Kejar Peruntungan di Hari Raya Idul Adha dengan Usaha

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Hari raya Idul Adha 1442 Hijriah menjadi momen berkumpul bersama keluarga. Namun bagi sebagian orang momen tersebut harus terpisah dengan keluarga untuk mencari peruntungan dengan usaha yang ditekuni.

Subakir, salah satu warga asal Lampung Barat menyebut sudah sejak sebulan silam berjualan buah durian di Jalan Lintas Sumatera, Panjang, Bandar Lampung.

Buah durian asal Bengkulu dan sebagian wilayah Lampung sebut Subakir masih membanjir. Ia mengaku usaha sebagai penjual durian di tepi jalan ditekuninya sejak lima tahun silam. Sebagai pedagang musiman, ia menjual buah durian bertepatan dengan hari raya. Berkumpul dengan keluarga sebutnya terpaksa ditunda demi menghabiskan stok durian.

Subakir bilang terpaksa meninggalkan dua anak dan istri di kampung. Namun ia mengaku lega karena mereka tinggal bersama mertua. Sebagai ganti mengobati kerinduan, ia memanfaatkan video call sekadar bertukar kabar. Meski tinggal satu provinsi, ia memilih tidak pulang untuk berburu cuan. Bersama kerabat yang memiliki usaha yang sama menjual durian, target ratusan durian harus habis.

“Sehari penjualan buah durian bisa maksimal seratus butir, stok mencapai tiga ratus butir dengan harapan banyak pengguna jalan yang akan menuju ke pulau Jawa untuk membeli oleh oleh durian namun karena pembatasan selama PPKM Darurat pelaku perjalanan dominan warga lokal,” terang Subakir saat ditemui Cendana News, Selasa sore (20/7/2021).

Subakir, pedagang durian asal Sumatera Selatan tetap bertahan di lokasi tenda tepi Jalan Lintas Sumatera, Panjang, Bandar Lampung menghabiskan stok saat hari raya Idul Adha 1442 Hijriah, Selasa (20/7/2021). -Foto Henk Widi

Subakir bilang buah durian dibeli oleh salah satu kerabat dengan sistem borongan pada pohon. Ia memiliki tugas untuk menjual buah durian sebagai usaha keluarga turun temurun. Per pohon durian dengan buah mencapai 50 hingga 70 butir bisa dibeli borongan seharga Rp4 juta hingga Rp6 juta. Keahlian dalam kalkulasi buah dan nilai penjualan menjadi modal mendapat keuntungan beromzet jutaan rupiah.

Pemilik lapak durian lainnya, Hendarto, asal Lampung Utara memilih tetap menjual durian dan tidak merayakan Idul Adha. Ia mengaku belum akan pulang jika durian yang dijual belum habis. Normalnya saat Iduladha banyak pelaku perjalanan mudik ke kampung halaman. Sebagian berwisata ke sejumlah pantai di Lampung Selatan dan Bandar Lampung. Namun sejak pandemi penjualan lebih seret.

“Durian tetap laku terjual namun kecepatan buah durian habis bisa mencapai dua pekan lebih, normalnya satu pekan habis,” ulasnya.

Hendarto bilang durian lokal dari petani dijual dengan harga bervariasi. Per butir dijual dengan harga mulai Rp30.000 atau per gandeng Rp50.000. Sejumlah durian sistem gandeng memanfaatkan pelepah pohon aren.

Menjual durian sebutnya jarang mengalami kerugian. Pasalnya buah durian yang tidak lalu terjual masih bisa dibuat menjadi bahan tempoyak. Disimpan dalam botol, daging buah akan lebih awet menjadi bahan sambal dijual Rp15.000 per botol.

Memanfaatkan momen, sejumlah penjual bunga memilih menunggu di gerbang sejumlah tempat pemakaman umum (TPU). TPU Kunyit di Jalan Yos Sudarso, Bumi Waras dimanfaatkan Lukman dan sejumlah wanita. Ia mengaku bersama sang istri memilih mencari peruntungan dengan menjual bunga tabur. Setiap Idul Adha tradisi ziarah makam dilakukan sebagian warga.

“Kami menjual bunga mawar dan air yang telah diberi bunga dalam botol, hasilnya lumayan,” ulasnya.

Perkemasan bunga tabur sebut Hendarto dijual Rp5.000. Ia mulai menjual bunga tabur sejak dua hari sebelum Idul Adha. Meski hari raya ia menyebut tetap menjual bunga bersama sang istri. Mendapatkan kupon daging kurban dari salah satu masjid, diserahkan pada sang anak untuk mengambilnya. Menjual bunga tabur masih bisa memberinya hasil ratusan ribu per hari.

Peluang usaha meski rela tidak lebaran Idul Adha dilakukan Warsiman. Normalnya warga asal Indramayu, Jawa Barat itu berjualan sate ayam keliling. Namun saat Idul Adha ia mendapat tawaran jasa membakar sate. Menyediakan alat tusuk dan pembakar ia mendapat upah Rp5.000 untuk sebanyak 10 tusuk sate. Permintaan membakar sate sebutnya diperoleh dari warga yang tidak sempat membuat sate.

Peralatan membakar sate sebut Warsiman jadi berkah baginya. Ia bahkan menyebut sementara berhenti menjual sate keliling. Jasa membakar sate semula hanya diminta oleh sebagian orang. Namun sebagian warga yang memiliki stok daging dan telah mengirisnya bisa dibakar olehnya. Ia bisa mendapat upah ratusan ribu per hari dari jasa membakar sate di wilayah Bumi Waras.

Lihat juga...