp16ribu per kilogram, kita bisa menjual di harga Rp24-25ribu per kilogram. Sementara berat satu ekor bebek rata-rata 1,2 kilogram, dengan tingkat mortalitas sangat kecil sekitar 2 persen. Jadi, cukup menguntungkan. Apalagi pasarnya sangat luas, berapapun hasil panen sudah ada yang mau menyerap,” katanya.

Lihat juga...