OJK : Literasi Keuangan Syariah Masih Rendah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Sagara, saat memaparkan ekonomi keuangan syariah pada webinar strategi literasi keuangan syariah di Jakarta yang diikuti Cendana News, Kamis (8/7/2021). foto : Sri Sugiarti.

JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, literasi keuangan syariah masih rendah karena masyarakat masih menganggap produk syariah diperuntukkan bagi umat muslim. Sehingga perlu penguatan pemahaman dengan melakukan sosialiasi dan edukasi.

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Sagara mengatakan, tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap keuangan syariah masih rendah dibandingkan dengan tingkat literasi keuangan konvensional yang berada di angka 38 persen. Padahal Indonesia dengan populasi muslim terbesar di dunia memiliki potensi yang besar dalam pengembangan keuangan syariah.

“Kami mencatat tingkat literasi dan inklusi masyarakat terhadap keuangan syariah itu 8,93 persen atau hanya sembilan dari 100 orang dewasa Indonesia yang kenal produk keuangan syariah. Angkanya masih kecil dibandingkan konvensional, 38 persen,” ujar Tirta, pada webinar tentang strategi literasi keuangan syariah di Jakarta yang diikuti Cendana News, Kamis (8/7/2021).

Rendahnya tingkat literasi ini menurutnya, karena masyarakat termasuk generasi milenial menganggap kalau keuangan syariah hanya diperuntukkan bagi umat muslim dan orang tua. Apalagi dalam pengembangan produknya banyak menggunakan bahasa Arab.

“Produk keuangan syariah bersifat universal, yakni diperuntukkan bagi semua golongan dan usia,” ujarnya.

Berdasarkan catatan OJK, kata dia, banyak para pelaku ekonomi syariah di Indonesia yang bukan umat Islam, begitu juga dengan konsumennya.

Kendala lainnya yang menjadikan literasi keuangan syariah rendah, yakni sebut dia, masih banyaknya masyarakat Indonesia yang mengira produk keuangan syariah sama dengan produk keuangan konvensional. Hanya saja diganti dengan istilah bahasa Arab. Contohnya deposito dengan bagi hasil dinamakan mudharabah, sehingga persepsi ini perlu diluruskan.

Lebih lanjut dia menyebut, perbedaan keuangan syariah dan konvensional bukanlah pada hasil akhirnya. Namun pada proses yang sesuai dengan syariat Islam. Maka itu, pihaknya terus berupaya meningkatkan literasi keuangan syariah dengan gencar sosialiasi memberi pemahaman pada masyarakat luas.

Direktur Eksekutif Komite Keuangan Ekonomi dan Keuangan Syariah Nasional (KNEKS), Ventje Rahardjo menambahkan, masih rendahnya literasi keuangan syariah menjadi tantangan pelaku industri kedepan. Pasalnya, potensi suplai maupun permintaan ekonomi syariah masih besar.

Upaya yang harus dibangun adalah memperkuat dan memperluas pusat-pusat kajian ekonomi keuangan syariah di berbagai lembaga dan institusi.

“Pusat kajian sangat penting sebagai upaya meningkatkan literasi dan keilmuan keuangan syariah untuk memperkuat pemahaman masyarakat,” tukasnya.

Apalagi kata dia, tantangan yang dihadapi industri seperti perbankan syariah belum optimalnya pemanfaatan produk dan jasa keuangan syariah oleh pemerintah.

“Kurangnya permodalan dan keterbatasan produk dengan harga yang kurang kompetitif, serta orientasi lebih terfokus pada pasar retail. Ini masih tantangan industri syariah,” pungkasnya.

Lihat juga...