Ini Kelebihan Janoko, Ras Ayam Kampung Unggulan Terbaru

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Pengembangan budidaya ayam Kampung Unggulan Balitbangtan (KUB) “Janoko” diharapkan mampu menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan impor komoditas DOC ayam boiler baik jenis petelur ataupun pedaging dari luar negeri.

Ketua Koperasi Peternak Ayam Kampung Unggul (Kopagup) Yadiman di Yogyakarta, Senin (5/7/2021). Foto: Jatmika H Kusmargana

Pasalnya selain merupakan ras ayam hasil produksi murni dalam negeri, Janoko yang merupakan ayam KUB terbaru hasil inovasi tahap II Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ini juga memiliki berbagai keunggulan dan kelebihan, yang tidak dimiliki jenis ayam lainnya.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Koperasi Peternak Ayam Kampung Unggul (Kopagup) Yadiman, kepada Cendananews, di Yogyakarta, Senin (05/07/2021).

Yadiman mengatakan, salah satu kelebihan ayam Janoko antara lain adalah perkembangannya yang lebih cepat dibandingkan dengan ayam lainnya. Jika ayam boiler memasuki usia bertelur pada usia tujuh bulan, maka ayam Janoko mampu bertelur pada usia 5 bulan. Tingkat produktivitas juga sangat tinggi, yakni mencapai 180 ekor per tahun. Tak hanya itu, ayam Janoko juga memiliki bobot lebih berat dibanding ayam boiler. Yakni mencapai 2 kilo untuk betina serta 3 kilo untuk jantan dengan masa panen sekitar 6 bulan.

“Jadi ayam Janoko ini multifungsi. Bagus dijadikan sebagai ayam petelur ataupun sebagai ayam pedaging. Dibandingkan ayam boiler, ayam Janoko juga lebih mudah diperlihara serta lebih tahan penyakit. Sehingga bisa dipelihara oleh semua lapisan masyarakat. Karena merupakan ayam kampung, rasa daging atau telurnya tentu juga lebih enak, dibandingkan dengan ayam boiler,” ungkapnya.

Yadiman mengakui selama ini usaha budidaya ayam pedaging atau petelur masih didominasi oleh pemain besar. Sehingga persoalan ini kerap membuat harga menjadi tidak stabil. Karena itu melalui Kopagup ia mengaku ingin mengkonsolidasikan proses produksi semua peternak ayam KUB. Dengan begitu, keseimbangan harga bisa terjaga.

“Kita akan menyalurkan DOC Janoko bagi semua peternak di semua wilayah. Karena kita sudah pegang lisensinya. Selain itu kita juga sedang mengembangkan pembuatan pakan mandiri, sehingga diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada pabrik. Mudah-mudahan dengan adanya Kopagup ini budidaya ayam KUB semakin berkembang. Harganya juga stabil, dimana peternak tidak rugi, masyarakat juga bisa menjangkau,” katanya.

Lihat juga...