Dua Pelaku Pungli ‘Rapid Test’ di Lamsel, Diringkus

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Dua pelaku pungutan liar (pungli) terkait surat rapid test antigen di Pelabuhan Bakauheni dikenai pasal berlapis.

Kapolres Lampung Selatan, AKBP Edwin, menyebut dua tersangka berinisial A berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu instansi di Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel). Tersangka B merupakan pengurus penyeberangan bus.

AKBP Edwin menyebut kedua tersangka dijerat pasal pemerasan 365 KUHP dengan ancaman 9 tahun penjara. Selain itu kedua tersangka terbukti melanggar UU No 4 Tahun 1984 pasal 14 Tentang Penyebaran Penyakit Menular.

Keduanya ditangkap setelah video viral pada aplikasi Tiktok @saedwin yang mengunggah dua pelaku memungut uang. Uang sebesar Rp100.000 digunakan membayar agar lolos tanpa surat rapid test antigen.

Petugas Polres Lampung Selatan mengecek surat bebas Covid-19 di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Jumat (16/7/2021) – Foto: Henk Widi

Kronologinya ungkap AKBP Edwin, kedua pelaku beraksi pada Minggu (11/7/2021) dan Senin (12/7/2021). Polres Lamsel ungkapnya melakukan penyelidikan atas video yang dilakukan saat masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat.

Kedua pelaku melakukan aksinya pada sejumlah bus antar kota antar provinsi (AKAP) sebelum menyeberang via pelabuhan Bakauheni tujuan Jawa.

“Berdasarkan investigasi modus kedua pelaku dengan meminta uang jaminannya bisa lolos tanpa harus memiliki surat rapid test antigen dalam bus, dengan menyerahkan sejumlah uang kepada kedua pelaku. Peran keduanya saling membantu untuk meloloskan bus dari pemeriksaan,” terang AKBP Edwin dalam ungkap kasus di Mapolres Lampung Selatan, Jumat (16/7/2021).

Kedua pelaku sebut AKBP Edwin salah satunya B melakukan pemeriksaan kepada bus, penumpang. Karena pelaku B tahu ada yang membawa rapid test antigen lalu ia berkomunikasi dengan salah satu petugas.

Petugas tersebut adalah A salah satu oknum instansi Pemkab Lamsel yang diperbantukan di Seaport Interdiction (SI) Bakauheni. Aksi kedua pelaku dilakukan selama dua kali.

Berdasarkan penyelidikan, salah satu bus AKAP yakni bus Laksmi asal Sumatera tujuan Jawa. Jumlah penumpang di bus yang tidak memiliki rapid test sebanyak 5 penumpang.

Hasil kalkulasi dari bus tersebut diperoleh Rp500.000. Mulus dalam menjalankan aksinya kedua pelaku melakukan hal yang sama pada bus Handoyo. Aksinya dilakukan malam hari dengan total uang diperoleh Rp1,3 juta.

“Kedua pelaku terbukti melakukan pemerasan memanfaatkan momen kedaruratan kesehatan sehingga dikenakan pasal berlapis,” ulasnya.

Salah satu pelaku perjalanan yang akan menuju ke pulau Jawa, Narso mengaku mengapresiasi penangkapan kedua pelaku.

Ia menyebut sejak satu tahun terakhir selama pembatasan perjalanan dengan kapal menjadi ajang pungli sejumlah oknum. Ia mengaku pernah mendapat tawaran agar bisa menyeberang tanpa pemeriksaan. Langkah yang dilakukan dengan menumpang truk logistik.

Menumpang truk logistik pisang sebutnya asal Palas tujuan Serang ia dikenai biaya Rp300.000. Sebagian uang sebutnya digunakan oleh sopir untuk memberi uang pada oknum.

Diungkapnya modus meminta uang bagi pelaku perjalanan yang tidak memiliki surat bebas Covid-19 akan mengurangi pungli. Sebagian calon penumpang kapal sebutnya wajib melakukan rapid test  atau bisa membawa sertifikat vaksin Covid-19.

Selain via pengemudi truk, modus yang digunakan oknum diakui Narso seperti yang viral di video. Pelaku akan menawarkan jalan damai saat surat kesehatan bebas Covid-19 tidak dimiliki.

Ia mengaku miris saat PPKM Darurat masih ada oknum yang memanfaatkan celah untuk kepentingan pribadi.

Ia menyebut penyekatan yang dilakukan menjadi langkah agar memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Lihat juga...