Komoditas Hortikultura Kaki Gunung Betung, Sumber Penghasilan Petani

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Komoditas hortikultura di Kaki Gunung Betung jadi sumber penghasilan petani. Lahan pertanian yang subur di wilayah Kabupaten Pesawaran dan Kota Bandar Lampung menopang ekonomi masyarakat.

Asep Saepuloh, belasan tahun memanfaatkan peluang kesuburan tanah di wilayah tersebut. Ia menanam berbagai jenis sayuran dan menjualnya ke pasar.

Warga Dusun Tanjung Menang, Kelurahan Batu Putuk, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung itu menyebut komoditas hortikultura. Jenis komoditas yang dikembangkan meliputi buah, sayuran, tanaman bumbu.

Komoditas buah yang dibudidayakan berupa pisang berbagai varietas, kelapa, pepaya, mangga dan buah lain. Sayuran jenis sawi, kol, sawi hingga labu. Jenis komoditas bumbu berupa lengkuas, jahe, kunyit, cabai hingga kencur.

Asep Saepuloh bilang potensi iklim yang mendukung berhawa sejuk di kaki pegunungan cocok untuk tanaman hortikultura. Warga yang berprofesi sebagai petani sebutnya memaksimalkan lahan dengan sistem tumpang sari. Selain hasil dari kebun miliknya ia juga membeli dari petani lain. Setiap dua hari sekali ia mengirim hasil pertanian ke sejumlah pasar di Bandar Lampung.

“Kami memiliki pelanggan tetap pada sejumlah lapak di pasar tradisional Bandar Lampung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terutama usaha kuliner sehingga hasil panen bisa menjadi rantai pasok pada sejumlah pasar yang menguntungkan petani,” terang Asep Saepuloh saat ditemui Cendana News, Senin (5/7/2021).

Asep Saepuloh menyebut rantai pasok komoditas pertanian meningkatkan nilai tukar petani (NTP). Ia menyebut komoditas hortikultura berupa sayuran, buah, bumbu menjadi sumber peningkatan kesejahteraan petani. Pemanfaatan lahan terbatas sebutnya menjadikan petani memiliki hasil sampingan selain menunggu komoditas bulanan. Jenis komoditas bulanan padi, sayuran dibudidayakan bersama komoditas yang bisa dipanen mingguan.

Jenis komoditas mingguan yang bisa dipanen bertahap sebut Asep Saepuloh beragam. Pisang, bunga pisang, pepaya sayur, dan beragam sayuran bisa dipanen setiap pekan. Beberapa komoditas tersebut ditanam petani dengan sistem terjadwal agar panen bisa berkelanjutan. Pemilihan bibit varietas unggul diakuinya menjadi salah satu kunci agar hasil komoditas hortikultura memiliki nilai jual tinggi.

“Sebagian petani mulai mengembangkan jenis buah manggis, durian ketan hingga pepaya calina,” ulasnya.

Setiap dua hari sekali Asep Saepuloh menyebut bisa menjual sekitar lima kuintal komoditas hortikultura. Margin keuntungan sebutnya bisa mencapai ratusan ribu. Keuntungan sebutnya diperoleh dari hasil penjualan dikurangi biaya operasional. Memiliki keuntungan terbatas sebutnya tetap menghasilkan karena permintaan komoditas pertanian tetap berkelanjutan.

Sarnatik, petani yang menekuni usaha hortikultura sejak puluhan tahun silam menyebut memanfaatkan lahan kebun. Berbagai hasil kebun sebutnya bisa dijual melalui proses sortasi untuk mempertahankan kualitas. Jenis pisang raja, kepok, janten dan pisang jarum yang dipanen langsung disisiri. Proses pemisahan sisir pisang dari tandan bertujuan mempermudah pengangkutan.

“Pisang yang telah disisiri bisa lebih mudah dijual serta cepat matang untuk konsumsi,” ulasnya.

Petani di Tanjung Menang itu mengungkapkan memiliki pelanggan tetap. Pelanggan membeli sejumlah komoditas bumbu meliputi jahe, kunyit, kencur, lengkuas dan serai. Meski harga jual perikat, per kilogram hanya mencapai Rp2.000 hingga Rp3.000 sudah menguntungkan. Ia bahkan menyebut sebagian komoditas pertanian mudah dibudidayakan sehingga bisa dipanen berkelanjutan.

Panen komoditas pertanian sebutnya akan dikirim oleh sang suami ke sejumlah pasar. Sejumlah pelanggan berada di Pasar Cimeng, Pasar Gudang Lelang, Pasar Tugu dan Pasar Bambu Kuning. Selama permintaan produk pertanian dari masyarakat tetap lancar ia menyebut akan menguntungkan petani. Hasil pertanian sebutnya ikut menggerakkan ekonomi dengan munculnya usaha warung makan.

“Pelaku usaha warung makan memerlukan bumbu segar langsung dari petani untuk efesiensi bahan baku,” ulasnya.

Sarifudin dan Hasbulah di Pasar Bambu Kuning, Tanjung Karang mengaku menampung hasil pertanian petani. Saat ini komoditas pisang sebutnya sedang banjir sehingga harga turun. Normalnya pisang dijual persisir mencapai Rp13.000 saat ini dijual Rp8.000. Sejumlah hasil pertanian selain buah yang dijual berupa nanas, semangka, berbagai jenis sayuran dan bumbu.

Lihat juga...