Panen Gadu, Penyerapan Bulog Banyumas Capai 200 Ton per Hari

Editor: Makmun Hidayat

BANYUMAS — Memasuki masa panen gadu atau panen padi yang ditanam sepanjang musim kemarau, penyerapan gabah dan beras Bulog Banyumas tetap tinggi. Rata-rata per hari penyerapan gabah kering giling petani dari hasil panen gadu mencapai kisaran 150 ton hingga 200 ton.

Kepala Bulog Banyumas, Dani Satrio mengatakan, tingginya penyerapan pada masa panen gadu tahun ini, karena di beberapa kabupaten banyak petani yang panen secara bersamaan. Mulai dari Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara hingga Cilacap.

“Sekarang banyak petani yang panen, sehingga meskipun masuk tanam pada musim kemarau, hasil panen yang kita serap tetap banyak,” katanya, Senin (26/7/2021).

Kepala Bulog Banyumas, Dani Satrio di kantornya, Senin (26/7/2021). -Foto: Hermiana E.Effendi

Menurutnya, pada musim gadu tahun ini, wilayah panen lebih luas jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pasalnya, kemarau tahun ini masih ada hujan, sehingga tanaman padi tidak mengalami kekeringan yang ektrem. Wilayah yang gagal panen juga tidak terlalu banyak, sehingga hasil panen masih melimpah.

“Bisa dikatakan, penyerapan pada  kemarau tahun ini masih cukup lancar, baik penyerapan Bulog maupun mitra kita. Karena sampai dengan saat ini total gabah yang sudah terserap di Bulog mencapai 9.000 ton,” jelasnya.

Saat ini di gudang Bulog Banyumas sendiri masih ada stok 21.000 ton setara beras. Dan jumlah tersebut masih akan terus bertambah karena penyerapan masih berlangsung.

Terkait harga, Dani Satrio menyampakan untuk harga gabah kering panen (GKP) Bulog membeli seharga Rp 4.200 per kilogram. Sedangkan untuk beras dibeli dengan harga Rp 8.300 per kilogram.

“Kita memiliki stok gabah cukup banyak, begitu pula dengan beras, jadi tidak perlu khawatir stok pangan kita saat ini sangat mencukupi,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu petani di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Sugito mengatakan, pada musim kemarau ini hasil panen cenderung menurun, tetapi masih dalam kisaran wajar. Hal tersebut karena masih ada hujan selama musim kemarau kemarin, sehingga padi yang mati kekeringan tidak banyak.

“Rata-rata hasil panen 6-7 ton per hektare, itu masih terbilang cukup bagus untuk panen di musim gadu ini. Biasanya pada kemarau tahun lalu yang cukup panjang, tidak sampai 6 ton per hektare. Sebagai perbandingan kalau sedang tidak musim kering, panen padi bisa sampai di atas 8 ton per hektare, namun itu juga kalau sawah tidak terkena banjir saat musim hujan,” jelasnya.

Lihat juga...