Kuasa Hukum Minta Polisi Segera Periksa Satgas Covid-19 Sikka Terkait Dugaan Penganiayaan

Editor: Koko Triarko

Kuasa hukum korban dan LBH Komnas PHD dan HAM NTT, Senopati Idara, saat ditemui di rumah kliennya di Lingkar Luar, Kelurahan Kota Baru, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Jumat (9/7/2021). -Foto: Ebed de Rosary

MAUMERE – Kuasa hukum korban pengeroyokan dan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum petugas patroli gabungan Satgas Covid-19, meminta agar penyidik segera memeriksa petugas patroli Satgas Covid-19 Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang bertugas saat kejadian.

“Tadi kami sudah ke Polres Sikka meminta untuk segera memeriksa 24 petugas patroli gabungan Satgas Covid-19 yang bertugas pada tanggal 6 Juli 2021 lalu,” kata Senopati Idara, kuasa hukum Emanuel Manda, korban pengeroyokan dan penganiayaan saat ditemui di Kelurahan Kota Baru, Maumere, Jumat (9/7/2021).

Senopati menyebutkan, pihaknya juga mempertanyakan sudah sejauh mana perkembangan kasus penganiayaan dan pengeroyokan yang telah dilaporkan oleh kliennya tersebut.

Ia mengatakan,dengan begitu kliennya selaku pelapor bisa merasa proses ini tidak bertele-tele dan bisa mendapatkan kepastian hukum.

Korban penganiayaan dan pengeroyokan yang diduga dilakukan oknum petugas patroli gabungan Satgas Covid-19, Emanuel Manda, dan istrinya, Nova Piterson, saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Kota Baru, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Jumat (9/7/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dia menegaskan, jika pada malam kejadian tidak ada petugas patroli yang datang ke rumah kliennya, maka tidak ada kejadian pengeroyokan dari Satgas Covid-19 kepada kliennya.

“Ada saksi istri korban dan hasil visum. Kita telah meminta penyidik Polres Sikka untuk mengambil visum tersebut,” tegasnya.

Senopati juga mengaku telah bersurat kepada Propam Polda NTT, Irwasum Polri, dan Kompolnas, agar ikut mengawasi perkara ini karena ada dugaan keterlibatan oknum aparat dari Polres Sikka.

Selaku kuasa hukum, pihaknya tidak ingin agar masyarakat apatis terhadap supremasi penegakan hukum, karena kasus ini mendapatkan perhatian publik.

Lanjutnya, Kapolri memiliki slogan supremasi penegakan hukum, sehingga dengan kasus ini kuasa hukum berkehendak agar betul-betul supremasi hukum ditegakkan, agar oknum yang terlibat tetap harus diproses hukum.

“Pengakuan dari klien kami ada upaya mediasi yang dilakukan oleh aparat polisi, dan klien kami tetap meminta agar perkara ini tetap dilanjutkan. Kami juga meminta dukungan dari berbagai pihak, agar kasus hukum ini tetap berjalan,” ucapnya.

Senopati menegaskan, sebenarnya kasus ini tidak terlalu sulit dibuktikan, karena adanya korban, saksi, dan siapa saja yang bertugas saat kejadian dan locus kejadiannya, sehingga polisi bisa segera menetapkan tersangka di dalam perkara ini.

Sedangkan Kasat Sabhara Polres Sikka, Iptu Mikael Donis, kepada media mengatakan saat kejadian Emanuel Manda tidak mengenakan masker, sehingga dia memberikan hukuman push up, tetapi pemilik kios tersebut menolak hukuman tersebut.

Mikael mengatakan, saat korban ditanya kenapa menolak hukuman tersebut, korban menggelengkan kepala dan langsung membalikkan badan hendak masuk ke dalam rumahnya.

“Dia menunjukkan gaya menggertak, seperti mau pukul saya dan Kasat Pol PP. Spontan saya sempat pegang kerah baju dia dan memminta untuk ikut ke kantor. Tapi dia tetap tidak mau, lalu personel Tim Gabungan menarik dia dan mengamankan ke mobil patroli Sabhara,” ungkapnya.

Mikael mengatakan, terkait luka pada pelipis korban, dirinya tidak tahu dan menduga saat itu terjadi tarik menarik antara Emanuel Manda dan tim gabungan di atas mobil patroli, sehingga bisa saja ada gesekan dan mengenai pelipis.

Ia memastikan, luka di pelipis Emanuel Manda bukan karena pemukulan, dan mempersilakan pihaknya diperiksa.

Lihat juga...