Pabrik Gula Semut Cilongok Urus Label Halal Untuk Perluas Pasar

Editor: Koko Triarko

BANYUMAS- Pabrik Gula Kelapa Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) Cilongok, Banyumas, ditargetkan mampu memasok kebutuhan gula semut bagi ribuan toko retail di sejumlah kota di wilayah Jawa Tengah. 

Pengurus Koperasi Utama Sejahtera Mandiri selaku pengelola Pabrik Gula Kelapa DCML Cilongok, saat ini mengaku tengah mengurus masalah perizinan terkait label halal produk gula semut, untuk dapat segera merealisasikan rencana tersebut.

“Potensi pasar produk gula semut ini sangat besar. Terakhir kita bahkan diminta memasok kebutuhan gula semut bagi sekitar 1.600 outlet toko retail di Pekalongan. Hanya saja karena belum ada sertifikat label halal, maka kita belum bisa masuk. Karena itu, saat ini kita sedang menunggu proses pengurusan izin ini selesai,” ujar Manajer Umum Koperasi Utama Sejahtera Mandiri Cilongok, Andi Rahmanto, belum lama ini.

Melalui program Desa Cerdas Mandiri Lestari sejak dua tahun terakhir ini, Yayasan Damandiri mendirikan pabrik gula semut di Desa Cilongok Banyumas. Pabrik gula ini didirikan untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat desa Cilongok yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai penderes kelapa maupun pembuat gula semut. Setiap bulannya, pabrik ini tercatat mampu memproduksi sekitar 10-15 ton gula semut.

Manajer Usaha Koperasi Utama Sejahtera Mandiri Cilongok, Riyan Hidayat, menunjukkan produk gula semut -Foto: Jatmika H Kusmargana

Meski belum maksimal, selama dua tahun berjalan Pabrik Gula Kelapa  DCML Cilongok mampu berkontribusi membantu meningkatkan perekonomian warga.

Manajer Usaha Koperasi Utama Sejahtera Mandiri Cilongok, Riyan Hidayat, menyebut pihaknya rutin menyerap sekitar 700 kilogram gula semut basah yang dihasilkan petani Cilongok setiap harinya.

Koperasi membeli gula semut basah (setengah jadi) dari petani tersebut dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga yang ditawarkan oleh tengkulak. Setelah diolah dengan cara dikeringkan, pabrik kemudian menjual kembali produk gula semut tersebut ke konsumen, dengan bekerja sama dengan salah satu perusahaan terkait.

“Jadi, kita beli gula semut basah yang diproduksi petani dengan harga Rp17ribu per kilogram. Nilai ini lebih tinggi dari tengkulak yang hanya Rp16ribu. Sehingga ada selisih Rp1.000 per kilogram yang bisa didapatkan petani. Rata-rata setiap petani di sini bisa menghasilkan 10-15 kilogram gula semut basah setiap harinya,” katanya.

Andi maupun Riyan, mengakui pada awalnya pabrik gula semut yang didirikan Yayasan Damandiri ini diproyeksikan dapat mengolah gula semut dari produk nira kelapa yang dihasilkan petani. Namun, hal itu sulit direalisasikan karena mayoritas warga yang berprofesi sebagai penderes kelapa selama ini telah memiliki ikatan perjanjian trandisional dengan para tengkulak.

“Itulah yang membuat sebagian besar penderes kelapa di sini sulit memasok nira ke pabrik. Karena mereka sudah lama terbiasa menyetor ke pengepul,” pungkas Andi.

Lihat juga...