Menteri Kesehatan Inggris Positif Terinfeksi Corona

LONDON  – Menteri Kesehatan Inggris, Sajid Javid, mengumumkan dirinya positif terinfeksi COVID-19 dengan gejala ringan.

Ia bersyukur karena sudah menerima dua dosis vaksin COVID-19 untuk melawan penyakit tersebut.

Javid, yang telah menjadi menteri kesehatan selama tiga pekan, mendukung rencana Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk mencabut semua pembatasan virus corona mulai Senin (19/7), meskipun ada lonjakan kasus baru Covid-19 yang dipicu oleh varian Delta yang lebih menular.

“Pagi ini saya dinyatakan positif COVID,” kata Javid dalam cuitannya di Twitter.

Javid menambahkan bahwa dia pertama kali melakukan tes aliran lateral cepat, dan kemudian hasil positifnya juga dikonfirmasi dalam tes PCR, yang perlu diproses di laboratorium.

“Hasil positif saya sekarang sudah dikonfirmasi dengan tes PCR, jadi saya akan terus mengisolasi dan bekerja dari rumah.” kata dia.

Dalam cuitannya pada 17 Maret, Javid mengatakan bahwa dia telah menerima suntikan pertama vaksin COVID-19 Oxford/AstraZeneca dan mengunggah fotonya mendapatkan dosis kedua pada 16 Mei.

Vaksin tidak 100 persen efektif untuk mencegah infeksi, tetapi orang yang divaksin lengkap cenderung tidak sakit parah dengan COVID-19 bahkan jika mereka dapat dites positif.

Analisis dunia yang diterbitkan oleh Public Health England telah menemukan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca 60 persen efektif melawan penyakit simtomatik dari varian Delta dan 92 persen efektif melawan rawat inap.

Inggris menghadapi gelombang baru kasus COVID-19, tetapi Johnson dan Javid mengklaim program vaksin sebagian besar telah memutuskan hubungan antara kasus COVID-19 dan kematian, meskipun Johnson mengatakan bahwa negara itu harus menyesuaikan diri dengan prospek lebih banyak kematian dari COVID-19

Inggris memiliki angka kematian COVID-19 tertinggi ketujuh di dunia, dan telah memvaksin dua pertiga orang dewasa, meskipun tidak memvaksin anak-anak.

Beberapa ilmuwan telah memperingatkan bahwa rencana pembukaan kembali pemerintah untuk Inggris berbahaya mengingat sejumlah besar orang yang tetap tidak divaksin dan fakta bahwa vaksin tidak 100 persen efektif. (Ant)

Lihat juga...