Pedangang Mie Ayam di Purwokerto Bertahan di Masa PPKM Darurat

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Berbeda dengan di Kota Semarang, Jawa Tengah, pedagang mie ayam di kawasan jalan Gatot Subroto, Purwokerto, Banyumas, tetap ramai pembeli. Kendati tak melayani makan di tempat, warung mie ayam ini tetap bisa bertahan mengais rezeki meski omzetnya turun hampir 50 persen.

Penjual mie ayam, Maman, mengatakan selama cita rasa masakan tetap terjaga, maka pembeli tidak akan pergi. Ditambah lagi yang tidak kalah pentingnya di tengah pandemi Covid-19 ini adalah penerapan protokol kesehatan selama berjualan.

“Yang terpenting adalah cita rasa tetap dijaga dan menerapkan prokes, sehingga pembeli tidak ragu untuk datang,” tuturnya, Selasa (20/7/2021).

Warung mie ayam ini memang cukup terkenal di Kota Purwokerto, meskipun hanya berjualan dengan gerobak di tepi jalan dan tenda sekadarnya saja.

Sebelum PPKM darurat diberlakukan, biasanya ada beberapa meja bangku yang terpasang sebagai tempat makan pembeli. Namun setelah PPKM darurat, penjual sengaja tidak memasang meja di lokasi, sebagai tanda semua pesanan harus dibawa pulang.

“Kita tetap berusaha untuk mematuhi aturan, supaya tidak didatangi petugas dan berjualan tetap lancar,” kata Maman.

Maman juga memastikan, sekalipun pesanan mie ayam dibawa pulang, namun saat dinikmati di rumah rasanya tetap terjaga. Sebab, kuah serta sambal, saos dan kecap dibungkus secara terpisah. Sehingga, pembeli bisa memanaskan kembali kuah mie ayam saat di rumah.

Sementara itu, salah satu pelanggan mie ayam, Evi Yanti, mengatakan, ia selalu membeli mie ayam yang berlokasi di pusat Kota Purwokerto tersebut, karena sayuran atau sayuran yang disertakan dalam hidangan mie cukup banyak. Selain itu juga ada daun bawang yang membuat mie ayam lebih segar saat dinikmati.

“Biasanya saya tidak begitu suka dengan mie ayam, tetapi kalau yang ini sangat suka, sebab banyak sayurannya, sehingga lebih segar dan menggugah selera,” ujarnya.

Setiap hari, Maman berjualan sejak pagi pukul 10.00 WIB hingga siang hari sekitar pukul 14.00 WIB. Sehingga dagangannya nyaris tidak terdampak pemberlakuan pembatasan jam operasional para pedagang kaki lima (PKL) di Kota Purwokerto. Karena batas berjualan diberlakukan hingga pukul 20.00 WIB.

Hanya saja, lanjutnya, jumlah pembeli memang sedikit mengalami penurunan karena adanya PPKM darurat. Sebab, sebagian orang ada yang merasa enggan keluar rumah untuk sekadar membeli makanan. Jika biasanya Maman bisa menjual hingga di atas 200 porsi mie ayam, maka saat PPKM darurat ini ia hanya memproduksi separuhnya saja.

Lihat juga...