Korsel Pertimbangkan Pembatasan Paling Ketat Setelah Kasus COVID-19 Meningkat

SEOUL — Korea Selatan mencatat rekor kedua jumlah kasus COVID-19 harian pada Rabu, beberapa hari setelah pembatasan sosial di sejumlah wilayah dilonggarkan karena berhasil mempercepat vaksinasi.

Sebagian besar dari 1.212 kasus baru berasal dari Seoul yang padat penduduk, sehingga pembatasan pergerakan di ibu kota dan daerah sekitarnya diperpanjang, setidaknya selama sepekan ke depan. Pejabat juga berencana menerapkan pembatasan yang lebih ketat hingga ke level tertinggi.

Perdana Menteri Kim Boo-kyum mengatakan gelombang keempat virus corona di negara itu dipicu oleh varian Delta yang menyebar cepat, terutama di antara penduduk berusia 20-an dan 30-an yang belum divaksin.

Kim mendesak masyarakat dari kelompok usia itu untuk melakukan tes “demi melindungi dirimu, keluargamu, teman-temanmu, sekolah dan negara ini.”

“Jika situasi jadi tidak terkendali dalam dua-tiga hari ini, kami tidak punya pilihan lain kecuali memberlakukan level pembatasan sosial paling ketat,” kata Kim.

Presiden Moon Jae-in memerintahkan militer untuk membantu penelusuran kontak dan mendesak otoritas daerah menambah lokasi tes di wilayah padat penduduk, kata juru bicara kepresidenan Park Kyung-mee, Rabu.

Jumlah kasus harian pada Rabu adalah yang tertinggi sejak 25 Desember, saat Korsel mengalami hantaman gelombang ketiga pandemi.

Para pejabat telah bersiap membuka kembali negara itu dalam beberapa pekan terakhir. Pembatasan aktivitas di sebagian besar wilayah dilonggarkan pada 1 Juli, meskipun pejabat di Seoul dan sekitarnya masih menahan diri saat angka kasus di sana merayap naik.

Pakar kesehatan mengatakan pelonggaran aturan pembatasan jam operasional bisnis dan aktivitas sosial di luar Seoul, serta informasi bahwa pelonggaran berikutnya akan diterapkan, telah mendorong pergerakan masyarakat, terutama di kalangan anak muda di ibu kota.

Sekitar 85% kasus baru penularan lokal terjadi di kawasan metropolitan Seoul, yang menjadi rumah bagi setengah populasi negara itu.

“Sementara tingkat penularan relatif turun di kalangan penduduk di atas 60 tahun yang sudah divaksin, penularan terus terjadi di kelompok usia yang belum divaksin,” kata Kim Tark, pakar penyakit infeksi di RS Bucheon Universitas Soonchunhyang.

“Ini adalah pengingat untuk mempercepat vaksinasi bagi kelompok usia di bawah 60.”

Baru 10 persen populasi Korsel yang sudah divaksin penuh, sementara 30 persen lainnya baru mendapatkan sekali suntikan, mayoritas dari kalangan lansia.

Asosiasi Medis Korea mendesak pemerintah untuk tidak membuat keputusan gegabah terkait pelonggaran pembatasan sosial di saat tingkat vaksinasi masih tergolong rendah.

Korsel menerima 700.000 dosis vaksin Pfizer/BioNTech dari Israel pada Rabu lewat skema pertukaran, di luar 627.000 dosis yang dibeli secara langsung.

Sebagian pasokan akan digunakan untuk vaksinasi di Seoul dan sekitarnya pada 13 Juli, kata otoritas.

Kenaikan angka vaksinasi telah membantu negara itu mengurangi tingkat kematian menjadi 1,25 persen dan jumlah kasus parah menjadi 155 orang hingga Rabu, turun signifikan dari 1.41 persen dan 311 kasus pada puncak pandemi akhir Desember lalu.

Korsel melaporkan 162.753 kasus dan 2.033 kematian akibat COVID-19 selama pandemi. [Ant]

Lihat juga...