Kebun Kopi

CERPEN MAHAN JAMIL HUDANI

SATU kalimat yang sering mengusik pikiranku adalah kau sering berkata bahwa kau ingin punya kebun kopi sendiri.

Itu suatu hal yang bahkan hampir-hampir tak pernah terlintas di pikiranku saat itu padahal aku adalah anak seorang petani tulen.

Masa kecilku bahkan dihabiskan di perkebunan kopi milik orangtuaku, di suatu kampung di bawah kaki pegunungan yang membujur sangat panjang di negeri kita, kampung yang semua penduduknya adalah petani kopi.

Awalnya aku tak pernah memperhatikan atau sekadar memedulikan ucapanmu. Aku pikir kau hanya bergurau atau asal bicara saja tentang keinginanmu itu. Aku yakin akan hal itu karena sebagai seorang yang dilahirkan di kota, di pulau yang begitu padat penduduknya, dan tentu tak ada yang berprofesi sebagai petani kopi, bagaimana mungkin kau bisa memiliki keinginan, lebih tepatnya impian seperti itu.

Kau mungkin bahkan tak pernah tahu atau sekadar melihat apalagi masuk ke perkebunan kopi. Kalau toh pernah kau melakukannya, dan entah di mana itu, kau pasti tak akan sanggup berlama-lama di dalamnya.

Aku, jika bertanya padamu pernahkah kau melihat perkebunan kopi dan kehidupan para petaninya, kau hanya tersenyum tanpa menjawab. Aku akan menyimpulkan kau memang belum pernah melihatnya.

Aku lalu akan banyak bercerita padamu tentang itu, menceritakan kehidupan masa kecilku, juga kabar dan cerita dari orangtua dan kakak-kakakku yang berprofesi sebagai petani kopi. Itu karena kau memintaku bercerita.

Kau akan menyimaknya dengan sungguh-sungguh dan bertanya banyak tak hanya kopi dan perkebunannya tetapi juga perkembangan harga kopi dari tahun ke tahun, atau juga tentang orangtua dan keluargaku. Itu semua akan menambah keyakinanku tentang ketidaktahuanmu tentang kebun kopi.

Ya, kau pasti hanya membayangkan hal yang indah tentang kopi, karena yang kau nikmati dan lihat adalah para pemuda dan pemudi yang menghabiskan waktu menikmati kopi di kafe dengan harga mahal.

Kau tahu, segelas kopi yang mereka minum itu harganya bisa sama seperti dua atau tiga kilogram biji kopi yang ayahku jual di kampung sana.

Kau juga pasti tak pernah membayangkan kalau ayah, ibu, dan kakak-kakakku harus bergulat dengan semut baik semut hitam atau rangrang, tawon, nyamuk, bahkan kadang ular dan babi hutan di kebun.

Ahhh…betapa sengsara dan pedihnya jika kau melihatnya.
***
AKU dilahirkan di perkebunan kopi. Rumah orangtuaku berbentuk panggung setinggi lebih dua meter dengan dinding terbuat dari bilah-bilah bambu yang tentu saja menyisakan banyak celah pada pembatasnya.

Untuk menutupi itu, ayah dan ibuku menggunakan koran-koran bekas yang ia beli saat mereka berbelanja kebutuhan seperti minyak goreng, gula, garam, dan lainnya di pasar kecamatan yang jaraknya belasan kilometer dari rumah kami.

Soal sayuran dan cabai, ibu cukup memetiknya dari kebun. Atap rumah dari seng, jika hari sedang panas akan terasa sekali dan aku lebih suka menghabiskan waktu di belakang rumah, berteduh dengan menggelar tikar atau terpal di bawah rerimbunan pepohonan.

Jika hari hujan, suara cucuran hujan dari langit akan terdengar kencang sekali. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu.

Di bawah rumah ada kolong yang ayah jadikan lumbung untuk menyimpan alat-alat pertanian seperti cangkul, koret atau pancong, sabit, golok, juga peralatan untuk menjemur padi seperti terpal, garuk, seng, dan masih banyak lagi.

Oh ya, ayah menyimpan kopi basah yang baru dipetik atau kopi kering yang telah selesai dijemur juga di situ.

