Dua Terdakwa Kasus Korupsi Puskesmas Bola Divonis Bersalah

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Pengadilan Tipikor Kupang telah memutuskan perkara dua terdakwa kasus korupsi pembangunan Puskesmas Bola, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka,Nusa Tenggara Timur (NTT) dan terdakwa menerima hasil keputusan.

“Kedua terdakwa sudah divonis bersalah oleh Pengadilan Tipikor Kupang tanggal 30 Juni lalu,” kata Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri (Kejari) Sikka, Nurbadi Yunarko saat konferensi pers di Kantor Kejaksaan Negeri Sikka, Senin (19/7/2021).

Badhie sapaannya menyebutkan, DB selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam proyek ini diputus dengan pidana penjara selama 4 tahun 6 bulan penjara, denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan.

Kontraktor pelaksana DK diputus dengan pidana penjara 5 tahun 6 bulan serta denda Rp 200 juta, pidana tambahan subsider penjara 1 tahun penjara dan subsider  kurungan selama 3 bulan.

“Saat proses pembuktian di persidangan,keduanya dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran hukum. Kita juga sudah lakukan eksekusi karena terdakwa tidak melakukan upaya hukum banding,” jelasnya.

Badhie  menambahkan, terkait keterlibatan orang lain dalam kasus ini selain kedua tersangka sesuai bukti yang terungkap saat persidangan ia mengaku akan melakukan koordinasi lebih lanjut.

“Kita akan dalami lagi dan terkait dengan bukti-bukti di persidangan perlu kami dalami lagi apakah akan mengarah ke sana atau tidak,” ungkapnya.

Badhie mengatakan, pihaknya sebagai penyidik harus bertindak profesional sebab setidaknya harus memenuhi dua alat bukti.

Ia menambahkan, apapun hasil persidangan akan dipelajari lebih lanjut apakah ada tersangka lainnya atau tidak.

Terkait kasus dugaan korupsi pengadaan trafo di IGD RS TC Hillers Maumere, apakah terpenuhi unsur korupsi ia menyampaikan sejauh ini mengarah ke sana.

“Artinya butuh pendalaman lagi dalam kasus ini. Terkait modus operandi, main sterea, siapa yang patut bertanggung jawab harus dicari lagi,” ungkapnya.

Badhie mengatakan, memang ada kerugian berdasarkan hasil audit  dari kantor Inspektorat Kabupaten Sikka.

Disebutkannya, dalam ranah penyelidikan penanganan kasus tindak korupsi, temuan tersebut bersifat administrasi sehingga harus dilakukan audit insvestigasi lagi.

“Butuh pendalaman lagi dan dicari lagi.Memang ada kerugian negara versi inspektorat.Kami sedang mempersiapkan audit investigasi karena harus memegang data-data awal,” ungkapnya.

Sementara itu Kajari Sikka, Fahmi menambahkan, kasus trafo sudah ada perbuatan melawan hukum,ada kerugian negara dan tidak ada alasan menghentikan perkara tersebut.

Fahmi menjelaskan, kasus Covid-19 membuat penanganan perkara masih terhambat karena pihak-pihak yang diperiksa terpapar dan internal kejaksaan juga ada 8 orang yang terpapar.

“Sebelum kita menindaklanjuti perkara trafo ada perkara yang sudah dilakukan penyidikan. Setelah perkara ini dilakukan penahanan tersangka baru sesudahnya kasus trafo akan dilanjutkan,” terangnya.

Fahmi menegaskan, pihaknya tetap melanjutkan perkara tersebut karena semua unsur sudah terpenuhi. Pihaknya masih melakukan pendalaman dan masih banyak alat bukti yang perlu dikumpulkan.

Sebelumnya, Kejari Sikka menetapkan dua tersangka kasus dugaan pembangunan Puskesmas Bola senilai Rp3,969 miliar tahun 2019 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).

Lihat juga...