Melimpahnya Ikan Laut di Teluk Lampung Jadi Potensi Usaha Nelayan Tradisional

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Hasil tangkapan ikan laut di wilayah perairan Teluk Lampung, menjadi potensi bisnis pengolahan ikan tradisional. Dengan cara konvesional, ikan menjadi lebih tahan lama disimpan tanpa pengawet sekaligus meningkatkan nilai jual dan menyerap tenaga kerja.

Sarijan, produsen ikan asin di Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung, menyebut pengolahan ikan menjadi cara meningkatkan daya simpan. Secara kualitas, ikan bisa bertahan lama dengan teknik perebusan dan pengeringan.

Sarijan bilang, teknik pengolahan hasil perikanan yang dipertahankan warga Pulau Pasaran cukup bervariasi. Dominan cara yang digunakan memakai cara tradisional berupa penggaraman, pengeringan, pemindangan dan fermentasi.

Produk perikanan tangkap diperoleh dari nelayan menggunakan kapal bagan apung, bagan congkel, perahu kasko. Hasil tangkapan diolah untuk meningkatkan nilai tambah produk.

Wardiah, pedagang ikan simba asap yang lebih awet melalui proses pengeringan dengan pengasapan di Gudang Lelang, Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung, Senin (5/7/2021). -Foto: Henk Widi

Sarijan menyebut, potensi pengolahan ikan jenis pengalengan, pembekuan terkendala modal. Sebagai alternatif, nelayan pengolah yang tergabung dalam Poklahsar (kelompok pengolah dan pemasar) fokus pada pembuatan ikan asin dan teri kering. Jumlah produk yang dihasilkan tergantung pada hasil tangkapan nelayan dengan kondisi cuaca, musim migrasi ikan pelagis dan demersal.

“Nelayan pengolah dan pemasar sebagian awalnya merupakan nelayan tangkap. Setelah memiliki modal cukup,  bisa membeli hasil tangkapan nelayan lain atau membuat fasilitas tangkap statis jenis bagan apung dan alat tangkap dinamis jenis bagan congkel yang merupakan perahu khusus penangkap teri,” terang Sarijan, saat ditemui Cendana News, Senin (5/7/2021) sore.

Menurut Sarijan, produksi ikan asin dan teri memberi dampak lapangan pekerjaan. Meliputi tenaga kerja perebusan atau pemindangan, pengeringan, pemilahan atau sortir, pengemasan hingga distribusi. Keberadaan kampung pengolahan ikan asin dan teri kering di pulau Pasaran yang terpisah oleh perairan, memanfaatkan jasa perahu pengangkut.

Bahan baku ikan asin, sebut Sarijan menyesuaikan jenis. Sejumlah ikan teri dibeli dengan sistem keranjang atau cekeng rata-rata seberat 15 kilogram. Menyesuaikan musim hasil tangkapan ikan teri dan sejenisnya, dibeli dari nelayan seharga Rp280.000. Jenis teri medan bahkan bisa lebih mahal, hingga Rp300.000 per cekeng.

“Ikan teri, bahan ikan asin bisa diolah melalui proses penggaraman, sebagian diolah tawar cukup dikeringkan,”ulasnya.

Sarijan menyebut, saat ini hasil produksi ikan terserap pasar lokal. Sebagian hasil ikan asin dan ikan kering dijual secara langsung dan tidak langsung. Penjualan melalui pasar online dilakukan oleh sebagian warga yang mulai merasakan manfaat jual beli online. Produk perikanan kering, sebutnya, sudah bisa dijual di sejumlah pasar online dan media sosial. Harga ikan asin dan teri kering rata-rata Rp70.000 hingga lebih dari Rp100.000 per kilogram.

Wardiah, pedagang ikan asin dengan pengeringan dan pengasapan, mengaku menjual produk secara langsung. Permintaan akan ikan asap, ikan kering yang diolah secara tradisional masih cukup tinggi. Sejumlah ikan asap yang disediakannya meliputi ikan pari atau ikan P dijual Rp40.000 per kilogram. Harga ikan manyung asap Rp25.000 per kilogram, ikan simba asap Rp55.000.

“Sebagian konsumen membeli untuk oleh-oleh atau memberi hadiah bagi kerabatnya di luar kota,” katanya.

Teknik pengolahan ikan dengan pengasapan, sebut Wardiah, diperoleh dari membeli hasil lelang. Sebagian ikan yang tidak laku terjual masih bisa diawetkan. Tahap pertama, ikan disimpan dalam lemari pendingin. Saat akan diolah, ikan dibersihkan, dibuang bagian kotoran.

Pengasapan dilakukan dengan cara menggantung ikan, lalu meletakkan di atas bara dari serabut kelapa. Pengasapan menjadikan ikan lebih awet disimpan tanpa bahan pengawet.

Herman, salah satu nelayan, menyebut hasil tangkapan dibawa ke pusat pendaratan ikan Gudang Lelang. Hasil tangkapan akan dilelang dan dibeli oleh produsen ikan asin dan ikan giling. Ikan tangkapan ukuran besar sebagian dibeli oleh produsen ikan asap. Pada kondisi cuaca yang bersahabat, satu kali melaut selama dua hari bisa memperoleh hingga 2 ton ikan berbagai jenis.

“Ikan akan disortir sesuai ukuran dan jenisnya, lalu dijual melalui proses pelelangan,” ulasnya.

Pemilik usaha ikan giling dan pengasapan ikan, di Gudang Lelang, Bumi Waras, Rudianto, menyebut perlu ada pengolahan ikan lebih lanjut. Sebagian ikan yang diawetkan memakai es  memiliki kondisi yang masih baik.

“Tahap selanjutnya, ikan akan diolah dalam beragam produk. Sebagai bahan baku ikan laut bisa menjadi produk setengah jadi berupa ikan giling dan ikan kering. Produk akhir bisa menjadi beragam kuliner yang bervariasi,” pungkasnya.

Lihat juga...