Korban Pemukulan Satgas Covid-19 Sikka, Belum Bisa Beraktivitas

Editor: Makmun Hidayat

MUMERE — Korban pemukulan oleh tim patroli gabungan Satgas Covid-19 Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (6/7) masih belum bisa beraktivitas di bengkel sepeda motornya seperti biasa.

“Melihat bisa, tetapi kalau kena cahaya kepala pusing dan pasti mata berair. Saya tidak bisa lama bekerja di bengkel,” kata Emanuel Manda, saat ditemui Cendana News di Lingkar Luar Kelurahan Kota Baru, Maumere,  Selasa  (27/7/2021)

Eman sapaannya mengatakan, kios dan bengkel sepeda motornya memang sudah dibuka tapi pelanggan hampir tidak ada sama sekali seperti hari biasanya.

Ia mengaku kesulitan pendapatan sebab pelanggan juga mengetahui kasus yang dialami dan mengetahui dirinya belum bisa bekerja sehingga belum ada yang datang. Bahkan kata dia, beberapa sepeda motor yang belum diperbaiki pun masih ada, namun ia belum bisa tangani.

“Saya masih sangat was-was, sebab takutnya saat bekerja terkena benturan di bagian mata sehingga membuat luka saya semakin parah,” ucapnya.

Eman mengatakan, pelanggan juga belum mengambil sepeda motor mereka yang belum dikerjakan karena mungkin mereka juga tidak mau ke bengkel lain. Biasanya dalam sehari ia mengaku bisa memperoleh pendapatan kotor Rp500 ribu namun sejak kasus pemukulan yang dialaminya, dalam sehari pendapatannya paling tinggi Rp50 ribu.

“Saya biasa menangani servis sepeda motor, ganti oli, tambal ban dan mengisi angin. Sekarang hampir tidak bekerja lagi, entah sampai kapan karena mata saya belum bisa melihat normal,” ucapnya lirih.

Sang isteri, Nova Piterson menambahkan, bukan hanya bengkel saja yang mengalami penurunan pendapatan tetapi kios miliknya yang berdempetan pun mengalami hal serupa.

Nova paparkan, sebelum kasus yang menimpa suaminya, pendapatan kotor kios dalam sehari bisa mencapai Rp1,5 juta tetapi sejak adanya kejadian tersebut menurun hingga Rp500 ribu sehari.

“Saya masih trauma dan belum bisa tinggal di tempat usaha kami. Mungkin kalau sudah ada titik terang hasil penyelidikan dari pihak Polres Sikka, baru mungkin saya bisa sedikit lega,” ungkapnya.

Nova mengaku pasca kejadian, pihaknya harus mengeluarkan uang pribadi untuk biaya berobat ke dokter praktik di klinik. Suaminya sudah berobat 4 kali ke dokter praktik dan dianjurkan ke dokter mata, namun keduanya masih sibuk urus laporan kasus yang menimpanya.

Ia mengaku, sudah 3 minggu belum ada titik terang kasusnya termasuk siapa pelaku pemukulan terhadap suaminya tersebut.

“Sudah 3 minggu kasus ini kami laporkan ke Polres Sikka dan untuk sementara tetap berlanjut karena pelakunya belum ada.” sesalnya.

Nova mengakui, ada upaya untuk berdamai tapi keluarganya meminta agar pihak kepolisian bersurat secara resmi kepada mereka  apabila hendak dilakukan mediasi. Selain itu tambahnya, permintaan dari pihak keluarga pelakunya harus diketahui terlebih dahulu.

“Kami berharap kasus ini cepat selesai dan pelakunya cepat diketahui dan jangan digantung kasusnya,” tegasnya.

Lihat juga...