Disdik Bekasi Akui Tetapkan Rombel SMP Capai 44 Siswa per Kelas

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Jawa Barat, mengakui tahun ini penetapan jumlah Rombongan Belajar (Rombel) setiap kelasnya dijenjang SMP mencapai 44 siswa. Padahal sesuai aturan secara nasional jumlah per Rombel ditetapkan 36 siswa.

“Suasana pandemi Covid-19 sekarang tentunya yang di PHK banyak, yang sakit banyak, banyak dari mereka tidak mampu sekolah ke swasta karena tidak mampu bayar. Apakah anak tidak sekolah?,” tanya Krisman, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bekasi, saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (22/7/2021).

Dia juga membantah jika Rombel tingkat SMP di Kota Bekasi, jumlah penerimaan siswa baru per kelasnya tembus diangka 48 siswa. Namun jika 44 siswa per kelas ia membenarkan.

“Tahun lalu juga jumlah penerimaan siswa baru tingkat SMP per Rombel tembus diangka 44 siswa. Jadi bukan pertimbangan baru tetapi masih  mengacu pada tahun sebelumnya,” tegas Krisman, mengatakan sesuai data Disnaker banyak orang tua siswa saat ini di PHK dari tempat kerjanya.

Menurutnya kondisi pandemi seperti sekarang ini banyak orang tua murid tidak mampu, untuk masuk ke sekolah swasta. Sehingga banyak sebelumnya orang tua yang menyekolahkan anaknya di SD swasta setelah lulus memilih masuk ke sekolah negeri.

Ia pun menyebut bahwa pemerintah tetap memikirkan sekolah swasta karena merupakan bagian dari dinas pendidikan. Tetapi jelasnya kondisi pandemi ini yang miskin pun banyak yang meninggal dan yatim sehingga mereka tidak mampu sekolah swasta.

“Ini juga sesuai kewenangan kepala daerah melalui Perda Nomor 47 jelas kewenangan ada di pemerintah daerah agar anak jangan sampai tidak sekolah. Kecuali sekolah swasta bersedia menggratiskan peserta didik baru,” jelas Krisman.

Lebih lanjut ia menyampaikan, Disdik saat ini masih melakukan pendataan sekolah mana saja yang tidak dapat murid. Karena sekolah negeri dan swasta dalam undang-undang itu sama saja.

Tapi sekarang jadi persoalan kondisi pandemi banyak masyarakat terpapar Covid-19, jadi terkendala di ekonomi. Disdik pun masih melakukan penelusuran kepada siswa yang dikatakan yatim piatu.

“Tahun ini banyak desakan masyarakat yang ingin sekolah di negeri, makanya dibuat penelusuran benar ga tidak mampu,”pungkasnya menegaskan PPDB telah ditutup.

Sementara Kepala Sekolah SMP Negeri 8 Kota Bekasi, Arifin Budiana dikonfirmasi terpisah terkait laporan yang diterima Cendana News bahwa hingga Kamis, 22 Juli, masih menerima siswa baru meski PPDB telah selesai membantah hal tersebut dengan mengatakan sudah ditutup sejak 9 Juli lalu.

Namun ketika dikirim data yang diterima Cendana News terkait nama dan lainnya, Kepala Sekolah SMP Negeri 8 Kota Bekasi, mengaku tidak tahu. “Lah kurang tahu, kan Abang yang tau sumbernya?, jangan tanya saya,” tulis Kepsek SMP Negeri 8.

Data tersebut diterima Cendana News dari Ketua Bidang Hukum BMPS Kota Bekasi, Misan Heryanto, yang didapatnya langsung dari data sekolah bersangkutan. Misan mengatakan bahwa data itu penerimaan pada hari ini, Kamis (22/7/2021).

Lihat juga...