Kambing yang Bertengger di Kepala

CERPEN BUDI WAHYONO

MEMASUKI masjid, belum mendaratkan pantatnya di hamparan keramik, Saulud sudah didekati Adipati. Nalurinya segera menajam.

Pasti persoalan menawarkan kambing atau iuran sapi kurban. Dan benar, kalimat pertama sudah mengarahkan pada kesediaan Saulud menjadi salah satu penyumbang hewan kurban. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Iduladha ini, menyumbang kambing lagi kan Pak, atau ramai-ramai ikut iuran beli sapi? Sudah belasan orang yang bersedia,” bisiknya.

Belum sempat memberi jawaban jemaah yang lain bergiliran masuk pintu masjid. Adipati minta izin pada Saulud untuk mendekati orang–orang yang baru datang. Yang tahun lalu juga memberi sumbangan hewan kurban.

Bisik-bisik kembali dilakukan. Pak Mustofa giliran menjadi sasaran. Terlihat sekilas oleh Saulud, kalau Pak Mustofa manggut-manggut. Adipati surut beberapa langkah, menemui Saulud lagi, dan meyakinkannya.

“Alhamdulillah Pak Mus sudah oke. Sudah enam belas orang sekarang,” sambil memandang Saulud, dengan harapan lebih yakin. Saulud hanya mengangguk-angguk, dan basa-basi menimpali.

“Mudah-mudahan tambah banyak yang memberi hewan kurban.”

“Aamiin,” jawab Adipati mantap. Lelaki tambun berusia lima puluh lima tahunan yang tubuhnya hitam legam itu terkesan seperti blantik tulen.

Membeli hewan dari desa daerah Purwodadi, dibawa ke Semarang, dan ditawarkan pada warga sekitar masjid. Orang tidak pernah mengusut dia terhitung pengurus masjid atau bukan. Tetapi banyak orang yakin kalau dia termasuk pengurus masjid. Paling tidak pada hari besar.

Kecerdasannya tidak seberapa. Dia menjadi kesohor hanya karena keberaniannya main gertak. Hampir setiap salat berjemaah, ada anak yang terkekeh ala kadarnya saja, sudah digertak.

Ada orang ikut salat, lupa membawa masker, dia pun langsung memberikan masker dengan kata-kata yang terkesan menghardik.

“Ayo Pak, pakai Pak, ini masker baru kok!”

“Terima kasih, saya sudah membawa dua kok,” sahut pendatang baru yang akan ikut salat. Adipati mundur sejenak. Orang yang diajak bicara memberi saran bagus.

“Pak, supaya orang tidak ragu, mengesankan masker ini masker baru, sebaiknya ditaruh plastik di depan. Masjid-masjid yang saya kunjungi rata-rata begitu.”

“Betul Kang, sarannya bapak ini. Tidak usah kamu sodor-sodorkan begitu,” timpal Mardikun yang selama ini gemas dengan kelakuan Adipati yang terkesan sok heroik. Adipati tidak berani menjawab. Didiamkan dua orang itu melanjutkan aktivitas dalam masjid.

Sikap Adipati yang terhitung berlebihan, rupanya tidak hanya membuat pikiran Saulud kurang nyaman. Pak Gendut, juragan gorengan yang sering mangkal di depan masjid pun merasa risi.

Dia malah berbisik pada Saulud dengan kalimat lantang: “Kalau pas cari orang yang mau kurban, kalimatnya halus… Nanti pas pembagian daging, kurang…”

“Maksudnya bagaimana, Pak?” Saulud mengonfirmasi.

“Warga RT saya memberi kurban tujuh ekor kambing. Setara dengan satu sapi. Mosok pas pembagian, dimintai tiga puluh bungkus sesuai jumlah warga saja tidak bisa. Kami hanya kebagian dua puluh lima. Sebagai ketua RT, saya kan bingung to, Mas. Untung masjid sebelah rumah malah menambahi lima plastik. Pas jadinya. Biar warga yang beragama lain juga menikmati, terasa rukun,” tandas lelaki yang jadi panutan masyarakat itu.

Hari masih pagi ketika gerimis menyiram kampung. Adipati termenung. Di benaknya menghunus kalimat yang membuatnya sulit tidur. Kemarin sore, di halaman masjid terdengar bisik-bisik yang sungguh tidak enak.