Bahkan kayu bakar dari potongan-potongan pohon kopi juga ditaruh di lumbung tersebut, bersama buah-buahan seperti pisang, nangka, kedondong, pepaya, mangga, duren, jambu air, jambu batu, dan sirsak yang sering ayah bawa dari kebun. Soal buah, tak usah khawatir, di kebunku kau tinggal hanya petik kalau ingin.

Hampir semua rumah di kampungku berbentuk panggung. Anak tangganya terbuat dari kayu atau papan. Kami tak perlu membeli karena kayu dan papan tersebut berasal dari pohon-pohon besar yang kami tanam sebagai selingan atau tumpang sari di kebun kopi kami sendiri.

Kami hanya perlu memanggil dan membayar Pak Katno, seorang penebang yang memiliki gergaji mesin yang kami sebut senso – baru di kemudian hari aku tahu jika gergaji itu bernama chain saw – yang akan menebang dan menggergaji pohon-pohon tersebut menjadi kayu dan papan.

Jarak satu rumah dengan lainnya agak berjauhan. Di sekitar rumah kami hanya perkebunan kopi kecuali di depan rumah, karena setiap rumah memiliki halaman yang cukup luas untuk menjemur kopi.

Rumah kami tak memiliki kamar mandi atau toilet. Kami biasa mandi dan buang air besar di kali kecil yang airnya begitu jernih. Ada pancuran-pancuran dari bilah bambu untuk mengguyur atau berwudu.

Jika ada penghuni rumah yang ingin buang hajat pada malam hari misalnya, ada juga jamban di belakang rumah namun jarang kami pakai karena kami lebih senang pergi ke sungai.

Aku sejak kecil – walau agak malas – cukup sering juga ikut ke kebun karena sudah terbiasa melihat ayah dan ibuku ke sana.

Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, betapa susahnya mereka, karena begitu banyak semut dan nyamuk yang menggigit saat mereka membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di bawah pohon kopi dengan koret atau pancong.

Saat panen tiba, orangtuaku memanggul sendiri karung-karung biji kopi tersebut, kadang dibantu kakak. Begitu juga saat menjemur kopi, panas menyengat yang mereka rasakan.

Baca Juga

Kesurupan Ketiga

Mbah Iyem

Rahasia Ibu

Dan kau tahu, harga kopi di kampungku selalu murah, karena para cukong banyak berkuasa di sana, belum lagi lintah darat yang mencekik di saat paceklik.

Ah sudahlah, tentang hal ini aku tak perlu ceritakan padamu lagi, karena tentu kau sudah berulang kali mendengarnya.
***
ITULAH kenapa setelah lulus SD di kampung, ayah dan ibu mengirimku sekolah di pulau seberang, tinggal bersama kakek dan nenek. Ayah dan ibu ingin aku menjadi seorang sarjana yang bekerja kantoran di kota.

“Ko, Kau harus sekolah yang tinggi dan bekerja kantoran. Jangan menjadi petani kopi seperti ayah dan ibu, juga kakak-kakakmu, agar hidupmu tak sengsara.” Itu yang sering menjadi harapan ayah dan ibu.

Selulus SMP dan SMA, ayah dan ibu bertekat keras agar aku bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Aku harus bersyukur bisa kuliah di kota yang merupakan tujuan pedidikan di negeri ini.

Aku lalu bertemu denganmu, dan kau akan sering bertanya tentang kebun kopi. Beberapa tahun kita berteman dekat namun kita tak pernah menjadi sepasang kekasih.

Kita sibuk dan senang dengan impian kita masing-masing. Aku sering bercerita tentang kebun kopi karena kau sering sekali memintaku menceritakannya. Kau sering bercerita juga tentang kehidupan keluargamu yang tak harmonis.

Kau lahir dari keluarga yang broken home. Itulah mengapa kau senang bisa kuliah di kota ini, karena kau bisa tenang dengan kehidupan sendiri, meski jauh di lubuk hatimu kau selalu ingat dan merasa iba akan ibumu di kota asalmu sana.
***
SETELAH lulus kuliah, kita sama-sama menjalani kehidupan kita masing-masing. Suatu hal yang sama-sama tak pernah kita duga dan harapkan adalah bahwa kehidupan kita ternyata tak seindah yang sering kita bayangkan.

