INAIFAS Jember – UIN Surakarta Bedah Buku ‘Arah Baru Manajemen Pondok Pesantren’

Editor: Koko Triarko

JEMBER – Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, Jawa Tengah, menjalin kerja sama dengan Perguruan Tinggi INAIFAS, Kencong, Jember, Jawa Timur, dan membahas MoU tentang tridharma perguruan tinggi, salah satunya pengembangan pendidikan yang diisi dengan acara bedah buku.

Wakil Rektor UIN Raden Mas Said, KH. Dr. Syamsul Bakri, M.Ag., mengatakan kunjungan yang dilakukan merupakan ajang menjalin kerja sama antara UIN Raden Mas Said dengan INAIFAS, dalam rangka mewujudkan tridharma perguruan tinggi.

“Kerja sama yang kami lakukan sebagai dasar menerapkan nilai-nilai tridharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, pengajaran dan pengabdian. Dalam hal ini, salah satu butir kegiatan yang dilakukan ialah bedah buku,” ujar KH. Dr. Syamsul Bakri, M.Ag., kepada Cendana News, di Jember, Kamis (1/7/2021).

Syamsul menambahkan, pendidikan menjadi nilai utama dalam khazanah ilmu pengetahuan. Kualitas pendidikan yang baik, akan memiliki dampak positif, bagaimana membangun suatu peradaban di kemudian hari.

“Banyak cara bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan. Baik secara individu maupun kualitas penerapan sistem pendidikan yang dilakukan. Seperti halnya yang kita lakukan saat ini, merupakan upaya peningkatan kualitas diri, dengan membedah suatu referensi yang dihasilkan dari dosen pengajar,” ucapnya.

Menulis suatu karya bukan hal yang mudah, Syamsul mengatakan, perlu ada daya analisis yang kuat dan intelektualitas yang tinggi. Karena buku merupakan referensi, yang nantinya dapat membangun suatu adaptasi ilmu baru untuk dijadikan bahan edukasi, maupun bahan pembelajaran.

“Menulis karya ilmiah dalam bentuk buku tidak dapat dilakukan sembarangan. Karena nantinya akan memiliki dampak yang buruk. Seperti salah satu karya dosen INAIFAS yang berjudul ‘Arah Baru Manajemen Pondok Pesantren’. Tentu perlu cara dan metode khusus bagaimana hasil tulisan dapat memberikan potensi edukasi dalam kehidupan pondok pesantren, tanpa mengubah budaya yang sudah ada sejak dahulu,” jelasnya.

Dr. Fauzan Adhim, M.Pd.I, penulis buku, mengatakan dalam mengkaji peradaban kehidupan pondok pesantren dengan membawa teori peradaban modern, sejatinya tidak salah. Namun, banyak yang salah kaprah bagaimana realitas kehidupan pondok pesantren yang sebenarnya.

“Manajemen yang selama ini dijalankan di masing-masing pondok pesantren, tentunya berbeda-beda. Salah satunya teori baru dalam ilmu manajemen modern masih mampu untuk diadaptasikan dengan pengajaran di pondok pesantren, namun tidak menghilangkan esensi budaya dan mempertahankan tradisi serta keunikan dalam kehidupan pondok pesantren,” ucapnya.

Perkembangan ilmu yang modern juga mampu diterapkan dalam lingkungan pondok pesantren, Fauzan menyebutkan, sebagaimana pola pendidikan baru dalam pondok pesantren, yakni pesantrenpreneur dan pesantren virtual.

“Ilmu baru menjadi adaptasi baru dalam dunia pendidikan, jika tidak bisa beradaptasi dengan ilmu baru, maka siapapun tidak akan berkembang. Dengan hadirnya pesantrenpreneur dan virtualpreneur merupakan ilmu baru, pola pengajaran baru dalam kehidupan pondok pesantren, namun tidak mengubah esensi dan ciri khas dari pondok pesantren itu sendiri,” terangnya.

Fauzan menambahkan, dalam manajemen pendidikan ada dua hal yang paling penting. Pertama, tentang subtansi yang berisi kurikulum, dan yang ke dua merupakan eksistensi yang mencakup pengembangan jangkauan manajemen pendidikan. Hal itu menurut dirinya ada dalam kajian buku yang baru saja ia tulis tentang arah baru manajemen pondok pesantren.

Lihat juga...