Ada sepotong kalimat dari orang yang tidak suka, berbunyi: Apa Adipati sendiri sudah menyiapkan kambing kurban, atau ikut iuran sapi?

Karena tidak mau memasang telinga lebih lanjut, dia tentu tidak tahu jawaban pertanyaan itu. Kini, giliran Adipati untuk menjawab pertanyaan itu dengan gagah.

Kambing miliknya yang di kandang di pinggir kampung sebanyak enam ekor. Salah satunya akan dia jadikan kurban di masjid tempat ia melaksanakan salat berjemaah saban hari.

Dia pun bergegas memajang namanya pada grup WA yang rajin meng-update data penyumbang. Adipati merupakan penyumbang kambing ke sebelas.

Sedangkan penyumbang sapi sudah dua puluh delapan orang alias empat sapi. Rupanya, karena banyak warga yang merambat usia tua, tidak semuanya suka daging kambing. Mungkin takut disergap tekanan darah tinggi atau kolesterol.

“Saya tetap diberi daging kambing lho Kang, biar jos!’” pesan Gudel, pemuda kampung yang bekerja sebagai tukang parkir kepada Adipati.

“Lha kamu… memberi kurban apa tidak?” pertanyaan itu tentu saja menusuk kalbu. Untung Gudel sabar dan tidak mudah tersinggung, sehingga hanya menjawab dengan senyuman.

Adipati kini merasa gagah. Dia berani sombong dengan lantang pada banyak orang agar berkenan menyerahkan hewan kurban.

Pertimbangan yang paling mendasari, dirinya sudah siap berkurban. Kambing warna putih-coklat yang gagah di rumahnya, sudah ditimang-timang mau dikurbankan.

Kambing itu pasti mewah tanpa tanding, bahkan paling gemuk. Demikian berkali-kali Adipati membatin. Mulutnya pun seperti berbusa manakala menghebatkan sosok kambingnya itu.

“Kapan kambing yang katanya jagoanmu itu mau kau bawa ke gelanggang?” tanya Mas Suyuti sungguh-sungguh.

Adipati terkekeh. Lantaran tidak sebatas Mas Suyuti saja yang terus menanyakan Adipati pun merasa risi. Dia pun berencana membawa kambingnya itu ke lapak besok pagi. Minggu pagi, bertepatan dengan banyak orang yang akan ada di sana.

Terlebih jarak lapak atau gelanggang hanya enam ratusan meter dari kandang miliknya, tentu amat mudah menggiring kambingnya.

Saat orang-orang merubung, melihat belasan hewan, Adipati merasa harus pamer. Tali pengikat kambing dilepas dari tiang, berpindah di tangannya.

“Wah, mantap, mantap!” celetuk seorang kawannya dengan panggilan akrab Romo.

“Siapa dulu dong, juragannya…he he he,” nadanya masih setengah pamer. Dan hup! Kambing kebanggaan itu meloncat tanpa terduga.

Bahkan lepas talinya dari tangan Adipati. Adipati gugup. Lari terbirit-birit hampir sampai celana kolornya melorot. Orang-orang yang menyaksikan terkekeh riang.

“Tolong, tolong, pegang kambingku!” perintahnya pada orang-orang di sekitarnya. Lima orang tanggap. Mereka mengejar kambing itu, namun gagal.

Kambing lari bak pelari tangguh dan nyelonong menuju ke kandang. Orang-orang melongokkan wajah takut kehilangan jejak.

“Tidak kepegang Pakde, larinya kencang!” lapor seorang remaja kepada Adipati yang terseok-seok di belakang.

“Lha terus, lari ke mana kambing kesayanganku?!” agak gagap dan ketakutan juga nadanya. Beberapa orang menatap, terkesan menelanjangi sosok Adipati. Napas ngos-ngosan terdengar kencang.

“Sudah masuk kandang Pakde, sudah aman. Begitu masuk, pintu dari bambu kami tutup,” lapor pemuda lain. Lega rasanya hati Adipati.

Langkahnya sudah merapat ke kandang. Kambing yang diunggulkan itu sudah kelihatan. Nampaknya minta perhatian penuh. Mimiknya jelas.

