Hibur Wisatawan, Desa Kojadoi Benahi Sanggar Tari

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Untuk menunjang pariwisata dan memberikan hiburan kepada para wisatawan yang datang berkunjung, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Monianse Desa Kojadoi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berupaya mengembangkan sanggar tari.

“Kami mengembangkan sanggar tari La Malino dan Monianse untuk menyuguhkan tarian kepada wisatawan yang datang berkunjung,” kata El Anshari, Ketua Pokdarwis Monianse, Desa Kojadoi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, NTT saat dihubungi, Minggu (18/7/2021).

Anshari mengatakan, peserta sanggar tari berasal dari anak-anak sekolah dasar hingga para remaja serta ibu-ibu yang ada di Desa Kojadoi.

Ia sebutkan, kelompok tari diberikan latihan tarian asal Buton, Sulawesi Selatan yang merupakan warisan dari leluhur mereka.

Leluhur mereka yang berasal dari Buton tersebut, telah menetap puluhan tahun di Desa Kojadoi dengan bekerja sebagai nelayan.

“Saat pandemi Corona tidak ada wisatawan yang berkunjung sehingga anak-anak di sanggar bisa memiliki waktu lebih banyak untuk berlatih menari. Mereka juga berlatih tari Hegong asli Sikka,” ucapnya.

Anshari mengatakan, setiap ada tamu undangan maupun wisatawan yang datang berkunjung ke desanya maka selalu disuguhi dengan tarian, apalagi jika datang berombongan.

Menurutnya, dalam membawakan tarian sekaligus mempromosikan adat dan budaya masyarakat di Desa Kojadoi.

Disebutkannya, tarian juga merupakan salah satu atraksi wisata yang bisa menghibur wisatawan dan menjadi salah satu paket wisata di Desa Kojadoi.

“Kita ingin memperkenalkan adat dan budaya juga selain keindahan alam. Maka selalu digali tarian tradisional untuk diajarkan kepada anggota sanggar,” ungkapnya.

Sekretaris Pokdarwis Monianse, Desa Kojadoi, Fifin Aryansah mengatakan, pihaknya pun selalu mengikuti pentas budaya yang diadakan Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di Kota Maumere.

Sekretaris Pokdarwis Monianse, Desa Kojadoi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, NTT, Fifin Aryansah saat ditemui di desanya, Selasa (30/6/2021). Foto: Ebed de Rosary

Fifin katakan, dengan berpentas anggota sanggar bisa mengetahui sejauh mana kelebihan dan kekurangan mereka sehingga bisa menjadi bahan evaluasi untuk pembenahan.

“Kita selalu hadir setiap ada pentas budaya di Kota Maumere agar anggota sanggar bisa memiliki mental untuk tampil di depan umum. Mereka juga bisa mempelajari apa yang harus ditingkatkan dan diperbaiki,” ucapnya.

Lihat juga...