Inovasi Teknologi Jadi Solusi Menjaga Produktivitas dan Penjualan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Kehadiran teknologi diharapkan bisa menjadi solusi untuk tetap menjaga produktivitas dan penjualan produk UMKM yang mau tidak mau harus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen saat ini.

Koordinator Inkubasi Teknologi, Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Iptek, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ana Harlina menjelaskan inovasi teknologi dalam membantu pelaku UMKM, dalam acara peningkatan produktivitas UMKM, yang diikuti Cendana News, Selasa (6/7/2021) – Foto Ranny Supusepa

Koordinator Inkubasi Teknologi, Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Iptek, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ana Harlina menjelaskan, UMKM adalah suatu usaha yang memiliki aset hingga Rp500 juta dan omset hingga Rp2,5 miliar per tahun tapi mampu menyumbang 34,12 persen dari keseluruhan kontribusi sektor usaha di Indonesia.

“Pengusaha yang berada dalam kelompok ini sering menemukan masalah dalam masa pandemi ini. Baik dari sisi penjualan maupun produksi. Ini adalah masalah bersama yang dicoba selesaikan dengan teknologi, untuk meningkatkan produktivitas usaha dan penjualan mereka agar tetap dapat bersaing di masa pandemi ini,” kata Ana dalam acara peningkatan produktivitas UMKM, yang diikuti Cendana News, Selasa (6/7/2021).

Ia mengungkapkan, produktivitas itu kuncinya adalah memanfaatkan sumber daya secara efektif dan efisien untuk menghasilkan suatu produk dengan harga jual yang sesuai.

“Untuk mencapai ini, pelaku UMKM harus memahami dulu sumber daya, baik manusia, mesin hingga bahan baku yang dimilikinya agar dapat menghasilkan suatu produk dan mungkin juga penambahan nilai tambah dalam produk, sehingga produk dan nilai tambahnya dapat memberikan hasil yang sesuai dengan harga, bersaing dengan produk lain dan memiliki nilai jual yang baik,” ucapnya.

Setelah meningkatkan persentase produktivitas maka selanjutnya adalah menyusun strategi pemasaran produk.

“Secara teori, ini disebut Marketing Strategy, yang meliputi penelitian hingga perencanaan. Tapi secara singkat, pelaku UMKM perlu melihat kondisi produknya, tepatnya dipasarkan dengan cara apa sambil membandingkan dengan produk sejenis yang dijual oleh pelaku UMKM lainnya,” ucapnya lagi.

Langkah ini juga meliputi pada adaptasi cara penjualan di saat pandemi seperti sekarang.

“Misalnya, kalau dulu jualan door to door atau menunggu pelanggan, sekarang bisa digantikan penawaran di WA grup dan mempersiapkan layanan antar. Bisa juga memanfaatkan e-commerce dari berbagai portal yang sekarang banyak sekali beredar di dunia maya. Sistem pembayaran pun sebaiknya mengikuti, yang dulu cash saja, sekarang bisa menerima pembayaran non tunai,” kata Ana.

Proses adaptasi ini memang hal yang baru, terutama bagi pelaku UMKM yang dulunya tidak terbiasa dengan teknologi.

“Karena itu, LIPI atau lembaga lainnya, banyak yang membuka forum atau wadah digital bagi para pelaku UMKM atau komunitas pelaku UMKM untuk memberikan pelatihan. Atau hanya sekedar suatu forum untuk sharing informasi, yang juga dilakukan secara digital, sehingga tetap bisa diikuti tanpa harus meninggalkan lokasi usahanya maupun rumahnya. Forum ini juga termasuk, untuk mencari dan membandingkan bahan baku,” pungkasnya.

Lihat juga...