Adipati mencoba mendekati kambingnya, namun sial! Kambing langsung menyeruduknya, hingga kakinya yang terkena sasaran lumayan kesakitan. Adipati berjanji besok atau nanti sore akan membawa kambing itu ke lapak yang sudah dibangunnya.

Namun, musim sulit ditebak. Gerimis turun ke segenap kampung. Niat untuk membawa kambing gagal, dan besok harus dibawanya sekaligus dipamerkan di hadapan publik.

Senja merambat. Angin sedikit kencang. Malam teraduk. Karena rasa lelahnya barangkali, pukul sembilan malam Adipati sudah tergeletak di dipan berlapis kasur untuk tidur.

Pukul sepuluh anak-istrinya menyusul tidur. Dan tentu lampu serumah hanya diterangi listrik lima watt di kamar tengah. Baru jika ada keperluan, lampu lain akan dihidupkan.

Malam merambat. Gelap terasa menenggelamkan kampung. Jangkrik terdengar kencang di sepanjang gundukan semak-semak.

Saat itulah, mendadak sontak Adipati terbangun ketakutan. Istrinya kaget. Bergegas mengambil air putih. Mencoba menenangkan perasaan yang bergemuruh.

“Ada apa Pak, apa yang Bapak takutkan…  Kok kambing-kambing dikembalikan?” istrinya menggiring langsung pada ketakutan mimpinya, sebelum suami itu berusaha mengelak. Mulut Adipati gemetar, menatap istrinya dalam keremangan.

“Kambing kita Bu, kambing yang kemarin kubawa ke lapak, dan lari kembali ke rumah tiba-tiba bertengger di kepala botak saya,” katanya tergagap-gagap.

Istrinya menangkap firasat aneh. Pikirannya menjadi semacam primbon, membolak-balik halaman.

“Minta apa Pak, kambing itu, bisa bicara kan?” desak istrinya terasa menyakitkan. Seolah tahu semua riwayat yang harus diungkap.

“Bu, kamu masih paham sejarah awal kambing itu?” pertanyaannya masih diikuti getaran yang justru menghebat, menakutkan.

“Jujur saja Pak, kambing yang paling tua dulu kamu temukan atau kamu…?” istrnya menguji setajam silet. Adipati tidak kuat mata untuk memandang wajah istrinya yang cantik bersih penuh nasihat.

“Kalau… mencuri bagaimana Bu? Hukumnya?!” ketakutan makin melolosi sendi-sendi tulangnya. Terasa rontok.

“Nah, kalau aku menyarankan. Kambing itu hingga turunannya jangan dikurbankan Pak, takut dosa kita melimpah,” istrinya mencoba memberi nasihat. Kecongkakan Adipati serasa runtuh. Tengkuknya merinding kencang. Kembali menatap istrinya.

“Kita berdua kembali melacak asal mula kambing itu?” tanya Adipati.

“Iya Pak, harus, makin tua kita harus makin bersih,” saran istrinya.

“Tetapi aku terlanjur sombong kepada kawan-kawan di lingkungan masjid untuk menyumbang satu kambing hewan kurban itu,” keraguan semakin menghunus. Dipandanginya Suyati, istrinya dengan degup dada tak beraturan.

“Bapak tidak usah khawatir kalau pemilik kambing meminta kambing-kambing kita. Aku yakin, akan minta sebagian saja. Yang penting pemilik tulus ikhlas memberi kepada kita,” tegas sekali kalimat itu. Adipati terharu. Kembali menatap serius istrinya.

“Bapak tidak usah khawatir, kalungku bisa dijual untuk membeli kambing, memenuhi janji bapak,” lembut suara istrinya.

Adipati mengangguk. Kembali menoleh ke arah belakang. Kembali terbayang kambing jantan itu akan benar-benar datang dan bertengger di kepalanya yang botak. ***

Semarang, Juli 2021

Budi Wahyono, penulis kelahiran Wonogiri, Solo. Ratusan cerita pendeknya tersebar di banyak media cetak maupun online. Kumpulan cerpen terbarunya Tak Ada Sejengkal Tanah untuk Sajadah  (Triken Publisher, 2020). Kini menetap di pinggiran kota Semarang, Jawa Tengah.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...