Kita sama-sama menjalani kehidupan kita dengan pahit. Begitu juga kehidupan rumah tangga. Bahtera rumah tangga kita masing-masing berjalan seperti roda gerobak milik Kang Slamet yang pernah kuceritakan padamu – seret, penuh gemuruh, juga penuh kotoran tanah dari jalanan yang basah tanpa pernah kering meski musim penghujan telah habis – tetap berjalan walau sarat dengan beban dan kita sama-sama hampir kelelahan dan tak kuat lagi.

“Jika aku jadi kau…Ko, aku akan pulang ke kampung halaman, menjadi petani kopi.” Katamu berulang kali.

“Tha, orangtuaku mengirimku sekolah dan kuliah ke kota dulu, hanya karena mereka tak ingin aku menjadi petani kopi yang hidupnya penuh dengan kesengsaraan.”

“Dengan ilmu dan pengetahuan yang kau miliki, kau tentu bisa menjadi petani kopi plus, banyak hal bisa kau perbuat di sana,” katamu lagi.

“Aku belum paham maksudmu, Tha. Justru aku yakin bisa lebih sukses di sini, pada suatu ketika. Masa pahit ini akan aku lewati.”

“Ternyata pemikiranmu masih konvensional, padahal kau telah menyandang gelar sarjana dan dianggap pandai oleh keluargamu, dan kampungmu kini telah menjadi modern. Aliran listrik dan infrastruktur telah cukup lengkap,” katamu singkat. Dan aku akan berhenti melanjutkan pembicaraan tentang ini.

“Aku ingin sekali punya kebun kopi sendiri di kampungmu sana. Selain aku ingin merasa tenang hidup di kampung dengan anak-anakku, itu juga sebagai obat luka masa muda dan masa kita kuliah.”

Aku benar-benar tak ingin melanjutkan pembicaraan tentang itu lagi dengan Artha. Sudah terlalu banyak beban dan penat di pikiranku.
***
TERNYATA tak mudah untuk tidak memikirkan kalimat-kalimatmu. Kini itu selalu mengusik pikiranku. Aku selalu mencari dan menghubungkan satu sama lain peristiwa-peristiwa dalam kehidupanku.

Kau memang memiliki tempat yang khusus di hatiku yang pada faktanya tak bisa aku ungkapkan. Aku selalu pendam dari siapa pun. Hidup kita memang tak pernah bisa lepas dari kopi, ya hidup kita seperti warna dan aroma kopi.

Aku kembali memikirkan cerita yang sering kukatakan padamu bahwa ayah dan ibuku tak ingin aku menjadi petani kopi karena mereka tak ingin hidupku sengsara.

Kota dan kehidupan, juga pekerjaan kantoran, justru telah membuat hidupku pekat seperti kopi. Aku telah mengalami kepahitan yang luar biasa.

Pikiranku diselimuti bayangan kopi yang hitam, para cukong yang berkuasa membeli murah kopi para petani, para renternir yang meminjamkan uang dengan bunga yang mencekik pada masa paceklik yang membuat para petani tak pernah bisa hidup sejahtera padahal mereka punya kebun yang cukup luas.

Artha, kau benar, pemikiranku masih konvensional. Banyak hal telah berubah dan menjadi modern, begitu juga kampungku, walau masih menyisakan ketenangan dan keheningan.

Adalah hal aneh jika hidup mereka para petani kampungku masih sepahit kopi hitam yang pekat. Kini aku paham kalimatmu, Tha.

Kebun kopi itu, para petani itu, dan kalimat ayahku agar hidupku tak susah, dan semuanya.

Hidup kita sungguh tak lepas dari kopi, dan kita akan punya kebun kopi sendiri, Tha. ***

Mahan Jamil Hudani adalah nama pena dari Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April 1977. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO). Saat ini aktif di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel) sebagai ketua. Kini juga sebagai kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), serta sebagai Redpel di portal sastra Litera.co.id. Karyanya tersiar di sejumlah media massa di seluruh Indonesia. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri  (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai  (2019), dan Bidadari dalam Secangkir Kopi  (2021).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...