Pelaku UMKM di Muara Gembong Berhenti Produksi Imbas PPKM

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Dampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga level 4 yang hampir sebulan berjalan di Jawa Barat, cukup dirasakan oleh para pelaku Usaha Kecil Menengah (UMKM) skala mikro di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.

Selama sebulan ini pelaku UMKM yang tergabung di UMKM Kebaya Muara Gembong berhenti berproduksi. Selama ini, mereka berjualan secara offline kepada tamu yang berkunjung ke wilayah itu.

“PPKM ini dampaknya tidak ada penjualan. Kami mau jual online juga lokasi Muara Gembong terbatas dengan signal dan pengiriman tentunya,” ujar Alfiyah, Ketua Kebaya Muaragembong dikonfirmasi Cendana News, Selasa (27/7/2021).

Alfiyah, ketua Kebaya Muaragembong, Selasa (27/7/2021). –Foto: M Amin

Saat ini, pihaknya hanya menghabiskan stok yang ada, dan diperkirakan jika sampai sebulan lagi kondisi masih belum berubah, maka banyak yang akan dijual untuk kebutuhan makan.

Menurutnya, dari 15 orang pelaku UMKM yang tergabung dalam anggota Kebaya, masih ada yang terbantu oleh suami yang bekerja nelayan. Meskipun harga hasil laut pun saat ini turun drastis di pasaran.

“Semua sulit sekarang, ada beberapa dari anggota Kebaya suaminya berprofesi sebagai nelayan mencari ikan. Tapi, mengeluh karena harga hasil laut pun sekarang turun, misalkan harga udang dulu Rp60 ribu sekarang hanya Rp30 ribu,” papar Alfiyah.

Hal tersebut, jelasnya, akibat pasar pelelangan ikan juga tutup, seperti di Muara Angke dan Muara Baru, dampaknya nelayan menjual hasil melaut tidak tidak lancar.

Kebaya bersama 15 anggotanya selama ini aktif memproduksi aneka produk yang menggunakan bahan baku daun mangrove, seperti dodol, sirup, kerupuk, jus, stik dan lainnya. Tapi, saat ini tidak ada pengunjung ke Muara Gembong.

Lebih lanjut, Alfiyah mengatakan tamu ke Muara Gembong biasanya rutin dari kalangan mahasiswa, pelajar untuk melakukan penelitian. Ada juga pencinta lingkungan dan pesepeda atau mereka yang hobi mancing jika di akhir pekan.

“Sekarang semua tidak ada, siapa yang mau beli jika pun produksi. Biasanya selain berjualan di lapak di Muaragembong, juga bukan stan di wilayah Kota dan Kabupaten, kondisi sekarang, blas mati kutu,” paparnya.

Kondisi parah tersebut, imbuhnya terjadi sejak dua bulan terakhir. Namun parahnya sebulan ini, tidak ada penjual sama sekali seperti bulan sebelumnya, masih ada yang datang, seminggu ada saja terjual.

Marlina, anggota Kebaya, mengakui kondisi sulit tersebut dan sangat berdampak bagi keluarganya. Karena usaha di Muaragembong selain berjualan hasil olahan ikan juga mengandalkan hasil tangkapan, tapi sekarang kondisi semua sulit.

“Saya berharap, PPKM ini bisa selesai agar biasa keluar masuk lagi, sehingga mereka mau berkunjung ke Muaragembong untuk wisata atau mau penelitian, sekaligus mencari tahu tentang Muara Gembong bisa datang seperti biasa,” pungkasnya.

Lihat juga...