Memanfaatkan Mulsa Organik untuk Jaga Kelembaban Tanah Tanaman

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Perubahan cuaca ke musim kemarau, berdampak pada sinar matahari yang semakin terik. Hal ini akan berdampak pada tanaman budidaya atau tanaman hias. Jika tidak rutin disiram, maka tumbuhan tersebut bisa layu hingga daun mengering.

Selain penyiraman secara rutin, salah satu upaya mengatasi masalah kekeringan pada tanaman hias, yakni dengan penggunaan mulsa.

“Mulsa ini digunakan untuk menutup permukaan tanah pada tanaman budidaya, agar kelembaban tanah terjaga. Tidak terjadi penguapan secara cepat. Selain itu, bisa menekan pertumbuhan gulma sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Bahan yang bisa dijadikan mulsa bermacam-macam, termasuk bahan organik seperti brangkasan daun palawija, jemari, hingga lumut,” papar petani sekaligus pedagang tanaman hias, Sartono, saat ditemui di kawasan Tembalang Semarang, Rabu (21/7/2021).

Dipaparkan, secara umum, mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai. “Membuat sendiri juga bisa, dari daun palawija yang sudah dicacah-cacah, kemudian dikeringkan. Selanjutnya, tinggal disebarkan di atas tanah tanaman budidaya atau tanaman hias,” terangnya.

Petani sekaligus pedagang tanaman hias, Sartono, saat ditemui di kawasan Tembalang Semarang, Rabu (21/7/2021). -Foto Arixc Ardana

Bisa juga menggunakan lumut. Hanya saja, karena keterbatasan jumlah, umumnya lumut digunakan pada tanaman hias.

“Caranya pun mudah, lumut ditempatkan di atas tanah dalam pot tanaman, sehingga menutupi permukaan. Sudah hanya seperti itu, kemudian disiram air. Nantinya lumut tersebut juga akan tumbuh dan ikut menjaga kelembaban tanah,” tambahnya.

Meski demikian, tidak semua tanaman hias, bisa diberi mulsa lumut. Hanya tanaman yang tahan air, yang bisa diberi mulsa tersebut.

“Misalnya monstera, talas, atau bonsai, itu bisa diberi lumut, namun tanaman yang tidak kuat air, jika diberi mulsa lumut, justru akan mengalami akar busuk. Misalnya begonia atau kaktus,” tandasnya.

Terpisah, Kepala UPT Kebun Dinas Pertanian Kota Semarang Juli Kurniawan, saat dihubungi juga memaparkan hal senada. Penggunaan mulsa, memungkinkan untuk mencegah kekeringan pada tanaman budidaya atau tanaman hias.

“Saat ini sudah memasuki musim kemarau, cuaca cukup terik. Jika panas matahari terlalu terik, tentu berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Terutama sayur mayur. Untuk mengatasinya, bisa menggunakan paranet atau shading net,” terangnya.

Dijelaskan, tanaman membutuhkan sinar matahari untuk tumbuh, terutama dalam kebutuhan fotosintesis, namun jika berlebih bisa membuat daun layu, kering dan bisa berakibat tanaman mati.

“Selain dengan paranet, untuk menjaga kelembaban tanah, bisa digunakan mulsa. Tanah yang lembab merupakan tempat tumbuh optimal bagi akar. Ketiadaan cahaya matahari di bawah lapisan mulsa akan menghambat bahkan menghilangkan pertumbuhan gulma,” terangnya.

Bahan mulsa pun bermacam-macam, tergantung kebutuhannya. Misalnya untuk sayur mayur, umumnya menggunakan jerami atau sekam padi. “Selain mulsa organik, ada juga mulsa non organik, yang dibuat dari plastik,” pungkasnya.

Lihat juga...