Kisah Orangtua Anak Autis, Sempat Kesulitan Mendapatkan Sekolah

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Penolakan dan perundungan merupakan tantangan besar yang harus dihadapi oleh anak autis dan orangtuanya. Karena kondisi Autis, terkadang anak dianggap tidak memenuhi syarat untuk masuk ke sekolah luar biasa tapi di sisi lain, juga tak bisa mengikuti ritme pelajaran di sekolah umum.

Perintis Jakarta Ramah Autisme yang memiliki dua anak autis yang sudah dewasa dan menikah, Ir. Hoiriyah menyatakan pertama kali ia mendaftarkan anak pertamanya di TK SLB, langsung ditolak oleh pihak sekolah SLB.

“Karena dibandingkan anak autis pada umumnya, anak saya bisa berbicara lancar. Tapi memang belum baik. Jadi ditolak oleh pihak sekolah dan disarankan untuk masuk ke sekolah umum saja,” kata Hoiriyah dalam bincang online pendidikan, Kamis (22/7/2021).

Ia menyebutkan, saat anak pertamanya dulu, belum ada sekolah inklusif. Sehingga membutuhkan waktu untuk mencari sekolah yang cocok dengan kebutuhannya.

“Akhirnya saya mendapatkan sekolah, dengan ucapan dari pihak sekolah adalah mereka akan mencoba memberikan pembelajaran pada anak saya. Dari pihak sekolah dan guru tidak ada masalah tapi dari pihak orangtua murid yang menuntut agar anak saya dikeluarkan, bahkan disebut gila. Untungnya, pihak sekolah bisa membesarkan hati saya dan anak saya bisa lulus TK,” tuturnya.

Pada saat anak kedua, masalahnya bukanlah penolakan tapi bullying yang tidak hanya dilakukan oleh teman sekelas, juga oleh guru.

“Hal ini menjadi pukulan terberat bagi saya dan membekas pada diri  anak saya. Karena, anak autis mayoritas memiliki ingatan yang sangat kuat. Akhirnya anak saya itu memutuskan untuk menjadi guru saat ini. Bahkan anak kedua saya bisa mendapatkan beasiswa dan lulus sekolah penerbangan dengan nilai baik. Walaupun ia tidak mau bekerja di penerbangan dan mengambil sekolah pendidikan untuk guru PAUD,” tuturnya lagi.

Farida Lucky Utami, seorang pemilik sekolah ABK di Karawang dan orangtua dari Umar, remaja dengan Autis, dalam bincang online pendidikan, Kamis (22/7/2021). -Foto Ranny Supusepa

Berbeda dengan Farida Lucky Utami, seorang pemilik sekolah ABK di Karawang dan orangtua dari Umar, remaja dengan Autis, yang menceritakan kendala yang dihadapi saat dulu mencarikan sekolah buat Umar adalah penolakan dan ketidaksiapan sistem pendidikan.

“Kendalanya ya penolakan dari pihak sekolah karena kondisi ASD nya Umar. Lalu ada yang menerima, tapi malah jadi permisif. Dalam artian, hanya maklum saja. Ada yang menerima lalu menyatakan tidak bisa mengikuti pembelajaran,” kata Farida.

Lingkungan yang hanya memaklumi atau tidak dapat melihat kemampuan anak autis ini merupakan tantangan tersendiri bagi orang tua.

“Yang harus dimengerti adalah pembelajaran anak autis itu intinya mencapai target sesuai dengan tahapan perkembangan anak,” ujarnya.

Ia menyatakan harus memindahkan anaknya Umar hingga 3 kali, sejak berumur 5 tahun hingga akhirnya lulus TK umum di umur 8 tahun.

“Setelah itu, saya memutuskan Umar untuk belajar di rumah, seperti home schooling begitu. Karena seperti perang batin melihat pola pengajarannya,” pungkasnya.

Lihat juga...