Pandemi, Ini Strategi UMKM Pangan Lokal Tetap Bertahan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Pertumbuhan ekonomi yang lesu selama satu semester di tahun 2021 diakui sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Irlina, salah satu pedagang makanan kue basah menyebut sebagai UMKM berbasis pangan ia tetap eksis. Namun penurunan volume produksi kue tradisional atau jajanan pasar tetap terjadi. Berkurangnya potensi konsumen jadi faktor penurunan omzet.

Potensi konsumen sebut Irlina berasal dari kalkulasi jumlah pembeli yang datang. Sebelumnya ia menyebut mengandalkan sektor pendidikan dengan beroperasinya sekolah di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang.

Saat kegiatan sekolah berlangsung konsumen pembeli kue tradisional stabil. Rata-rata sehari ia bisa menjual sebanyak 15 jenis kue dengan jumlah 800 potong kue.

Berkurangnya potensi konsumen juga imbas aktivitas masyarakat yang dibatasi. Penanganan kesehatan nasional sebutnya berimbas pelaku perjalanan tidak melintas di jalan tempatnya berusaha.

Membaca peluang pasar dengan risiko kerugian ia mulai mengatur ulang strategi. Mengurangi jumlah kue yang dijual hingga 500 potong jadi alternatif baginya tetap mendapat penghasilan.

“Saat ini melihat kondisi ekonomi masyarakat juga jadi salah satu strategi dalam mengeluarkan produk UMKM, lebih baik menyiapkan produk terbatas. Namun selalu habis daripada jumlahnya banyak namun tersisa, imbasnya modal tidak tertutupi,” terang Irlina saat ditemui Cendana News, Selasa (13/7/2021).

Irlina menambahkan tips pelaku UMKM sektor pangan harus melihat peluang minat konsumen. Agar bisa meningkatkan nilai usaha, ia mengaku menghitung jumlah kue terjual serta permintaan paling dominan dari konsumen.

Jenis kue dominan sebutnya risoles, tahu isi, arem arem, lemper, onde onde, combro, misro. Ia mengurangi jenis kue yang meski tetap dibeli konsumen namun jumlahnya lebih sedikit.

Menjual kue tradisional dengan harga Rp1.000 hingga Rp3.000 per potong sesuai jenis sebut Irlina masih menjanjikan. Ia mengaku berjualan sejak belasan tahun silam sebagai usaha warisan keluarga tetap eksis di tengah gempuran produk pangan yang beredar.

Ia menyebut strategi mengurangi jumlah kue yang dijual membuat kerugian bisa ditekan.

“Sebelumnya saat ada kue yang tidak laku terjual diberikan ke tetangga namun saat ini selalu laku terjual karena stok dikurangi,” ulasnya.

Wahyuni, pedagang kue basah di pasar Gudang Lelang, Kelurahan Bumi Waras, Kecamatan Bumi Waras mengaku juga mengurangi jumlah kue. Tren masyarakat yang berbelanja ke pasar lebih sedikit dibanding semester sebelumnya cukup terasa.

Wahyuni (kanan) pedagang jajanan pasar di Pasar Gudang Lelang, Kelurahan Bumi Waras, Bandar Lampung, Selasa (13/7/2021) – Foto: Henk Widi

Ia mengaku melakukan evaluasi pada UMKM pangan yang ditekuninya. Mengatur jumlah penjualan kue dipengaruhi permintaan membuat ia tidak menanggung rugi terlalu besar.

Normalnya, Wahyuni bilang, menerima pesanan kue dari kantor, acara pertemuan, keluarga. Sejumlah ibu rumah tangga yang membawakan bekal untuk anak sekolah juga jadi faktor penjualan meningkat. Namun situasi berkaitan dengan kesehatan jadi faktor sejumlah warga mengurangi kegiatan di pasar.

“Sebagai salah satu pelaku usaha sektor pangan, strategi menjual produk yang digemari jadi solusi mengurangi rugi,” ulasnya.

Hermansah, pedagang daging sapi menyebut ia telah mengurangi stok sejak setahun silam. Rantai distribusi daging yang kerap dipesan oleh sektor usaha kuliner menurutnya berkurang.

Pasalnya kebijakan pemerintah dalam penanganan kesehatan berimbas jam operasional usaha kuliner dikurangi. Padahal ia menyebut serapan bahan pangan daging sapi dominan dari usaha kuliner.

Potensi pasar yang berkurang sebutnya disiasati dengan mengurangi stok. Ia mengaku daging sapi diperoleh dari rumah potong hewan (RPH). Jika sebelumnya ia membeli satu ekor, ia mulai berkongsi dengan kerabatnya.

Satu ekor sapi dibeli patungan dan dijual berdua. Cara itu dilakukan agar stok daging lebih sedikit namun tetap laku terjual.

“Kunci bagi pelaku usaha sektor pangan melihat tingkat distribusi, konsumsi masyarakat untuk menentukan jumlah barang yang mau dijual,” cetusnya.

UMKM pangan yang tetap eksis dalam situasi ekonomi tidak stabil diakui M. Supriyadi. Lurah Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung itu menyebut pertumbuhan ekonomi usaha kecil tetap stabil.

Dibanding usaha lain penjual bahan kebutuhan pokok tetap bisa menghasilkan. Lokasi penjualan kue basah sebutnya mendukung sektor jasa lain.

“Kelurahan kami dekat pelabuhan sehingga pekerja informal jadi penyerap produk pangan lokal, kuncinya pelaku usaha bisa melihat peluang dan kondisi ekonomi saat ini,” ulasnya.

M. Supriyadi mengaku sektor pangan menjadi salah satu penyokong ekonomi. Selama usaha kecil tersebut berjalan menjadi penunjang usaha kecil lainnya.

Sebagian warga sebutnya memilih sektor usaha penjualan pangan di Pasar Panjang. Selain penjualan kue, sejumlah warung makan menjadi penyokong perputaran ekonomi bagi sektor jasa ojek, pedagang pasar, dan jasa angkut barang.

Lihat juga...