Destinasi Berubah Fungsi, Pelaku Usaha Wisata Beralih Profesi

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Alih fungsi kawasan wisata bahari menjadi fungsi berbeda ikut berdampak bagi pelaku usaha wisata. Eko Prapto, semula adalah pengelola destinasi wisata bahari pantai Tanjung Tuha Pasir Putih. Destinasi wisata alam tersebut bahkan mendapat fasilitas jembatan pelangi, sebuah jembatan warna warni untuk mempercantik lokasi tersebut.

Jembatan pelangi, pasir putih yang jernih untuk wisatawan dan area memancing telah berubah sejak 2019 silam. Sejumlah wisatawan sebutnya masih tetap berkunjung hingga tahun 2020 dengan fungsi pantai berubah. Semenjak alih fungsi area pantai dengan reklamasi pantai, ia dan sejumlah warga yang menggantungkan usaha sektor pariwisata beralih profesi. Sebagian kembali menjadi petani, nelayan dan petambak.

Eko Prapto menyebut isi waktu luang ia memilih mengisi waktu luang dengan kegiatan kreatif. Memiliki sertifikat sebagai pemandu wisata, tata kelola destinasi pariwisata belum bisa dimaksimalkan. Pasalnya area pantai reklamasi di bekas pantai Tanjung Tuha Pasir Putih belum difungsikan sebagai objek wisata. Meski ada sebagian warga berkunjung, pengelolaan telah beralih ke pihak lain.

“Sebelumnya bersama puluhan warga kami bisa mengelola objek wisata pantai Tanjung Tuha Pasir Putih bisa membuka warung untuk menjual kuliner makanan, minuman ringan namun semenjak awal 2020 warga tidak memiliki usaha berkaitan dengan sektor pariwisata,” terang Eko Prapto saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (4/7/2021).

Eko Prapto menyebut bekal pelatihan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tetap ditekuninya. Ia mulai menekuni usaha pembuatan minatur rumah panggung, minatur perahu. Hasil karya yang memanfaatkan bahan bahan dari alam tersebut sebagian dijual. Hasil ratusan ribu bisa diperoleh dengan kreativitasnya.

Hilangnya objek wisata bahari yang semula memiliki kekayaan mangrove, jembatan pelangi sebutnya telah berubah. Namun ia mengaku tetap berharap pengelolaan pantai oleh pihak lain bisa tetap difungsikan sebagai kawasan objek wisata. Ia tetap bisa melakukan usaha kreatif dengan menekuni usaha pembuatan jala atau jaring ikan.

“Meski sektor pariwisata yang ada di tempat tinggal kami telah beralih fungsi, warga tetap bisa memiliki sektor usaha lain,” cetusnya.

Salah satu warga yang semula membuka usaha warung, Mugo, mengaku beralih usaha menjadi petani. Sebelumnya saat pantai Tanjung Tuha Pasir Putih masih memiliki mangrove, jembatan pelangi kunjungan mencapai ratusan orang perhari. Alih fungsi dengan reklamasi berimbas jembatan pelangi rusak secara perlahan. Ia menyebut usaha sebagai petani jadi pilihan meski Tanjung Tuha jadi tempat untuk kegiatan memancing.

“Masih banyak wisatawan minat khusus yang ingin menikmati hobi memancing tapi saya tidak membuka warung, memilih kembali bertani,” ulasnya.

Riska, salah satu warga yang berkunjung ke area pantai Pasir Putih Tanjung Tuha mengaku suasana pantai berubah. Sebagian pantai yang semula ditumbuhi mangrove telah berganti menjadi hamparan tanah. Sebagian area pantai bahkan jadi hamparan untuk bermain bola. Sebagai alternatif sebagian wisatawan mengaku memilih destinasi wisata lain.

Destinasi wisata lain yang tetap bisa jadi alternatif di Bakauheni sebutnya cukup beragam. Meski pantai Tanjung Tuha Pasir Putih yang pada kurun 2019-2020 dikenal dengan spot jembatan pelangi berubah ia bisa berkunjung ke pantai Pinang Gading. Pantai berjarak ratusan meter dari pantai Tanjung Tuha Pasir Putih jadi tempat menikmati mangrove yang belum rusak.

Lihat juga...