Hidangan Mi Basah, Kreasi Menarik Kala Pandemi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Maraknya penyedia kuliner mi di sejumlah tempat usaha tidak lantas membuat warga surut berkreasi. Banyak warga yang juga memilih membeli bahan mi setengah jadi dan dimasak dengan kreasi sendiri. Tentu saja juga menjadi hidangan yang  menarik di kala pandemi.

Novianti, pecinta mi di Kelurahan Bumi Waras, Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung, misalnya memilih membeli mi basah.

Novianti, salah satu warga di Kelurahan Bumi Waras, Bandar Lampung membeli mi basah untuk digunakan dalam pembuatan mi ayam, Sabtu (17/7/2021) – Foto: Henk Widi

Mi basah sebut Novianti merupakan bahan setengah jadi sebab bisa diolah menjadi kuliner sesuai selera. Mi yang kerap dibeli sebutnya berupa mi telur basah. Mi basah jenis tersebut dibuat dari telur dan tepung terigu dengan ciri khas warna kuning cerah.

Ukuran mi basah yang dibeli kerap berukuran kecil dan besar dengan bentuk bulat. Jenis mi yang juga dibeli berbentuk pipih atau gepeng.

Mi basah sebutnya merupakan jenis mi basah mentah yang masih butuh pengolahan lebih lanjut. Agar bisa disimpan dalam waktu lama ia memakai kemasan kedap udara. Mi basah akan diolah menjadi mi ayam kesukaannya.

Sebagai pengganti nasi ia memilih mi basah jadi sejumlah olahan karena mi tersebut tidak memakai bahan pengawet. Mi basah kerap digunakan untuk sejumlah hidangan, sebelum diolah ia bisa menyimpan dalam lemari pendingin.

“Sebagai warga keturunan Bangka Belitung sajian mi koba kerap saya buat sebagai pengobat kerinduan akan mi tanah kelahiran. Saya berkreasi dengan bumbu dan pelengkap lain agar lebih sehat dan sesuai selera keluarga. Sekaligus menyajikan hidangan tanpa keluar rumah selama penyekatan sejumlah akses jalan,” ungkap Novianti saat ditemui Cendana News, Sabtu (17/7/2021).

Novianti bilang per kilogram mi basah dibeli seharga Rp15.000. Sebagai cara menghemat ia mengaku membeli mi basah yang bisa dihidangkan pada satu anggota keluarga. Setengah kilogram mi basah sebutnya bisa dibuat menjadi empat porsi mi ayam.

Sisanya bisa digunakan untuk pembuatan hari berikutnya. Dibanding membeli mi ayam jadi seharga Rp10.000 per mangkuk, ia memilih membeli mi basah.

Pedagang mi basah, Hartono Chan, menyebut mi jadi salah satu kebutuhan pokok. Berjualan di pasar Gudang Lelang saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tetap dilakukannya sebagai bagian sektor esensial.

Ia menjual mi basah normalnya hingga 200 kilogram untuk memenuhi kebutuhan ibu rumah tangga, pedagang kuliner. Namun ia memilih mengurangi jumlah mi basah yang dijual.

“Meski banyak permintaan namun dominan dari ibu rumah tangga, sejumlah pemilik warung mi sebagian tidak beroperasi,” ulasnya.

Porsi penjualan mi basah sebutnya cukup seimbang jenis mi kecil hingga besar. Dijual seharga Rp15.000 per kilogram, sebagian pelanggan membeli dua hari sekali.

Membeli mi dalam jumlah banyak banyak dilakukan sebelum Hari Raya Iduladha 1442 Hijriah. Sebagian warga membeli mi basah untuk stok sebab pedagang dan produsen mi dipastikan libur sehari sebelum Iduladha.

Pecinta mi kreasi sendiri, Wandriasari, warga Bumi Waras menyebut ia membuat mi ayam dari mi basah. Sebelumnya ia kerap menikmati sajian kuliner dari warung mi ayam favoritnya.

Imbas pandemi dan pembatasan operasional dengan larangan makan di tempat (dine in) ia memilih opsi lain. Membeli sebanyak dua kilogram mi basah akan digunakannya untuk kebutuhan sepekan.

“Saya membuat mi ayam dengan bahan mi basah untuk empat porsi, bumbu hingga taburan ayam sudah dipersiapkan,” ulasnya.

Berkreasi kuliner dengan mi basah menjadi mi ayam sebutnya menjadi cara berhemat. Ia mengaku penghematan bisa menjadi cara untuk menabung.

Sebagai perbandingan mi basah per kilogram bisa digunakannya untuk membuat sebanyak enam hingga delapan porsi.

Kreasi mi ayam memakai daging ayam, bumbu rempah dan sayuran. Kuliner kreasi sendiri menjadi cara berhemat dan menjamin kesehatan mi ayam yang dibuat.

Lihat juga...