Kematian Akibat Covid-19 di Banyumas Terus Meningkat

Editor: Koko Triarko

Bupati Banyumas, Achmad Husein di Purwokerto, Senin (12/7/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi -Ant

PURWOKERTO – Angka kematian akibat Covid-19 di Kabupaten Banyumas terus mengalami peningkatan, bahkan sejak sepekan terakhri angka kematian setiap harinya selalu di atas 20 orang. Karenanya, penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat diperketat.

Bupati Banyumas, Achmad Husein, mengatakan selama 10 hari di bulan Juli saja jumlah kematian akibat Covid-19 sudah mencapai 213 orang. Tertinggi pada tanggal 10 Juli, dalam satu hari ada 33 kasus kematian.

“Kondisi ini harus disikapi dengan cepat dan tepat, karena itu pembatasan kegiatan masyarakat kita perketat lagi. Penutupan ruas jalan ditambah dan patroli juga terus dilakukan,” katanya, Senin (12/7/2021).

Lebih lanjut Husein memaparkan, kenaikan angka kematian akibat Covid-19 sangat terasa memasuki bulan Juli ini. Ia memaparkan, untuk tanggal 1 Juli ada 16 kasus kematian, kemudian 2 Juli terdapat 17 kasus kematian, 3 Juli 17 kematian dan 4 – 5 juli, masing-masing 18 kasus kematian. Tanggal 6 Juli melonjak lagi, ada 21 kasus kematian dan 7 Juli ada 26 orang yang meninggal dunia, 8 Juli 21 orang, 9 Juli 25 orang dan tanggal 10 Juli kemarin paling tinggi, ada 33 kasus kematian akibat Covid-19.

Melihat kondisi tersebut, Husein mengajak warga Banyumas untuk dengan penuh kesadaran mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika tidak mempunyai keperluan yang sangat mendesak, lebih baik tetap di rumah demi mempercepat pemutusan penyebaran Covid-19.

“Tolong patuhi aturan, karena semua itu demi kebaikan bersama,” tegasnya.

Terkait banyaknya keluhan tentang penyekatan jalan, menurut Bupati tetap harus dilakukan. Masyarakat yang beraktivitas hanya perlu memutar saja dan menghidari wilayah-wilayah yang ramai. Sebab, penyekatan jalan sebagian besar dilakukan pada wilayah yang arus lalu lintasnya ramai dan padat.

Disinggung tentang keluhan akan perputaran roda ekonomi yang terhambat akibat banyaknya penyekatan, Husein mengatakan tidak akan sampai ada orang yang mati karena kelaparan, sebab budaya masyarakat Banyumas adalah gemar gotong-royong.

“Lihat saja, saat ada yang terpapar Covid-19 dan melakukan isolasi mandiri di rumah, tetangga sekitar akan berbondong-bondong memberikan bantuan makanan,” katanya.

Sementara itu, salah satu warga Kota Purwokerto, Agus mengatakan penyekatan pada jalur-jalur utama sangat menyulitkan pengendara. Jika hendak pergi ke kantor, ia terpaksa memutar cukup jauh karena kantornya yang berada di pusat kota dikelilingi oleh jalan besar yang disekat semuanya.

“Penutupan jalannya total, tidak ada celah untuk lewat sekalipun untuk sepeda motor, jadi memang benar-benar harus memutar. Penyekatan di jalur utama justru membuat jalan-jalan kecil atau jalan alternatif jadi macet panjang,” keluhnya.

Lihat juga...