Lahan Pertanian di Wilayah Utara Bekasi Terancam Kekeringan

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Ancaman kekeringan di wilayah Utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, masih menghantui petani yang saat ini tengah memasuki masa tanam di dua Kecamatan wilayah setempat. Berbagai upaya telah dilakukan, agar saluran melalui pintu air CBL lancar, belum membuahkan hasil maksimal.

Selain sampah, debit di pintu air Cikarang Bekasi Laut tersebut saat ini juga terjadi pendangkalan akibat sampah yang belum terurai. Kondisi itu membuat petani di wilayah Utara membuat kelompok gotong-royong dan melakukan pembersihan,  dengan harapan aliran air bisa lancar ke arah lahan pertanian mereka.

“Upaya petani hanya dengan membentuk kelompok. Mereka masih melakukan normalisasi menggunakan alat apa adanya menyusuri sampah yang ada di dasar kali. Harapannya bisa mengurangi pendangkalan dan aliran air bisa lancar,” ujar Jhon, pemerhati lingkungan wilayah setempat kepada Cendana News, Senin (26/7/2021).

Mustaqim Marzuki, anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bekasi, dikonfirmasi Cendana News terkait ancaman kekeringan lahan pertanian, Senin (26/7/2021). –Foto: M Amin

Dikatakan, bahwa petani di dua kecamatan Sukawangi dan Sukatani mendesak agar bisa dibantu normalisasi menggunakan alat berat. Menurut Jhon, informasi akan dibantu dari tim Citarum Harum, tapi kejelasannya belum pasti.

Anggota DPRD Komisi II Kabupaten Bekasi, Mustaqim Marzuki, dikonfirmasi terpisah terkait kondisi ancaman kekeringan lahan sawah di wilayah Utara itu, mengaku telah memperjuangkan kondisi tersebut hingga ke pusat.

“Kondisi yang terjadi sebenarnya karena talang yang baru dibuat di lokasi Pintu air CBL tidak maksimal untuk menampung air, dan gorong-gorong saluran air terlalu kecil. Kami sudah sarankan ke PJT pusat di Jakarta agar talang yang rusak juga diperbaiki di wilayah Cibitung,” jelas Mustaqim.

Solusinya, jelas Mustaqim, PJT wilayah Jabar yang mengurus soal air harus melakukan perbaikan saluran. Sehingga pembagian air untuk lahan pertanian di wilayah Utara Kabupaten Bekasi dapat merata. Hal tersebut demi mendukung ketahanan pangan.

Pasalnya, di lapangan ada salah satu talang yang lama di wilayah Cibitung terputus dan belum diperbaiki, tidak hanya membuat talang baru karena yang baru itu tidak mencukupi. Meskipun sudah ada pembagian dan pengaturan air, yang belum sampai ke areal pertanian di Utara Bekasi, seperti wilayah Sukawangi dan Sukatani.

“Kami dari Komisi II sekarang terbentur dengan kondisi PPKM. Banyak instansi menolak untuk dikunjungi dengan kondisi sekarang, sehingga perjuangan untuk air di wilayah Utara masih tersendat,”papar Mustaqim.

Ia berharap, pihak BBWS ataupun PJT yang mengatur masalah air bisa memperhatikan kebutuhan petani di wilayah Utara Bekasi, demi mendukung ketahanan pangan di saat kondisi pandemi begini.

Lihat juga...