Ini Strategi Pelaku Usaha Kuliner di Bandar Lampung Menghadapi PPKM Mikro

Editor: Maha Deva

LAMPUNG – Sejumlah pelaku usaha kuliner di Kota Bandar Lampung, kembali merasakan dampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang saat ini diberi tambahan nama, Mikro Darurat. Pemerintah Kota Bandar Lampung, memberlakukan PPKM mikro darurat sejak Jumat (2/7/2021) hingga Selasa (20/7/2021) atau berlaku selama 19 hari.
Sejumlah pelaku usaha kuliner di Bandar Lampung, memilih menghadapi hal tersebut dengan strategi, agar tetap bisa bertahan. Haji Kemin, pedagang sop kikil sapi dan sop campur, mengaku memilih membuka usaha lebih siang. Pedagang di Jalan Ikan Tongkol, Teluk Betung, Bandar Lampung itu menyebut, normalnya buka setelah maghrib.
Biasanya, ia mempersiapkan usahanya dengan membuka tenda, setelah rumah toko (ruko) tutup. Namun, kini pemilik ruko telah memberi kesempatan baginya untuk membuka lebih awal. Kondisi pandemi COVID-19, berimbas pada perubahan jam operasional. Meski tetap diperbolehkan buka hingga pukul 20.00 WIB, hal itu tetap membuat jumlah pelanggan yang datang berkurang.
Sebagian pelanggan, memilih memesan sop dengan sistem dibungkus untuk dibawa pulang daripada makan ditempat. Agar tidak rugi, ia membuka usaha lebih awal, dan memilih mengurangi stok bahan yang dijual. “Dampak bagi pelaku usaha kuliner sistem bongkar pasang memakai tenda seperti kami, tentunya menurunkan jumlah pelanggan, serta omzet akan berkurang. Sementara operasional upah karyawan dan bahan baku tetap,” terang Kemin, saat ditemui Cendana News, Sabtu (3/7/2021).

Salah satu pedagang buah segar di Jalan Yos Sudarso, Teluk Betung, Bandar Lampung tetap beroperasi penuhi kebutuhan sejumlah warga untuk pembuatan es buah, Sabtu (3/7/2021) – foto Henk Widi
Buka lebih awal, juga dilakukan Harsiah, pedagang sate Cak Udin di Jalan Ki Maja, Bandar Lampung. Buka lebih awal, membuat ia mengurangi jumlah sate dan sop kambing yang dijajakan. Sebelum pemberlakuan PPKM Mikro darurat. ia bisa menyediakan 5000 tusuk sate ayam dan kambing. Sebanyak 10 kilogram bahan sop berupa daging, kikil dan tulang juga disiapkan. “Selama pelaksanaan PPKM Mikro dikurangi menjadi 3.500 tusuk sate dan sop dikurangi, takut tidak habis terjual,” ulasnya.
Meski sebagian pelanggan memilih memesan untuk dibawa pulang, selama pemberlakuan PPKM Mikro, jumlah konsumen yang datang berkurang. Harsiah, bisa beroperasi hingga pukul 23.00 WIB malam, untuk layanan pemesanan dibawa pulang dan tanpa melayani makan di tempat.
Bagi pedagang gerobak dorong seperti, Hamidah, berdagang lebih awal akan sangat membantu. Pedagang makanan otak-otak, bakso ikan dan nuget ikan di Jalan Sriwijaya, Enggal, Bandar Lampung itu, bisa menyesuaikan jam operasional usaha dengan kebijakan PPKM mikro darurat. Ia biasa membuka usaha sejak pukul 07.00 WIB dan tutup pukul 20.00 WIB. “Asal bukanya lebih pagi, setelah maghrib kami juga sudah bisa mendorong gerobak untuk dibawa pulang,”terangnya.
Hamidah menyebut, omzet harian dagangannya bisa mencapai ratusan ribu. Hasil tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Normalnya, saat akhir pekan dengan adanya acara di Taman Gajah, ia bisa mendapat hasil hingga lebih dari Rp1juta. Semenjak keramaian ditiadakan, penghasilannya merosot.
Lihat juga...